Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
6


__ADS_3

"Ya, Karina adalah pacarku!" ujar lelaki itu dengan nada angkuh.


Mendengar pengakuan mengejutkan dari lelaki bertubuh kekar itu sontak saja membuat mata Alvin semakin membulat.


"Kau bilang Karina adalah pacarmu?" Alvin bertanya dengan tatapan tak percaya.


"Benar."


"Jangan bicara omong kosong! Itu jelas tidak mungkin karena Karina adalah pacarku. Bagaimana bisa dia menjadi pacarmu?"


Lelaki bertubuh atletis itu tertawa kecil saat mendengar pertanyaan konyol yang baru saja keluar dari mulut Alvin.


"Aku duga kau pasti tidak tau kalau saat menjalin hubungan denganmu, di saat yang bersamaan Karina juga menjalin hubungan denganku."


"Apa?"


"Ck, ck, ck, kasihan sekali. Kau tak tahu kalau selama ini Karina sudah berselingkuh darimu?" ujarnya.


Mendengar itu kedua mata Alvin langsung beralih pada Karina. Ia menatap kaget pada mantan kekasihnya itu.


"Karina! Apa yang dia katakan barusan benar? Kau… apa kau sudah berselingkuh dariku?"


Karina tak menjawab. Gadis itu tampak memijit pangkal hidungnya.


"Karina, aku bertanya padamu. Apa benar kau mengkhiantiku?"


"Ya, yang dia katakan memang benar. Aku memang mendua. Kenapa? Kau tak terima?" jawab Karina pada akhirnya.


"Karina, kau-"


Karina melipat kedua tangannya di depan dada dan menaikkan sebelah alisnya, menatap Alvin dengan datar kemudian menghela.


"Baiklah, biar aku perjelas saja semuanya disini. Dia ini Steve! Mahasiswa tingkat lima. Dia senior kita di kampus dan kuliah di jurusan yang sama denganku. Dan ya! Aku memang sudah memilih untuk berselingkuh darimu. Sudah jelas, kan?"

__ADS_1


"Kenapa kau berselingkuh dariku?" Alvin bertanya dengan lirih.


"Astaga, ini lucu sekali." ujar lelaki bernama Steve itu sembari tertawa renyah.


Steve tampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku pemuda di hadapannya ini. Bukankah pertanyaan yang diajukan Alvin adalah pertanyaan konyol.


"Karina sayang, kau dengar pertanyaan konyol macam apa yang baru saja keluar dari mulut pemuda kurus ini?" ujar Steve dengan senyum mengejek. "Dia bertanya alasanmu berselingkuh."


Karina mengangguk mengiyakan, tersenyum pada lelaki atletis itu kemudian menatap Alvin dengan dingin.


"Aku mendengarnya dengan jelas, Steve. Dan bukankah sudah pernah aku bilang padamu kalau dia ini sangat bodoh!" ujar Karina.


Alvin bergerak hendak mendekat pada Karina namun langkahnya terhenti saat melihat gadis itu tiba-tiba merangkul lengan milik lelaki bernama Steve itu.


Dengan lirih Alvin menatap lengan Karina yang melingkar di lengan Steve. Alvin menghela kemudian menatap Karina. "Sudah berapa lama kau mengkhianatiku?"


"Kami sudah pacaran dua bulan. Semua teman-teman Steve juga tahu." ujar Karina memasang raut angkuh.


Alvin tertawa pedih.


Melihat semua kelakuan Karina saat ini membuat hati Alvin terasa amat perih.


Jantungnya serasa di tusuk dengan sesuatu yang sangat tajam hingga ia merasa sakit tiada tara setelah mendengar ucapan dari mantan kekasihnya ini.


Steve mendecih. "Astaga, hal bodoh macam apa lagi yang baru saja di lontarkan pemuda ini pada kita, sayang? Dia sungguh melow."


Steve menatap Karina sebentar kemudian beralih pada Alvin. Matanya menatap pemuda di hadapannya itu sambil tersenyum mengejek.


"Jangan dengarkan dia, Steve! Kau tahu, karena sifat bodohnya itulah yang menjadi penyebab aku sangat tidak betah menjalani hubungan dengannya. Dan aku benar-benar tidak mau memiliki hubungan apapun lagi dengannya sekarang."


"Bukankah dia pintar saat di kampus? Itu yang kudengar dari banyak orang." tanya lelaki itu pada Karina. "Dia kan terkenal karena kepintarannya?"


"Ya, untuk bidang pendidikan dia memang pintar. Tapi untuk urusan hati, dia memang sangat bodoh."

__ADS_1


Karina lalu menghela pelan.


"Kau tau, sayang? Selama ini aku merasa pacaran dengan anak kecil. Dia benar-benar seperti bocah." Karina merengek pada lelaki berbadan tegap itu.


"Kau benar sayang!" Steve melirik Alvin dengan malas.


"Di kampus dia memang sering mendapat julukan mahasiswa cerdas. Tapi aku tidak menyangka jika di dunia ini aku akan bertemu dengan lelaki yang bodoh untuk masalah percintaan seperti dia."


"Oke, sekarang aku paham alasan kenapa kau sangat ingin meninggalkannya." lanjut Steve lagi.


"Diam kalian!" bentak Alvin nyaring.


Alvin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia merasa sangat kesal karena terus di sebut bodoh berkali-kali seperti itu.


"Aku tidak bodoh." sambung Alvin kesal.


Steve menyeringai.


"Wow! Lihat ini, setelah ingin menangis beberapa saat lalu, dia sudah bangkit. Dia bahkan sudah berani membentakku." ujar Steve


Steve menatap Alvin dengan tatapan tajam. "Kau berani padaku, hah?"


"Berani? Ck, jangan hanya karena badan besarmu itu kau pikir aku takut padamu!" tantang Alvin balik.


Rahang Steve mengeras, "Bocah ini cukup berani rupanya."


"Aku tidak takut padamu!" ucap Alvin dengan nada yang di tekan.


Alvin kemudian bergerak maju dan mencoba memukul Steve. Namun gerakannya terhenti saat Steve dengan gesit menahan kepalan tangannya itu.


"Jangan menantangku, bocah!" ujar Steve kemudian menghempaskan tangan Alvin begitu saja. "Kau bahkan tidak bisa memukul dengan benar!"


Steve lalu bergerak maju dan mendorong tubuh kurus Alvin hingga pemuda itu langsung tersungkur ke atas tanah.

__ADS_1


***


__ADS_2