
"Apakah enak?" tanya Evelyn sambil menatap Alvin yang baru saja menyuap satu sendok bubur ayam ke dalam mulutnya.
Alvin mengangguk mantap.
"Ini sangat enak, Nona. Makanan favoritku sejak SMA."
"Begitukah?"
"Ya, saya makan ini hampir setiap hari dulu."
Evelyn mengangguk singkat sebagai tanggapan lalu kembali menatap mangkuk yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Saat ini mereka berdua tengah duduk di dalam sebuah kedai kecil yang berada di pinggir jalan raya.
Mereka tengah menikmati bubur ayam dengan lahap. Ralat. Bukan mereka, hanya Alvin yang tampak menikmatinya. Sementara sejak tadi Evelyn hanya diam sambil memegang sendok di tangannya.
Alvin yang menyadari kalau Evelyn hanya diam langsung menghentikkan kegiatan makannya dan menatap Evelyn bingung.
Sejak tadi gadis itu hanya mengaduk-aduk bubur di dalam mangkuknya, tampak menatap ragu pada bubur ayam dimangkuk itu.
"Kenapa nona tidak makan buburnya?" tanya Alvin kemudian.
Evelyn tersadar dari lamunan kecilnya dan menatap Alvin dengan senyum canggung.
Bagaimana caranya menjelaskan pada pemuda di hadapannya ini. Mana mungkin ia secara terang-terangan mengatakan pada Alvin kalau dia ragu untuk memakan makanan favorit pemuda itu.
Ah, jangankan untuk memakan makanan yang seperti ini, melihatnya secara langsung saja baru hari ini.
"Apa tidak enak buburnya?" tanya Alvin lagi.
Evelyn tersenyum kecut. Bagaimana menjawabnya? Ia bahkan tak bisa mengatakan makanan ini enak atau tidak.
Jujur saja, Evelyn bahkan tidak tau bagaimana rasa makanan yang di hadapannya ini. Sebut saja Evelyn berlebihan, tapi Evelyn tidak pernah makan makanan seperti ini selama ia hidup.
Satu fakta, sejak kecil ia tinggal di luar negeri sampai umur empat belas tahun. Dan begitu sampai di Indonesia, tak pernah ada satupun dari teman-temannya yang mengajaknya makan bubur ayam.
"Nona tidak suka, ya?" tanya Alvin sekali lagi dengan raut tak enak di wajahnya.
Evelyn bisa melihat dengan jelas raut wajah Alvin yang berubah.
Pemuda itu pasti merasa tidak enak karena sudah membuat Evelyn harus makan di tempat seperti ini.
Evelyn buru-buru menggeleng.
"Suka! Jelas aku suka." jawabnya asal sambil menyuap bubur ayam itu ke dalam mulutnya.
Wajah Evelyn seketika berubah aneh.
'Oke, ternyata rasanya tidak seburuk dugaanku. Hanya saja agak sedikit aneh di lidahku.' batin Evelyn.
Alvin bisa melihat raut tak enak di raut wajah Evelyn. "Nona tidak perlu memakannya kalau tidak suka."
"Aku... suka." jawab Evelyn cepat.
"Wajah nona tidak mengatakan begitu." sindir Alvin sambil tersenyum.
Evelyn sedikit menunduk. Ini agak memalukan baginya. Harusnya ia tidak membuat Alvin berpikir kalau ia pilih-pilih makanan begini.
Sejujurnya, ia bukannya tak suka. Menurut Evelyn rasa makan ini hanya agak aneh saja dilidahnya.
__ADS_1
"Ini enak, kok!" ujar Evelyn. Yah, lagipula lidahnya juga bisa menerima rasa makanan ini.
Diam-diam Evelyn bertekat kalau mulai sekarang ia juga akan tetap memakannya atau mungkin akan mulai 'membiasakan' diri untuk memakannya.
"Aku suka. Tenang saja." ungkap Evelyn yang dibalas anggukan oleh Alvin.
"Baiklah kalau begitu." ujar Alvin sambil kembali menyendok buburnya.
Tentu saja Evelyn akan menyukainya. Jika ia pergi bersama Alvin, kemanapun dan apapun itu, ia akan menyukai segala yang pemuda itu suka. Karena hal ini bisa membuat Evelyn mempunyai alasan yang benar untuk terus bisa pergi kemanapun bersama Alvin.
Evelyn sontak tersenyum pada dirinya sendiri membayangkan akan semenyenangkan apa jika dia bisa terus bersama pemuda itu.
Tiba-tiba saja Evelyn teringat akan sesuatu. Ia lalu bangkit dari duduknya, membuat Alvin menatapnya heran.
"Ada apa, nona?"
"Aku baru ingat," ujar Evelyn tiba-tiba. "Tunggu di sini sebentar, oke."
"Tapi nona mau kemana?"
"Aku akan ke mobilku, ada sesuatu yang aku lupa."
Tak lama kemudian Evelyn kembali dengan membawa tas belanjaan yang entah berisi apa.
"Ini, milikmu. Aku kembalikan." ujar Evelyn sembari mengeluarkan sebuah jaket dari tas belanjaan itu.
Kedua alis Alvin sontak mengernyit heran saat melihat jaket itu. Tunggu dulu, kenapa jaketnya bisa ada pada Evelyn?
"Bagaimana bisa-
"Aku menemukannya di kamarku."
"Ini ada dikamarku. Pagi hari setelah kau mengantarkan aku saat aku mabuk jaket ini sudah ada di kamarku."Evelyn menjelaskan. "Ini jaket milikmu, kan?"
Alvin menganggukkan kepalanya setelah mengingat apa yang terjadi. Ia meletakkan sendok makannya lalu meraih jaket itu.
"Oh, benar. Aku yang memberikannya sendiri malam itu pada nona. Diparkiran klub malam, ya. Hehe. Bagaimana aku bisa lupa." ujar Alvin sembari terkekeh canggung.
Alvin merasa malu setelah melihat jaket ini lagi. Jaket ini membuatnya kembali mengingat peristiwa 'itu' lagi.
Tepat setelah ia memasangkan jaket ini pada tubuh Evelyn, gadis ini langsung menciumnya.
Sementara itu Evelyn tampak tersenyum kecut. Ia merasa kecewa sekali lagi. Alvin sempat mengatakan kalau dia lupa.
Bagaimana Alvin bisa melupakan apa yang dia lakukan hari itu? Apakah pertemuan mereka tidak sepenting itu sehingga mudah sekali dilupakan. 'Kenapa Alvin mudah sekali melupakan kenangan bersamaku, sih?' batinnya.
"Ngomong-ngomong terima kasih." ujar Evelyn kemudian.
"Ya?"
"Aku senang kau membantuku malam itu. Jadi, terima kasih. Dan juga, maaf karena sudah menyusahkan."
"Oh, iya, sama-sama. Tidak perlu dipikirkan lagi. Aku senang bisa membantu.."
Evelyn menghela napas.
Menatap lekat pada Alvin yang kini tengah memasukkan jaketnya ke dalam tas. Ia lalu menunjuk jaket itu dengan dagunya.
"Ngomong-ngomong, itu tak perlu di cuci lagi. Jaketnya sudah bersih. Aku meminta pelayan untuk mencucinya dahulu sebelum membawanya."
__ADS_1
"Ah, kalau begitu terima kasih banyak..." Alvin mengangguk dan tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
"Tapi kau baik sekali mau meminjamkan jaketmu untukku."
"Sebenarnya saat itu sudah malam. Pakaian nona terlalu tipis. Dan aku hanya tak ingin nona kedinginan, jadi aku meminjamkannya." jelas Alvin.
Evelyn tersenyum simpul melihat Alvin yang tampak begitu gugup. Ia tau Alvin pasti mengingat kejadian 'memalukan' itu.
"Begitu rupanya." jawab Evelyn mengangguk.
Mereka berdua kemudian lanjut memakan makanan mereka masing-masing.
Tak lama setelah itu Alvin mendorong mangkuk miliknya yang ternyata sudah kosong. Ia telah menghabiskan bubur ayam miliknya dan hanya tinggal menunggu Evelyn selesai.
"Aku yakin, nona tidak pernah makan bubur ayam sebelumnya, kan?" tebak Alvin sambil mengelap mulutnya dengan tisu yang di sediakan di atas meja makan.
Evelyn menghentikkan gerakan makannya dan tersenyum canggung pada Alvin, barulah kemudian menggeleng pelan.
"Sebenarnya ini adalah kali pertamaku makan makanan seperti ini."
"Kalau begitu kenapa anda malah ingin pergi untuk ikut makan siang di sini, bersamaku?" Alvin mengernyit.
"Itu karena... aku ingin."
Alvin tersenyum bingung. "Hah?"
Evelyn balas tersenyum kemudian meletakkan sendoknya.
"Aku hanya ingin makan siang denganmu." ujar Evelyn menjelaskan. "Sebenarnya setelah pertemuan kita sebelumnya, di balkon, aku merasa nyaman ngobrol denganmu. Dan aku ingin berteman denganmu."
Alvin tampak terkejut dengan perkataan terus terang itu. Namun tampak berbeda dengan Evelyn. Gadis itu tampak biasa saja, bahkan terkesan santai saat mengatakannya.
"Nona ingin berteman denganku?" Alvin menatap bingung. "Tapi kenapa?"
"Kenapa?" Kali ini Evelyn yang merasa bingung atas pertanyaan Alvin itu.
"Maksudku... bukankah anda bisa mencari teman yang bahkan lebih baik dariku? Lantas kenapa aku?"
"Apakah berteman dengan seseorang membutuhkan alasan?"
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu..." Evelyn menghela napas panjang, tampak berpikir sebentar. Ia lalu menatap Alvin untuk sejenak.
"Bukankah sudah ku katakan tadi, alasannya adalah karena aku merasa nyaman saat ngobrol bersama dirimu. Entah kenapa aku hanya ingin terus bersamamu."
Alvin termangu.
"Ingin bersamaku?"
Evelyn terkejut oleh kata-katanya sendiri. Ya ampun, harusnya ia tak berkata seperti itu. Alvin bisa salah paham karena ini. Kalimatnya seperti orang yang sedang menyatakan cinta. Ya, salahkan saja mulutnya yang tak singkron dengan pikirannya dan malah mengutarakan isi hatinya.
"Maksudku, aku ingin terus berteman bersamamu." Evelyn terkekeh canggung.
"Oh…" Alvin mengangguk paham.
"Jadi, bisakah kita terus bersama setelah ini?" tanya Evelyn lagi.
***
__ADS_1