
"Apa kau bilang?" pekik Ziva.
"Aku menciumnya."
"Kau menciumnya?" Ziva berujar nyaring sembari memelototkan matanya pada Evelyn.
Ziva benar-benar terkejut dengan segala hal yang di katakan oleh gadis di hadapannya itu. Evelyn baru saja selesai menceritakan segala kejadian yang terjadi saat dirinya tengah mabuk semalam.
"Jangan berteriak, Ziva!" protes Evelyn sambil menggosok telinganya karena tak tahan mendengar teriakan Ziva barusan.
"Apa kau benar-benar mencium pelayan itu? Bibirmu dan bibirnya…" tanya Ziva lagi, mengacuhkan perkataan Evelyn sebelumnya.
Sebuah anggukan didapatkan dari sahabatnya itu, membuat Ziva langsung menggelengkan kepalanya tak percaya, sudah jelas.
"Kau pasti sudah gila, Eve?" ujar Ziva bergerak mundur, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, memasang tampang frustasi.
Sementara itu Evelyn hanya bisa tersenyum masam pada sahabatnya itu.
"Itulah yang juga aku pikirkan sejak tadi pagi. Aku juga berpikir kalau aku pasti sudah gila." ujar Evelyn lalu tertawa hambar.
"Ya ampun. Tiba-tiba aku merasa haus." ujar Ziva sambil menyeruput minuman miliknya dengan gerakan kasar.
Evelyn yang melihat betapa terkejutnya Ziva hanya bisa menggaruk tengkuknya canggung sementara kedua matanya tetap menatap Ziva.
"Aku mabuk berat saat itu, oke."
Mendengar alasan itu Ziva melengos. "Itu alasan klise."
"Tapi aku memang mabuk." ujar Evelyn nyaring, ia jelas tak terima.
Suara Evelyn membuat orang-orang yang ada di dekat mereka seketika menoleh. Hal itu langsung menyadarkan Evelyn. Ia lalu menolehkan kepalanya, melihat sekelilingnya. Setelah tersenyum canggung pada orang-orang di sekitarnya itu Evelyn kembali menatap Ziva.
"Kita berdua baru saja membuat kegaduhan di tengah orang yang sedang makan." bisik Ziva membuat Evelyn terkekeh.
Ya, saat ini mereka berdua memang tengah menikmati makan siang di sebuah restoran mewah yang ada di dekat tempat kerja Ziva.
__ADS_1
Beberapa saat setelah berhasil mengingat tentang hal apa yang terjadi padanya semalam, Evelyn tak tahan untuk segera memberitahu Ziva. Dan masih di sela rasa terkejutnya, Evelyn buru-buru menghubungi Ziva dan mengajak gadis itu bertemu untuk menceritakan segala kejadian yang terjadi.
Alhasil, setelah mendengarkan segalanya, Ziva kini hanya bisa melongo. Gadis itu menatap tak percaya pada Evelyn. Ziva tahu jelas Evelyn suka 'mencicipi' para pria, tapi bukankah ini adalah sesuatu yang terlalu ekstrem?
Ziva menatap ke area sekelilingnya untuk beberapa saat, barulah kemudian mendekatkan tubuhnya pada Evelyn.
"Lalu?"
"Lalu apanya?" Evelyn mengernyit bingung.
"Lalu bagaimana rasanya?"
Evelyn menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana apanya? Rasanya apa, maksudmu?"
"Bibir dari pelayan itu, tentu saja. Memangnya apalagi? Bukankah kau bilang kau menciumnya. Lalu bagaimana rasa bibirnya? Apa bibir pemuda itu terasa nikmat?" Ziva mencoba untuk memperjelas pertanyaannya. "
Mendengar pertanyaan itu buru-buru Evelyn memukul lengan sahabatnya itu dan menatapnya dengan ekspresi kesal. "Apa-apaan sih kau ini. Apa yang kau bicarakan!"
Ziva sontak tertawa renyah. Ia bisa melihat wajah Evelyn yang sudah tampak memerah. Entah kenapa Ziva yakin kalau saat ini Evelyn pasti merasa sangat malu.
Evelyn mendengus. "Jangan bercanda. Aku rasa kau hanya sedang membicarakan dirimu sendiri. Kau pasti juga menyukainya."
"Ya, aku tidak akan munafik. Dia baik, tampan dan jujur. Dan aku menyukainya." ujar Ziva terus terang. "Tapi aku sudah punya pacar, kalau kau lupa."
"Dan aku juga, aku sedang menjalin pendekatan dengan seseorang."
"Seseorang?" Ziva kemudian ia berdecih sinis. "Cih, jangan membuat kebohongan publik. Tidak ada yang disebut pendekatan bagimu, Eve. Itu tidak ada dalam kamus hidupmu. Mereka semua... maksudku para pria itu, mereka hanyalah sebuah permainan untukmu."
"Kau bicara seolah aku ini gadis yang suka mempermainkan pria."
"Bukankah memang begitu?"
"Aku tidak seburuk itu, Ziva"
"Ah, benarkah?"
__ADS_1
"Ya, aku tidak berbohong saat mengatakan kalau aku memang sedang pendekatan dengan seseorang. Dia seorang anak pejabat negara."
"Baiklah." Ziva mengibaskan tangannya. "Tapi aku yakin kalau kau pasti akan meninggalkan lelaki itu dalam waktu singkat. Sama seperti mantan-mantan yang sudah kau campakan itu."
"Entahlah, Ziva…"
"Eve, kau tak bisa membohongi aku. Bukannya aku tak tahu kalau kau menerima mereka hanya untuk bermain-main saja."
Evelyn sebenarnya setuju dengan apa yang Ziva katakan barusan. Memang benar ia tak serius tentang pendekatannya ini.
"Kau benae, Ziva." Ia menghela napasnya pelan. "Aku bahkan juga tidak tau akan sampai mana hubunganku dengan lelaki yang ku dekati kali ini."
"Sudah kuduga." Ziva tersenyum sinis. Ia tahu Evelyn bukanlah gadis yang cepat puas tentang sesuatu.
"Tapi tunggu dulu, Eve. Aku ingin membahas kembali pelayan klub malam itu."
"Ada apa dengannya?"
"Kau bilang sebelumnya kau tanpa sengaja menabraknya kan?"
"Hampir."
"Ya, baiklah. Hampir." Ziva memutar bola matanya malas. "Selain itu, kau sudah mencium bibirnya tanpa izin, kan?"
"Hm, ya. Dan itu terasa sangat memalukan untuk aku ingat-ingat lagi."
Ziva terkekeh dan memajukan tubuhnya lebih dekat pada Evelyn.
"Dia sudah membantuku mengantarkanmu pulang semalam." ujar Ziva. "Bukankah itu artinya selain kau berhutang budi padanya, kau juga berhutang dua permintaan maaf."
Evelyn mengangguk pasrah "ya, kau benar! Aku belum minta maaf tentang kecelakaan itu tapi malah berbuat kesalahan yang lain. Aku harus minta maaf padanya atas segala yang sudah ku perbuat."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kau harus segera pergi menemuinya."
***
__ADS_1