
"Hei!" seru Evelyn dari balik jendela mobilnya yang terbuka.
Alvin menoleh dan membuka kaca helmnya.
"Hai?" Alvin menyapa balik.
"Berhenti dulu." teriak Evelyn lagi sambil sibuk mengendalikan stir mobilnya.
Alvin langsung menepikan motor yang ia kendarai diikuti Evelyn di belakangnya yang ikut menepikan mobilnya juga.
Setelah itu Alvin segera melepaskan helm-nya dan turun dari motornya. Untuk beberapa saat Alvin menatap mobil Evelyn dari tempat ia berdiri saat ini.
Gadis ini benar-benar kaya. Lihatlah! Mobilnya saja terlihat sangat mewah. Alvin mungkin tak akan sanggup untuk sekedar membeli ban-nya saja.
"Hei, kenapa melamun di situ?" seru Evelyn dari balik jendela mobilnya. Gadis itu belum turun ternyata.
Alvin tak menjawab. Ia lalu berjalan mendekat ke arah mobil Evelyn.
"Ada apa, nona? Kenapa anda meminta bertemu?" tanya Alvin sambil membungkukkan badannya, mengintip melalui jendela mobil Evelyn.
"Masuklah dulu." seru Evelyn lagi menunjuk pintu mobilnya dengan dagu.
"Masuk ke dalam mobil?" Alvin memastikan.
Evelyn mengangguk dan dengan cepat bergeser untuk membantu membuka pintu mobilnya untuk Alvin.
"Ayo, cepat masuk!" ujarnya sesaat setelah pintu terbuka. Alvin mengikuti perintah Evelyn dan segera masuk kedalam mobil.
"Ada apa, nona?" tanya Alvin sekali lagi pada gadis itu.
"Kau ikut aku makan siang!" ujar Evelyn. Entah apakah itu sebuah pertanyaan, ajakan atau gadis itu tengah memerintah Alvin saat ini, Alvin juga tidak begitu paham nada bicara gadis ini.
"Makan siang?" Alvin mengernyit.
Evelyn mengangguk mantap. "Ya! Kau akan menemani aku makan siang."
"Menemani anda makan siang?" gumam Alvin semakin mengerutkan dahinya bingung. "Oh, apakah nona datang kemari karena ingin mengajakku makan siang?"
__ADS_1
"Hm." Evelyn kembali terlihat mengangguk dengan santainya. "Aku sedang lapar sekarang."
Alvin melongo di tempatnya. Apa ini? Jadi ini adalah pekerjaan orang kaya ketika mereka bosan? Mereka membuang waktu mereka seperti ini. Ah, atau Evelyn sedang mengajaknya bercanda saat ini?
"Motormu akan di bawa oleh bawahanku nanti, tinggalkan saja di sini." ujar Evelyn lagi di sela kebingungan Alvin.
Tunggu dulu, jadi gadis ini serius dengan ucapannya?
Alvin mengangkat tangannya, untuk menatap jam di pergelangan tangannya.
"Apa nona tidak bekerja?" tanya Alvin
Evelyn menggeleng. "Aku tidak punya pekerjaan. Tapi biasanya jam segini aku pulang kuliah dan pergi berbelanja bersama teman-temanku." lanjutnya.
"Nona kuliah?"
Evelyn mengangguk. "Tentu saja. Universitas Bina Karya. Semester akhir."
Alvin terhenyak.
Dan itu bukan kampus yang cocok untuk Alvin, karena sepengetahuannya, biaya per semester di kampus Bina Karya itu saja sama dengan biaya kuliah Alvin selama empat semester di kampusnya ini. Bayangkan saja! Untuk biaya per semesternya saja sudah empat kali lipat dari biaya per semester di kampus Alvin(?)
"Ini kan sudah jam makan siang. Aku lapar dan aku ingin makan. Tapi aku ingin makan denganmu. Kau mau kan?" jelas Evelyn dengan ekspresi memohon di wajahnya.
"Tapi-"
"Ayolah, Alvin!" bujuk Evelyn.
Setelah berpikir untuk beberapa saat, Alvin memilih untuk mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, nona! Aku mau. Memangnya nona mau makan apa?" tanya Alvin kemudian.
"Bubur ayam."
"Hah?"
"Bubur ayam langgananmu." ujar Evelyn menegaskan ucapannya. "Tempatnya ada di perempatan jalan ini kan?"
__ADS_1
Alvin kembali melongo.
Bagaimana Evelyn bisa tau kalau dia punya langganan bubur ayam di perempatan jalan?
Evelyn menatap wajah Alvin dan sontak saja tertawa saat melihat ekspresi terkejut dari pemuda itu.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" Evelyn masih terkekeh.
Alvin tersenyum canggung. "Bagaimana anda-"
"Kau ingin bertanya bagaimana aku bisa tau tempat bubur ayam langgananmu?" potong Evelyn sambil terkekeh geli.
"Ya. Bagaimana nona bisa tau?"
Evelyn tak menjawab. Ia hanya tersenyum penuh makna sementara otaknya mengingat kembali saat ia membayar orang untuk mengikuti Alvin selama beberapa hari belakangan ini.
"Tentu saja aku tau!" ujar Evelyn kemudian tersenyum bangga.
"Hah?"
Alvin semakin bingung mendengar jawaban ambigu dari Evelyn dan membuatnya semakin merasa penasaran saja.
"Jadi mau atau tidak pergi menemaniku makan siang?" tanya Evelyn memastikan sekali lagi dengan tak sabar. Sebenarnya ia hanya mengalihkan pembicaraan saja.
"Ya, aku mau nona. Aku sudah menjawabnya tadi. Tapi motor ini akan kubawa kembali ke dalam kampus dulu."
"Bawahanku nanti bisa-"
Alvin menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku akan menitipkannya di parkiran kampus saja. Aku bisa mengambilnya lagi nanti sepulang makan siang."
"Ya sudah kalau begitu. Terserah kau saja." Evelyn menggedikkan bahunya acuh. "Kita kembali ke kampusmu dulu, kan?"
Alvin menggeleng. "Tidak, biar aku saja yang kembali. Anda tunggu disini. Aku akan kembali sebentar lagi."
Setelah mengatakan itu, Alvin segera turun dari mobil Evelyn untuk membawa motornya kembali ke kampus. Setelah itu barulah mereka menuju ke tempat bubur ayam langganan Alvin.
***
__ADS_1