Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
8


__ADS_3

Seorang gadis berambut kecoklatan kini tampak melangkah dengan santai melewati kerumunan orang yang lalu lalang di area lobi bandara.


Tangan sebelah kirinya menyeret koper sementara sebelah lagi sedang memainkan ponsel.


Gadis itu menghentikkan langkah kakinya sejenak. Ia meletakkan ponselnya di telinga, menghubungi seseorang.


Sembari menunggu, tangannya bergerak untuk melepas kacamata hitam miliknya yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung kemudian memasukannya ke dalam kantong jaket miliknya.


Beberapa saat menunggu, panggilan itu akhirnya tersambung.


"Halo! Ya, paman, ini aku Evelyn." ujar gadis itu. "Aku sudah sampai di bandara. Aku akan keluar sebentar lagi. Paman tunggu aku di depan saja." ujar gadis itu kemudian memutuskan panggilan telepon dan melanjutkan langkahnya.


Evelyn Anderson, nama gadis itu. Seorang gadis berwajah cantik berumur dua puluh satu tahun. Dan baru saja tiba di Jakarta beberapa menit lalu setelah menghabiskan beberapa waktu di Bali.


Ia adalah anak tunggal dari salah satu konglomerat terkenal yang sangat berpengaruh di negeri ini.


Mungkin akan ada yang bertanya kenapa anak konglomerat seperti Evelyn bisa pergi kemana pun sendirian. Apa orang tuanya membiarkanya hidup bebas tanpa bodyguard yang akan mengganggu? Dan apakah ia tak takut dikenali oleh media?


Faktanya, tak ada satupun orang yang tau siapa dia kecuali teman-temannya, beberapa orang pelayan dan dirinya sendiri.


Privasi adalah hal yang Evelyn junjung tinggi. Dan menjadi tidak dikenali adalah keinginan Evelyn sendiri.


Sejak ia berumur empat belas tahun ia sudah berani meminta pada ayahnya agar menjaga privasinya. Ia juga menolak untuk di sorot oleh kamera wartawan. Alhasil, seperti saat ini ia bisa pergi kemana pun dengan bebas semaunya.


"Selamat sore, Nona." sapa supir pribadi Evelyn setelah gadis itu masuk ke dalam mobil.


Evelyn menjatuhkan diri ke kursi mobil lalu melempar tasnya ke kursi sebelahnya dan menatap sang supir.


"Sore juga, paman." balasnya tersenyum.


"Bagaimana liburan anda, nona? Apakah seru pestanya di Bali?"


"Lumayan."


"Lumayan seru, ya?"


Evelyn mendecih, lalu menggeleng.


"Lumayan membuatku sakit kepala." ujar Evelyn, yang berhasil membuat sang supir terkekeh.


Sejujurnya bicara santai seperti ini adalah hal yang sangat biasa bagi mereka berdua.


Evelyn memanglah dekat dengan beberapa orang yang bekerja untuk keluarganya seperti kepala pelayan dan supir pribadinya. Itu karena mereka sudah bekerja pada keluarga Evelyn bahkan sejak Evelyn masih kecil.


"Kita pergi ke hotel yang biasa saja, paman." ujar Evelyn pada supir pribadinya.

__ADS_1


"Baik nona."


Evelyn memang memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menuju hotel lebih dahulu.


Ya, Evelyn lebih memilih untuk pergi ke hotel terdekat karena ingin cepat-cepat istirahat setelah menempuh perjalanan udara yang cukup melelahkan.


"Nona yakin ingin pergi ke hotel saja?" tanya sang supir sesaat sebelum menyalakan mesin mobil.


"Ya paman," ujar Evelyn sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Maksud saya, bukankah biasanya nona memilih untuk langsung pulang ke rumah saja."


"Hari ini aku sedikit lelah untuk menunggu sampai ke rumah. Paman tahu sendiri kalau jarak ke rumah masih terlalu jauh dan aku hanya ingin istirahat lebih cepat." jawab Evelyn tampak menatap layar ponselnya, sibuk mengetikkan sesuatu dengan benda itu.


"Baiklah, Nona." ujar sang supir memilih menurut saja. "Apa nona ingin kita berangkat sekarang?"


"Ya, paman. Semua barang-barangku sudah masuk bagasi kan?"


"Ya, nona. Nona hanya membawa satu koper saja, kan?"


"Ya. Ngomong-ngomong setelah mengantarkan aku, paman bawa saja semua barang-barangku langsung ke rumah. Aku tidak ingin repot membawanya ke hotel nanti. Tapi ingat, jangan langsung dibereskan karena aku sendiri yang akan membereskan barang-barangku nanti."


"Siap nona. Saya akan beritahu pelayan untuk itu. Begitu sampai di rumah saya akan langsung membawanya ke kamar nona lebih dulu nanti."


"Baiklah. Kita bisa jalan sekarang." ujar Evelyn.


"Tapi tolong jangan menyetir mobilnya terlalu lamban. Yah sebenarnya aku agak sedikit lelah sekarang. Aku ingin cepat istirahat."


"Ah, tentu saja, nona."


Sang sopir mulai menyalakan mesin lalu melajukan mobil keluar dari area bandara, menyusuri jalan raya menuju hotel yang dimaksud Evelyn.


"Anda bisa istirahat saja dulu, nona." ujar sang supir setelah beberapa saat mereka menempuh perjalanan.


"Tidak masalah paman, aku akan sekalian tidur di hotel saja nanti. Hotelnya juga dekat sekali, hanya sepuluh menit dari bandara."


"Baiklah, nona."


Saat di perjalanan, Evelyn tampak sedang berkirim pesan singkat dengan temannya.


Begitu selesai, Evelyn meletakkan ponselnya dan menghela napasnya perlahan.


Ia melirik ke luar jendela mobil, tampak menyaksikan mobil-mobil lain yang melaju melewati mobilnya. Gerimis mulai turun, perlahan-lahan mulai membuat kaca tertutupi air, mengaburkan pandangan Evelyn keluar mobil.


'Aku pergi liburan untuk menyenangkan hatiku. Tapi aku malah merasa bosan. Tak ada yang menyenangkan sama sekali.' batinnya.

__ADS_1


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Evelyn pergi berlibur seperti ini. Tapi entah kenapa liburannya kali ini terasa berbeda dari liburan yang sebelumnya, ini terasa hampa. Ia sudah seperti kehilangan hasrat untuk bersenang-senang.


Evelyn sempat berpikir mungkin saja ia butuh suasana baru. Pindah ke tempat yang lebih membuatnya nyaman atau bertemu orang baru yang akan membuatnya bahagia tapi ia memilih untuk melakukan itu nanti.


Ayahnya selalu membebaskan Evelyn jika ia ingin pergi kemanapun. Tak pernah ada sedikit pun larangan padanya jika ia ingin mandiri. Bahkan saat masih SMA Evelyn tinggal di rumah yang berbeda dengan ayahnya. Itu sebabnya Evelyn tumbuh menjadi gadis yang lebih mandiri.


Dan setelah ibunya meninggal barulah Evelyn memutuskan untuk kembali ke rumah sementara ayahnya memilih untuk lebih sering melakukan perjalanan bisnis untuk melupakan kesedihan atas kepergian ibunya.


Memikirkan ini membuat Evelyn langsung teringat tentang ayahnya. Bukankah ayahnya bilang akan pulang pada minggu-minggu ini.


Evelyn lalu kembali menolehkan pandangan pada supir pribadinya yang tampak sedang fokus menyetir.


"Apa ayahku sudah pulang dari Singapura, Paman?" tanya Evelyn pada sang supir.


"Ya, Nona. Tuan besar datang dua hari lalu, pada malam hari, tapi beliau sudah pergi lagi."


"Pergi lagi, kapan?"


"Tadi pagi, Nona."


"Dia tak menungguku?"


"Sepertinya tuan buru-buru, Nona. Soalnya pagi-pagi sekali tuan Besar sudah bangun dan meminta pelayan untuk mengemasi semua keperluannya."


"Begitu rupanya." Evelyn mengangguk paham. "Apa kali ini ayahku mengatakan akan pergi kemana?"


"Seingat saya tuan Besar mengatakan akan pergi ke Amerika, Nona."


"Amerika?"


"Ya, nona."


"Pantas saja aku tidak bisa menghubunginya sesampainya di bandara tadi. Dia pasti sangat sibuk. Aku bahkan belum bertemu dengannya tapi dia sudah pergi lagi."


"Beliau minta maaf karena tidak bisa bertemu anda. Tapi tuan sempat menitipkan pesan kalau perjalanan bisnis kali ini akan sangat lama dan mungkin saja bisa pulang setelah tiga bulan."


"Ya ampun." Evelyn menghela lelah. "Ayah benar-benar mencari cara untuk melupakan kesedihan atas kepergian mama."


"Benar nona."


Sang supir tampak memasang raut sedihnya.


"Oh iya Nona, tuan Besar bilang nona bisa menyusulnya ke Amerika nanti. Karena tiga bulan itu bukan waktu yang sebentar kalau dijalani. Tuan tidak ingin nona merasa kesepian karena tuan yang lebih memilih pekerjaanya."


"Ya, aku akan menyusulnya nanti kalau libur kuliah."

__ADS_1


***


__ADS_2