Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
135.


__ADS_3

Pagi ini Alvin sedang menunggu bis di halte yang berada tak jauh dari rumahnya. Ia memutuskan untuk pergi ke kampus menggunakan bis karena motornya masih berada di bengkel. Ia tak punya cukup waktu untuk mengambilnya.


Alvin melihat kearea sekitar, bertanya-tanya kapan bis yang akan ia naiki muncul. Alvin menghela sembari menyandarkan punggungnya pada kursi halte, mulai lelah menunggu.


"Kenapa lama sekali datangnya. Aku bisa terlambat tiba ke kampus kalau begini." gumam Alvin sembari menatap jam di layar ponselnya dengan raut gelisah.


Alvin melirik seorang lelaki tua penjual minuman yang tengah duduk menunggu pembeli di dekat halte itu.


"Permisi, jam berapa biasanya bis akan datang?" ujar Alvin melangkah mendekat ke penjual itu.


"Kau mau pergi ke jalur mana, Nak?" Penjual itu bertanya balik.


"Aku menuju ke Jalan Nusa Dua. Saya sudah sepuluh menit disini tapi tak ada bis yang datang." jelas Alvin menatap lelaki tua itu penasaran.


"Sayang sekali, Nak. Bis-nya sudah lewat dua puluh menit lalu. Kalau kau mau, kau bisa menunggu sekitar lima belas menit lagi barulah kemudian bis selanjutnya akan datang."


"Ah, aku terlambat rupanya " gumam Alvin. Tubuhnya langsung terasa lemas mendengar penjelasan itu. Ya, kalau tau begini harusnya ia datang lebih pagi.


Penjual itu menatap Alvin dari atas ke bawah, seolah merasa heran tentang sesuatu.


"Apa sebelumnya kau tak pernah naik bis, anak muda?" tanya penjual itu heran.


Alvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari tersenyum canggung. "Sebenarnya ini hari pertama aku naik bis, Pak."


"Pantas saja sampai tidak tau jam berapa bis-nya berangkat." ujar penjual itu manggut-manggut paham akan situasi. "Kau bisa menunggu bis selanjutnya datang."


"Terima kasih, Pak. Tapi saya rasa tak akan sempat kalau harus menunggu lagi. Saya naik ojek saja." ujar Alvin tersenyum simpul.


Penjual itu mengangguk. "Baiklah."


"Saya permisi." ujar Alvin.


Alvin langsung melangkah meninggalkan halte bis itu, menuju ke pangkalan ojek yang tak jauh dari tempat ia berada saat ini.


Tak akan sempat untuknya kalau ia ingin memesan ojek online. Ia harus menunggu sampai ojek itu datang lebih dulu. Jadi ia memutuskan untuk menggunakan ojek pangkalan saja.


Alvin menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak tahu hal semacam ini akan terjadi. Jika sejak tadi ia jalan kaki mungkin sudah sampai setengah jalan menuju kampusnya.


Tapi tak ada waktu bagi Alvin mengeluhkan apapun lagi saat ini. Ia harus bergegas kalau tak mau terlambat sampai di kampus.


Dan saat itu juga tiba-tiba saja ponsel Alvin bergetar, seseorng meneleponnya. Alvin menatap ponselnya. Itu panggilan dari Dave.


Alvin dengan cepat menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menempelkannya di telinga.


"Apa?" tanya Alvin.


"Kau dimana? Tidak biasanya kau belum datang ke kampus jam segini. Apa terlambat? Kau sudah berangkat kuliah atau belum?" sembur Dave.

__ADS_1


"Aku sedang di halte."


"Halte bis?"


"Benar."


"Sedang apa kau di halte?" Dave terdiam sebentar sebelum kembali bicara. "Kau mau kuliah naik bis?"


"Ya, semacam itu." jawab Alvin menggaruk pipinya yang tak gatal. Situasi yang terjadi cukup membuatnya frustasi sendiri. "Tapi aku ketinggalan bis. Jadi aku harus naik ojek sekarang."


"Hari yang sial rupanya." ujar Dave terkekeh. "Lagipula dimana motormu? Kenapa kau harus naik bis?"


"Motorku masih di bengkel. Ada masalah kemarin, kau lupa?" jelas Alvin.


"Ah, benar juga. Bagaimana aku bisa lupa saat mantan terindahmu itu mengantarkan dirimu waktu itu." Dave menyindir sahabatnya.


"Aku hanya tak sempat mengambilnya saja. Aku akan mengambil motorku nanti." Alvin mengabaikan sindiran Dave.


"Kalau begitu cepatlah datang. Dosen pertama tak suka kalau mahasiswanya datang terlambat." pinta Dave.


"Oke, oke." jawab Alvin.


Alvin memutuskan sambungan telepon kemudian melanjutkan langkahnya, tapi ponselnya kembali berdering.


Ini pasti Dave lagi.


"Apalagi? Kalau kau terus menghubungiku begini aku tak akan pernah sampai ke kampus." omel Alvin tak sabaran.


"Alvin?"


Alvin terhenyak mendengar seruan lembut itu.


Itu suara wanita. Alvin mengerutkan alis. Ia menatap layar ponselnya dan meruntuki dirinya sendiri saat membaca nama 'Evelyn' terpampang di layar.


"Oh, hai?" sapa Alvin dengan nada canggung.


"Kenapa kau marah-marah padaku?" tanya Evelyn dengan nada bingung.


"Tidak. Aku tidak marah. Itu karena tadinya aku pikir anda temanku yang sedang usil. Maaf karena sudah membentak."


"Tidak masalah. Ngomong-ngomong kau sedang dimana? Kenapa aku mendengar suara ramai kendaraan?"


Pertanyaan Evelyn itu membuat Alvin sadar kalau ia harus melanjutkan langkahnya menuju tempat pangkalan ojek berada.


"Aku dijalan sedang menuju ke pangkalan ojek." jawab Alvin kembali melajutkan langkahnya.


"Ojek? Kau tidak bawa motor?"

__ADS_1


Diam-diam Alvin merasa lelah sendiri karena harus terus menjelaskan situasi semacam ini.


"Sebenarnya motorku ada di bengkel. Aku akan mengambilnya nanti siang sepulang kuliah nanti."


"Kau mau aku jemput saja?" tawar Evelyn tiba-tiba.


"Tidak perlu. Sebentar lagi aku akan sampai ke pangkalannya. Terima kasih tawarannya." Alvin dengan cepat menolak ajakan itu. "Tapi kenapa anda menelepon? Apakah ada yang ingin dikatakan?"


"Hm... jadi begini... sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang bersama nanti. Bisakah?" ujar Evelyn dengan nada antusias.


"Makan siang?" Alvin berpikir apakah dia punya urusan lain siang ini.


"Kau sibuk?"


"Ah, tidak. Aku tidak sibuk. Aku akan datang. Anda kirimkan saja alamatnya."Alvin menyetujui ajakan itu bahkan tanpa berpikir panjang lagi. Pergi bersama Evelyn itu anugerah. Ia tak boleh menolaknya.


"Tapi motormu masih di bengkel, kan? Begini saja. Aku bisa datang untuk menjemputmu nanti."


"Tidak. Anda tidak perlu menjemput. Aku akan pergi ke sana naik ojek saja nanti."


Mendengar penolakan itu, Evelyn terdiam selama beberapa detik.


"Apa kau yakin?" tanya Evelyn ragu.


"Ya, yakin sekali. Lagipula itu bukan hal sulit, kan?" ujar Alvin.


Evelyn terkekeh, "Kalau begitu aku akan kirimkan alamatnya padamu nanti."


"Aku tunggu." jawab Alvin tersenyum.


"Emm.. Alvin." Ujar Evelyn lagi.


"Ya, Nona?"


"Akan sangat menyenangkan bertemu denganmu siang nanti," kata Evelyn padanya.


Alvin terkejut dengan ucapan Evelyn itu, tapi kemudian ia tersenyum simpul.


"Aku juga." kata Alvin membalas dengan suara pelan. "Aku juga senang akan bertemu dengan anda nanti..."


Setelah Alvin mengatakan itu, Evelyn langsung mematikan sambungan telepon. Sementara Alvin sendiri tengah tersipu sembari menatap layar ponselnya.


"Apa yang kulakukan? Kenapa aku malah senyum-senyum tak jelas?!" Alvin tiba-tiba tersadar.


Ia langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum kemudian melihat ke arah pangkalan ojek di depannya.


"Untung saja ojeknya masih ada."

__ADS_1


***


__ADS_2