
Alvin menghela nafasnya lega setelah keluar dari ruang kantor Mr. Robert. Rasanya tubuhnya hampir menjadi patung karena tegang.
Entah kenapa saat melihat ekspresi tegas dari Mr. Robert, perasaan takut dan segan berkumpul jadi satu dan membuat Alvin gugup sendiri.
Alvin memijit tengkuknya yang terasa pegal karena duduk terlalu tegap tadi. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu melangkah menuju lift yang tadi sempat ia naiki bersama si wanita cantik.
"Apakah kau di terima?" ujar wanita cantik yang mengantarkan Alvin beberapa waktu lalu begitu Alvin tiba di lantai dasar.
Alvin menganggukkan kepalanya disertai senyum bahagia. "Aku diterima."
"Baguslah." jawab wanita itu. "Kau beruntung sekali."
"Ya?"
"Biasanya akan ada seleksi lebih dahulu di sini bahkan sekedar untuk mencari pelayan. Selama ini Mr. Robert terlalu pemilih untuk mencari karyawan di klub ini."
"Benarkah begitu?"
Wanita cantik itu tertawa kecil. "Benar. Aku tidak berbohong."
__ADS_1
"Tapi bukankah klub ini memang butuh pelamar cepat?"
"Memang benar. Tapi hari ini saja sudah ada lima orang yang ditolak oleh Mr Robert."
Alvin membuat. "Sudah ada yang melamar sebelum aku datang?"
"Benar. Tapi hanya kau yang diterima. Aku pikir lebih baik kau bersyukur dengan wajah tampanmu itu."
"Kenapa begitu?"
"Jangan tersinggung. Tapi kau pasti di terima karena penampilanmu. Yah, Mr Robert hanya selalu menerima pegawai yang berpenampilan menarik. Hanya yang cantik dan tampan saja!"
"Mr. Robert selalu menerima pegawai yang berpenampilan menarik untuk menarik pelanggan dan membuat mereka senang." jelas wanita itu.
Alvin hanya menganggukkan kepala meski ia tak begitu mengerti dengan kalimat terakhir yang diucapkan wanita itu. Ia memilih pamit pada wanita itu, baru kemudian ia berlalu pergi.
Di sela langkahnya Alvin tampak mengerutkan dahinya. 'Membuat pelanggan senang? Apa maksudnya itu?' batin Alvin.
Tapi Alvin tak mau terlalu ambil pusing dengan hal itu. Yang jelas ia senang karena akhirnya mendapat pekerjaan.
__ADS_1
Begitu tiba di luar gedung klub malam itu, Alvin tampak terus tersenyum. Ia tidak menyangka akan mendapat pekerjaan secepat ini.
Rupanya tidak sia-sia ia memilih bolos kuliah hari ini. Ia bahkan mendapat pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi tanpa mengganggu jam kuliahnya.
"Terima kasih, Tuhan." ujarnya pelan menghela napasnya lega. "Aku tidak akan menyia-nyikan pekerjaan ini. Aku tidak akan membuat kesalahan seperti di tempat kerjaku yang sebelumnya."
Setelah itu Alvin kembali tersenyum. Ia merasa lebih tenang sekarang. Diam-diam Alvin kembali teringat alasan hidupnya yang masih berantakan adalah karena ia masih sedih karena kehilangan Karina. Ia memahami semua itu karena Karina adalah cinta pertamanya.
Dan sebenarnya, mau seburuk apapun Karina, gadis itu adalah seseorang yang pernah ada di hatinya dan tetap berjasa sebagai orang yang mengajarinya cara saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
Tapi mulai sekarang Alvin tidak perlu memikirkan gadis itu lagi, karena gadis itu sudah merusak segalanya. Cintanya, kepercayaannya, semuanya. Dan Alvin harus melupakan semua kejadian itu, ia benar-benar harus melupakan Karina.
"Mulai sekarang aku akan mencoba untuk melupakan sisa kenangan dari Karina dan fokus pada hidupku saja. Terus mengingatnya akan membuat hidupku semakin berantakan dan tidak tenang." gumam Alvin penuh tekat.
Setelah itu, Alvin kembali mengambil motornya yang sempat ia parkirkan di dekat warung tempat ia membeli minuman tadi.
Ia menstater motornya dan segera pulang ke rumahnya untuk bersiap memulai pekerjaan barunya.
Dan dalam perjalanan pulang, Alvin terus memikirkan bagaimana cara mengatur ulang hidupnya agar jauh lebih baik daripada saat ini.
__ADS_1
***