Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
42


__ADS_3

Saat ini Alvin tengah menyendok makanan yang ada di dalam mangkuk di hadapannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dan tepat saat itu juga ia mendengar Dave yang berada di hadapannya mendesis kesal dan secara tiba-tiba membanting sendok makannya ke atas meja makan.


"Ah s!al! Aku kesal sekali." ujar Dave sambil mengepalkan tangannya dan menghantamkannya ke atas meja makan.


Alvin hanya melirik Dave tapi tak menjawab apapun. Lebih tepatnya, tak ingin menjawab apapun.


"Apa kau tidak kesal melihat itu, Vin?" ujar Dave dengan nada ketus.


Kembali tak ada jawaban dari Alvin.


"Cih, aku rasa gadis menyebalkan itu pasti sengaja melakukannya. Aku yakin kalau dia memang ingin membuat hatimu panas dan cemburu." Dave bicara lagi sembari melirik ke meja yang ada di sebelahnya.


Alvin yang saat ini masih fokus menikmati makanan di hadapannya hanya menoleh singkat ke arah yang di maksud Dave. Ia hanya menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan tenang.


Sementara itu, di dekat meja mereka terlihat Karina yang saat ini tengah asyik bermesraan dengan seorang pria yang Alvin masih ingat jelas bernama Steve. Pria itu adalah mahasiswa senior di kampus mereka yang mendorongnya waktu itu. Dan dia adalah lelaki yang sama yang sudah menjadi selingkuhan Karina.


"Mereka terlihat sangat menyebalkan." gerutu Dave sambil melengos. "Kau sungguh tidak kesal?"


"Aku merasa baik-baik saja." ujar Alvin tenang sambil melanjutkan kembali makannya.


Saat ini Alvin dan Dave sedang menikmati makan siang mereka di kantin kampus. Awalnya mereka makan dengan tenang sampai Karina datang bersama kekasihnya dan merusak suasana.


Gadis itu bahkan dengan sengaja memilih duduk di salah satu meja yang ada di dekat meja tempat Alvin makan. Dan bukannya makan, sejak tadi Karina justru malah bermesraan di dekat mereka untuk membuat Alvin cemburu.


Namun Alvin sendiri sejak tadi justru terlihat tidak peduli sama sekali dengan kehadiran gadis itu. Saat ini Alvin hanya sedang tidak ingin kehilangan nafsu makannya dengan memikirkan dua sejoli yang ada di dekat mereka itu.


Melihat ketenangan Alvin, Dave hanya melongo lalu berdecak kesal. "Bagaimana kau bisa sesantai ini saat melihat mantanmu tengah bermesraan bersama pria lain tepat di depan matamu. Aku saja sangat ingin menyiramkan jus jeruk ini pada wajah mereka." ujar Dave mengangkat gelas jus miliknya dengan raut kesal.


"Minum saja jus mu, Dave." ujar Alvin tenang lalu mengambil gelas jus itu dari tangan Dave dan meletakkannya kembali ke atas meja. "Dan jika kau kesal saat melihat mereka, ya tidak perlu di lihat, gampang."


"Bagaimana aku tidak melihat mereka. Suara tawa mereka bahkan terdengar sangat nyaring di sini." omel Dave.

__ADS_1


"Kau mau pakai earphone ku?" tawar Alvin membuat Dave melongo tak percaya.


"Lihat! Kau bahkan tidak merasa kesal atau marah." ujar Dave lalu kembali mengambil sendok yang sempat ia banting tadi. Ia lalu menarik piring makannya agar lebih dekat kemudian menyendok dan menyuap makanan itu ke dalam mulutnya dengan gerakan kesal.


"Aku tidak lagi punya hak untuk marah padanya. Dia bahkan sudah bukan siapa-siapa bagiku sekarang. Lagipula tidak ada untungnya jika kita melakukan itu." ujar Alvin sambil kembali menyendok makanannya ke dalam mulut.


"Ya, tapi maksudku di sini adalah kalian kan baru putus beberapa waktu lalu?"


"Benar, lalu?"


"Lalu kau bilang, hah? Lalu?" Dave menatap Alvin dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka kalau Alvin benar-benar santai menanggapi ini.


"Alvin, ini masalah bagi dirimu." Dave bersikeras.


"Baiklah, katakan padaku, dimana masalahnya, Dave?"


"Ini jelas masalah untukmu, Alvin. Kalian baru saja putus kan? Tapi lihatlah ini! Bagaimana bisa Karina menemukan penggantimu bahkan dalam waktu secepat itu." Dave berujar dengan ekspresi kesal di wajahnya.


"Karina itu cantik, Dave. Jadi sudah pasti dia bisa menemukan penggantiku dengan cepat. Itu hal wajar..." ujar Alvin tenang. Tak ada yang tahu kalau sebenarnya ada rasa perih di dada Alvin saat ia mengatakan kalimat itu.


Dave hanya mencibir lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Alvin. Kedua matanya menyipit, menatap Alvin dengan tatapan menyelidik. "Aku tau kalau ada yang aneh disini. Karina berselingkuh darimu. Sudah jelas."


Alvin tersenyum miris sambil menyendok makanannya. "Kita kemari untuk makan. Jadi cepat habiskan makanan kita dan pergi dari sini."


Dave melengos dan segera memperbaiki posisi duduknya dan kembali menyendok makanannya ke dalam mulut.


"Tapi Alvin… apakah kau tidak berencana untuk mencari pengganti Karina juga?"


Mendengar pertanyaan itu, gerakan makan Alvin langsung terhenti. Alvin terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.


"Aku belum memikirkannya." jawab Alvin.

__ADS_1


"Belum?"


"Ya,"


"Kenapa belum?" Dave bertanya penasaran.


"Hanya belum. Aku benar-benar belum memikirkannya."


"Kau harus memikirkannya, Alvin. Harusnya kau tunjukan pada gadis gila itu kalau kau bisa bahagia tanpanya." tegas Dave sambil melirik lagi ke arah Karina dan kembali membanting sendoknya.


Mendengar perkatan Dave barusan, Alvin lalu menunduk. Ia menatap makanan yang ada dihadapannya dalam diam. Detik selanjutnya Alvin hanya bisa tersenyum miris.


Satu hal yang tidak Dave ketahui, Alvin bahkan sama sekali belum memikirkan tentang 'mencari kekasih baru setelah Karina'.


Sejujurnya, saat ini Alvin masih memilih untuk fokus memulihkan rasa sakit hatinya. Ya, ia harusnya tidak perlu memikirkan apapun tentang wanita saat ini. Perbuatan Karina telah menimbulkan luka yang begitu dalam di hatinya.


Dan masalah 'mencari pengganti', Alvin bahkan merasa tidak percaya diri untuk mencari kekasih baru lagi setelah Karina. Terlebih lagi apa yang telah Karina katakan padanya waktu itu masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Saat dimana Karina bilang kalau ia sangat miskin untuk menjadi kekasihnya. Secara tidak langsung itu meruntuhkan harga diri Alvin dan juga membuat kepercayaan diri Alvin hilang begitu saja.


Alvin menghela pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. "Biarlah seperti ini dulu, Dave. Saat ini aku hanya ingin menjalani hidup normal. Sendirian" ujar Alvin.


Dave bisa melihat betapa terlukanya sahabat baiknya itu. Meskipun Dave tidak tau benar apa yang terjadi antara Alvin dan mantannya itu tapi satu hal yang bisa ia simpulkan. Karina pasti melakukan sesuatu yang begitu menyakitkan pada Alvin.


"Ya, baiklah. Aku mengerti." ujar Dave.


Tapi meskipun begitu, apapun yang menjadi keputusanmu dan juga pilihanmu nanti aku pasti akan tetap mendukungmu." ujar Dave tersenyum sambil menepuk sebelah bahu Alvin.


"Ya, jadi itu artinya mulai sekarang kau tidak perlu merasa kesal jika melihatnya bermesraan dengan pria lain. Karena aku bahkan baik-baik saja dengan semua yang dia lakukan." ujar Alvin tersenyum.


Dave hanya memutar bola matanya malas.


"Meskipun begitu aku masih tetap ingin menyiram wajah gadis sial@n itu dengan jus ini." lanjutnya sambil kembali mengangkat gelas minumannya.

__ADS_1


***


__ADS_2