
Evelyn dengan cepat mendudukan dirinya dan menyandar ke kepala kasur.
"Kenapa ayah baru menghubungi sekarang?" tanya Evelyn kesal.
Terdengar suara Tuan Anderson yang terkekeh saat mendengar omelan anak perempuannya itu.
"Ayah baru menghubungimu tapi sudah harus mendapat omelan begini?" kata tuan Anderson, nadanya sedikit geli.
Evelyn menghela malas, "Tentu saja aku mengomel. Itu karena ayah terlalu buru-buru pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis. Bahkan tak mau menungguku pulang lebih dulu."
"Hei, ada apa ini? Bukankah biasanya kau tak masalah jika ayah tinggalkan sendirian?"
"Ya, memang. Tapi masalahnya, bulan ini kita kan belum bertemu sama sekali, Ayah. Harusnya kita bisa bertemu dan ngobrol lebih dulu. Tapi ayah harus pergi lagi selama beberapa bulan kedepan." ujar Evelyn lesu.
"Kau kan bisa datang untuk menyusul kesini, Eve?"
"Untuk saat ini aku belum bisa datang menemui ayah. Aku agak sibuk untuk sekarang." Evelyn menjelaskan. Tentu saja, Evelyn sangat ingin pergi menemui ayahnya sesegera mungkin. Tapi apalah daya, ia masih punya banyak sekali urusan di Jakarta.
"Ngomong-ngomong, bukankah kau pergi berlibur ke Bali. Lantas bagaimana liburanmu di sana?"
"Buruk." jawab Evelyn. "Membosankan juga. Aku kan sudah pernah berlibur ke Bali beberapa kali. Jadi tak terlalu menyenangkan lagi." jawab Evelyn santai.
__ADS_1
Tuan Anderson diam selama beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Bagaimana kalau kau menikah saja sayang. Seperti yang sebelumnya ayah katakan padamu." ujar Tuan Anderson lembut.
Evelyn menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan ayahnya itu. Ayahnya kembali membahas pernikahan, lagi.
"Ayah, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, kan? Aku tak akan menikah kecuali menemukan lelaki yang cocok." ujar Evelyn.
Tuan Anderson terkekeh.
"Ya, ayah tau kau akan menolak untuk membahas hal semacam ini."
"Lalu kenapa ayah malah membahasnya lagi sekarang?"
Evelyn tidak bisa menahan senyum kecil yang muncul di wajahnya.
"Jangan merasa bersalah begitu. Jujur saja, aku tidak kesepian, Ayah. Aku punya banyak teman disini. Ayah jangan khawatir. Aku bisa mengurus diriku sendiri.
"Tidak, kau tau bukan itu intinya," kata tuan Anderson.
"Lalu apa intinya?" Evelyn memperbaiki posisi duduknya dan bersandar di kepala ranjang. "Bukankah keinginan ayah adalah agar aku bahagia dan tak kesepian meskipun tanpa kehadiran ayah?"
__ADS_1
"Benar. Ayah hanya ingin memastikan itu." ujar tuan Anderson.
"Aku bahagia di sini ayah, sungguh. Aku sama sekali tidak kesepian disini."
"Ya, Ayah harap kau berkata jujur dan sungguh tak kesepian. Ayah tak ingin kau berbohong agar tidak membuat ayah khawatir."
"Tidak. Aku sungguh-sungguh, Ayah...." ujar Evelyn mantap.
"Baiklah...," kata Tuan Anderson menyerah saja, bicara dengan suara lembut, "Ayah akan percaya pada ucapanmu itu. Tapi tetap saja, ayah masih berharap kau memiliki kekasih yang bisa kau andalkan di sana."
Evelyn menarik napas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.
"Ayah, aku ini bisa melakukan apapun sendirian tanpa bantuan siapa-siapa" kata Evelyn. "Itu sebabnya aku belum membutuhkan lelaki, untuk saat ini."
Tuan Anderson terkekeh.
"Baiklah sayang, sepertinya ayah ada rapat dan haruś pergi. Bahagialah kau disana." pesan Tuan Anderson.
Evelyn mengangguk.
"Selamat tinggal ayah." ujar Evelyn dengan memutus panggilan telepon.
__ADS_1
***