
Setengah jam berlalu, Evelyn dan Daniel masih tampak berada di dalam ruangan vip. Mereka berdua mengobrol tentang berbagai hal termasuk tentanag Alvin yang mengira Daniel sebagai kekasih Evelyn.
Evelyn sendiri tak menyangka kalau Alvin akan mengira ia dan Daniel berpacaran. Memangnya apa yang Alvin lihat sehingga ia menyimpulkan hal konyol itu.
"Aku masih tak percaya dia menganggapmu sebagai kekasihku." Daniel terkekeh.
"Kau pikir aku percaya?"
"Kau dan aku, bagaimana bisa dia menilai kita punya ahubungan. Padahal kita tidak bermesraan sedikit pun tadi, bukan?"
"Lagipula kita sama sekali tak cocok. Kau tak cocok sama sekali untukku." ujar Evelyn menggelengkan kepalanya heran.
Mendengar itu, raut wajah Daniel berubah. Lelaki itu langsung menatap tajam Evelyn. "Apa maksudmu?"
"Apa? Aku kan bicara kenyataan."
Daniel mendengus kesal.
"Jangan bicara asal-asalan, Eve. Di sini justru kau yang tak cocok untukku. Kau itu sama sekali bukan tipe-ku."
Evelyn hanya terkekeh melihat raut wajah Daniel yang mulai kesal. "Ayolah, kau ini kenapa pemarah sekali. Lihat aku! Aku bahkan tak semarah ini saat kau menggodaku tadi."
"Itu karena ejekanmu jauh lebih menyebalkan dariku." jelas Daniel, kembali membuat Evelyn terkekeh. "Yah, siapa juga yang mau dengan gadis sepertimu. Lagipula aku ini memang terlalu tampan untukmu."
"Ck, tampan apanya?" gumam Evelyn ketus, memutar bola matanya malas. Ia lalu meletakkan gelas minumannya di atas meja, "Kau bahkan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Alvin."
"Hei, kenapa sekarang kau jadi membandingkan diriku dengan lelaki incaranmu itu." omel Daniel semakin merasa kesal.
"Aku bukannya membandingkan kalian berdua. Aku hanya bicara tentang kenyataan."
"Ini mulai menyebalkan, Eve. Kau mulai menyebalkan, kau tahu." Daniel melempar tissu yang ada di atas meja pada Evelyn.
Evelyn menghindar lalu tertawa senang melihat sahabatnya yang tengah cemberut. Ia menggelengkan kepalanya tak menyangka Daniel akan terbawa perasaan sebesar itu.
Setahu Evelyn, sahabatnya satu ini memang sensitif dan pemarah. Daniel juga tak suka jika seseorang membandingkan wajahnya dengan orang lain. Padahal ia dan Alvin pun punya tipe ketampanan yang jauh berbeda. Alvin lebih seperti pria asia dan oriental sementara Daniel punya darah barat.
Evelyn menatap Daniel santai. "Kau marah padaku?"
"Kau masih bertanya juga?"
"Baiklah, baiklah. Aku hanya bercanda, Daniel. Kau kan tau kalau kau itu sangat tampan. Aku bahkan sering memujimu, kau tidak lupa, kan?"
__ADS_1
"Tidak."
"Lihatlah, aku baru satu kali menggodamu tapi kau sudah kebakaran jenggot begitu."
"Tapi ada satu hal yang aku masih penasaran. "Daniel meraih gelasnya minumannya dan menenggaknya dengan gerakan kasar. "Kau serius menyukai pemuda itu?"
Evelyn menatap Daniel ragu. Bukankah Daniel sudah membahas tentang hal semacam ini sebelumnya.
"Aku serius. Kenapa memangnya?"
"Tak apa-apa."
"Hei, ada apa? Katakan saja padaku."
"Tidak." Daniel membuang muka. Lelaki itu tampak sedang menyimpan sesuatu. Itu terlihat jelas sekali. Hal itu sebenarnya membuat Evelyn sedikit heran. Ia tak pernah melihat Daniel menayakan hal-hal seperti seberapa seriusnya dia pada laki-laki.
Evelyn tersenyum lalu memajukan tubuhnya agar lebih dekat pada Daniel. "Tapi aku ingin tahu pendapatmu tentang semua ini."
"Pendapat tentang apa?"
"Tentang dia."
"Alvin, siapa lagi." jawab Evelyn kesal karena Daniel tak kunjung mengerti ucapannya.
Daniel tidak langsung menjawab pertanyaan Evelyn itu. Lelaki itu diam, tampak memikirkan sesuatu.
"Dia tampan, kan?" Evelyn tersenyum lebar.
Daniel masih tampak berpikir selama beberapa detik sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu. "Ya, dia tampan. Itu hal utama yang selalu kau cari dari lelaki yang ada di dunia ini."
"Benar. Tapi dia memang sangat tampan."
"Ya, aku setuju." Daniel mengangguk, "… tapi aku tetap tak setuju jika dia bersamamu. Dan aku juga berharap dia tidak bersamamu."
Ucapan Daniel itu membuat senyum Evelyn langsung memudar. "Kenapa?"
Daniel kembali diam beberapa detik. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari bungkusnya, menyelipkannya di jari tangan lalu menunjuk penampilan Evelyn dari atas hingga bawah. "Dia sama sekali tak cocok untuk gadis sepertimu."
"Tak cocok untukku?"
"Sudah kukatakan padamu kami sempat mengobrol beberapa saat di toilet. Di situlah aku benar-benar sadar, kau dan dia sama sekali tak cocok."
__ADS_1
"Ck, memangnya apa yang kau sadari dari obrolan kecilmu itu."
"Lelaki itu sungguh terlalu baik untukmu. Itu yang kusadari." jelas Daniel sambil memantik rokoknya dengan api dan mengepulkan asap ke udara.
Evelyn memundurkan tubuhnya hingga punggungnya terkena sandaran sofa, menatap Daniel dengan alis terangkat. "Apa sebenarnya maksudmu?"
"Menjauhlah darinya jika niatmu hanya ingin main-main dengannya. Itu maksudku!"
Charlotte menegakkan tubuhnya lalu menatap sahabatnya itu. "Apa?"
"Eve, coba kau lihat dirimu saat ini. Lihat kita. Kau dan duniamu. Dan juga orang-orang yang selama ini ada di sekelilingmu. Duniamu yang gemerlap dan penuh dengan senang-senang ini."
"Kenapa dengan duniaku? Apa yang salah dengan bersenang-senang."
"Itulah masalahnya. Kau hidup untuk bersenang-senang. Sementara dia hidup untuk bekerja keras."
"Kan sudah kukatakan kalau aku-"
"Kalau kau kaya. Itu yang mau kau katakan." tebak Daniel. Lelaki itu lalu menghela napasnya. "Ya, kau kaya raya. Memang benar. Tapi jika menurutmu uangmu bisa menyelesaikan masalah itu, lantas bagaimana dengan Alvin. Apa menurutmu itu tak akan menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki?"
Evelyn terdiam sebentar, lalu berdehem kecil. "Bukan itu maksudku, Daniel. Aku hanya ingin menjalin hubungan dengannya. Tak ada niat kesana."
"Oke, mungkin itu memang niatmu. Tapi Evelyn, biar aku ingatkan sekali lagi padamu. Di dunia ini ada beberapa hal yang tak akan sesuai dengan keinginanmu. Kau dan Alvin, dunia kalian itu sungguh jauh berbeda. Kau tak masalah jika Alvin orang tak mampu. Tapi bagaimana dengan Alvin sendiri? Apakah dia akan mampu menangani jika teman-temanmu menghinanya nanti?" sambung Daniel.
"Jangan main-main dengan hati orang, Eve. Terutama pada orang baik seperti Alvin. Jika kau hanya ingin bersenang-senang selama hidupmu, pergilah bersama lelaki yang sama liarnya sepertimu. Alvin bukan pria yang tepat untukmu. Laki-laki yang sama liarnya sepertimu banyak dan mereka menginginkanmu. Ajak saja mereka bersenang-senang "
"Aku sudah bilang aku serius dengannya. Jika masalahnya adalah bersenang-senang, aku bahkan bisa melakukannya dengan teman wanitaku."
"Apapun itu aku sedang mencoba mengingatkanmu." ujar Daniel menggedikkan bahunya santai lalu mengangkat tangannya. "Tapi karena kau telah ngotot memilihnya maka aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya berharap kau tidak akan memperlakukan Alvin dengan buruk."
"Ya, terima kasih atas saranmu. Tapi aku jamin, niatku pada Alvin bukan untuk main-main. Aku sungguh tertarik padanya."
"Kita lihat apa yang akan kau lakukan padanya nanti."
Setelah mengatakan itu Daniel kembali mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
***
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm
__ADS_1