Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
121


__ADS_3

Alvin hanya bisa melongo di atas tempat tidurnya sembari menatap layar ponselnya sesaat setelah Evelyn memutuskan panggilan.


Ia tampak mengerjapkan matanya beberapa kali. Tak percaya dengan apa yang ia alami.


Bayangkan saja, ia sedang tidur saat Evelyn tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan kalau akan datang ke rumahnya. Seperti mimpi saja.


"Dia akan datang kemari?" gumam Alvin tampak mengerutkan kedua alisnya bingung.


Haruskah ia percaya dengan telinganya?


Yah, meskipun terbukti bukan mimpi karena ia sudah memberi alamat rumahnya, Alvin tetap tak percaya kalau gadis itu akan datang untuk menemuinya.


Alvin tersenyum kecil lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur disebelahnya. Dengan cepat ia menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur.


Pemuda itu tampak bergerak dengan sedikit sempoyongan. Melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Jujur saja, Alvin hanya tak ingin terlihat buruk dimata Evelyn, karena sejak sore ia memang belum mandi karena badannya terasa meriang.


Alvin keluar dari kamar mandi lalu beralih ke lemari pakaiannya. Ia memutuskan untuk mengganti pakaiannya karena tak ingin Evelyn melihat dirinya yang tampak kurang segar.


"Ini Evelyn, penampilanku harus dalam kondisi yang bagus untuk bertemu dengannya." gumam Alvin sembari memeriksa penampilannya di cermin.


Dan setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu. Alvin mendengar suara pintu rumahnya diketuk.


Alvin buru-buru membuka pintu dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Evelyn yang tengah berdiri di hadapannya.


"Hai," sapa Evelyn ramah.


"Anda benar-benar datang?" ujar Alvin. Entah kenapa nada bicaranya terdengar amat senang.


Evelyn menatap Alvin beberapa detik, lalu menganggukkan kepala sembari tersenyum.


"Tentu saja." jawab Evelyn.


Alvin menoleh ke area sekitar rumahnya, tak ada siapun. Hanya mobil Evelyn yang terparkir dihalaman rumahnya.


"Tapi kenapa anda datang kemari?" Alvin bertanya agak bingung.


"Kenapa, tidak boleh?"


Alvin tersenyum kecil sebagai tanggapan atas jawaban itu. "Boleh, tentu saja."


Evelyn lalu mengangkat bingkisan yang ada di tangannya. "Ngomong-ngomong aku membawakanmu ini."


Alvin menatap bingkisan di tangan Evelyn.


"Ini banyak sekali." Alvin tersenyum ragu saat melihat barang bawaan Evelyn. "Apa ini?"


"Makanan untukmu. Ini untuk makanmu malam ini dan juga buah-buahan. Ada juga vitamin di dalamnya yang harus kau minum supaya cepat sembuh. Ambil ini!"


Alvin akhirnya meraih bingkisan itu bertanya-tanya dalam hati, kenapa Evelyn ini mau repot-repot membawa banyak barang seperti ini.


"Terima kasih. Ini pasti merepotkan. Oh ya, anda mau masuk?" tawar Alvin.


"Bolehkah?" tanya Evelyn.


"Tentu saja boleh." Alvin tersenyum dan membuka pintu rumahnya lebih lebar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Evelyn setelah berada di dalam rumah Alvin. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah Alvin. Tampaknya ia begitu penasaran dengan apa saja yang ada di sana.

__ADS_1


Alvin yang tengah meletakkan bingkisan ke atas meja langsung menoleh.


"Sudah lebih baik dari sebelumnya." Alvin tersenyum simpul melihat Evelyn yang tampak celingak-celinguk sembari menatap rumahnya.


Evelyn pasti heran melihat rumah Alvin yang tampak lebih kecil.


"Maaf, rumah saya terlalu biasa dan sangat kecil. Apa ini tak nyaman untuk dilihat?" Alvin bicara dengan senyum tak enak.


'Gadis ini pasti tak nyaman berada disini.' pikirnya.


Evelyn menyipitkan mata saat mendengar perkataan Alvin itu.


"Kau bicara apa? Besar atau kecil itu sama sekali tak masalah untukku. Aku hanya penasaran dan ingin lihat-lihat saja dulu." ujar Evelyn.


Evelyn lalu mendudukkan dirinya di sofa tunggal sementara Alvin duduk di sofa panjang.


"Tapi apa kau sudah memeriksakan diri ke dokter?" ujar Evelyn menunjuk Alvin yang menurutnya masih tampak pucat.


"Belum." Alvin menggelengkan kepala, "tapi aku sudah minum obat."


"Apa obat cukup membantu?"


"Lumayan. Sekarang sakit kepalanya sudah berkurang."


"Mau aku antar ke klinik saja?" tawar Evelyn.


"Tidak perlu. Ini cuma flu biasa. Mungkin besok akan sembuh."


Evelyn mengangguk paham.


"Aku membawakanmu makanan. Kenapa tidak dimakan?" Evelyn menunjuk bingkisan yang ia bawa dengan dagunya.


"Apa ini... anda yang masak?" Alvin bertanya ragu.


Evelyn terhenyak.


"Aku masak ini?" Evelyn menunjuk dirinya sendiri lalu buru-buru menggeleng, "Ah tidak, ini… sebenarnya aku membelinya dijalan tadi. Aku... tak bisa masak."


"Ah, begitu rupanya." Alvin mengangguk. Ingin menyudahi saja topik ini. Takut-takut Evelyn akan tersinggung dengan pertanyaannya.


Evelyn menatap Alvin beberapa detik sebelum tersenyum, "Ngomong-ngomong kau bisa masak?" tanya Evelyn tiba-tiba penasaran.


Alvin mengangguk ragu, "Sedikit."


"Kalau begitu kapan-kapan aku ingin mencobanya."


"Mencoba apa?"


"Masakan buatanmu. Itu pasti enak."


Alvin menunduk, malu.


"Biasa saja. Saya bisa membuatkan anda makanan. Apa anda serius mau mencoba masakan saya?"


"Tentu saja, aku ingin tahu bagaimana rasa masakanmu. Tapi aku tidak menyusahkanmu, kan?"


"Tidak sama sekali. Saya justru senang. Saya selalu berkhayal akan memasak untuk pasangan saya suatu hari nanti." ujar Alvin tersenyum membayangkan hal itu.


"Kalau begitu, siapapun yang akan jadi pasanganmu di masa depan pasti beruntung karena akan menikmati masakanmu setiap hari."

__ADS_1


Alvin tersenyum. "Ya, sebenarnya itu hanya harapanku saja. Sampai saat ini aku belum pernah memasak untuk siapapun."


"Benarkah, kalau begitu apalau aku akan jadi orang pertama akan merasakan masakanmu."


"Sejauh ini saya memang tak pernah memasak untuk siapapun."


"Itu mengejutkan. Lantas, apa menurutmu aku ini cocok jadi pasangan yang kau bicarakan itu?"


"Masalah itu-"


"Haruskah aku jadi pasanganmu saja agar bisa merasakan masakanmu? Atau haruskah kita menikah saja?" goda Evelyn tiba-tiba.


"Hah?" Alvin tampak tersipu dengan ucapan mengejutkan itu.


"Kau malu?" tanya Evelyn.


"Saya-"


Evelyn memajukan wajahnya lebih dekat pada Alvin. Entah kenapa melihat wajah malu dari pemuda ini membuatnya tertarik untuk semakin mendekat.


"Alvin, sebenarnya aku-"


Alvin bisa merasakan kehangatan napas Evelyn pada wajahnya.


Alvin mendongak untuk menatap wajah Evelyn yang hanya tiga puluh senti dari wajahnya.


Hati Evelyn merasa bahagia karena merasa malam ini akan jadi malam indahnya bersama Alvin. Mereka sudah semakin dekat sampai tiba-tiba…


Tok! Tok! Tok!


Mendengar itu, dengan cepat Alvin bergerak menjauh dari Evelyn.


"Ada tamu. Mungkin itu temanku." ujar Alvin.


"Sayang sekali." gumam Evelyn pada dirinya sendiri lalu memundurkan tubuhnya, menyandar ke sofa lalu dengan santai menyilangkan kakinya. "Bukalah dulu sepertinya tamumu menunggu."


Alvin hanya bisa tersenyum canggung pada Evelyn. Ia mengangguk kemudian bangkit dari posisinya menuju pintu.


Alvin membuka pintu dan membulat saat mendapati Karina sudah berdiri dihadapannya.


"Karina, sedang apa kau di sini?" ujar Alvin kebingungan.


Karina tersenyum.


"Semalam kau sakit. Aku masih merasa khawatir padamu. Aku datang ketempatmu bekerja tapi temanmu bilang kau sedang izin sakit. Jadi aku datang untuk menjengukmu."


Alvin terdiam.


"Boleh aku masuk?"


"Tapi-"


Tanpa menunggu jawaban dari Alvin, Karina segera melangkah masuk ke dalam rumah Alvin.


Begitu sampai ke dalam rumah, Karina yang tersenyum-senyum sontak mengerutkan alis saat melihat seorang wanita duduk di sofa.


Ia mendekat untuk melihat siapa wanita itu, sampai akhirnya senyumnya mendadak hilang seutuhnya dan berganti menjadi raut terkejut


"Kau!" seru Karina menunjuk Evelyn. "Sedang apa kau disini?"

__ADS_1


***


__ADS_2