Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
87


__ADS_3

"Merasa lebih baik?" tanya Dave saat ia melihat Alvin yang baru saja terbangun dari tidurnya, tengah mengucak matanya.


Alvin menoleh, menatap Dave yang tampak fokus membaca buku ditangannya. Alvin menengok ke sekeliling, melihat perpustakaan sedikit lebih sepi dari sebelumnya.


Alvin mengusap wajahnya kasar, "Berapa lama aku tertidur?"


"Satu jam."


"Satu jam?"


"Hm." Dave yang tengah membaca buku itu hanya mengangguk, tanpa menoleh. Sementara itu mata Alvin langsung membulat sempurna.


"Sial. Kenapa tak di bangunkan, sih?" Alvin buru-buru menarik sebelah tali tasnya, hendak berdiri namun di tahan Dave.


"Kau ini main percaya saja. Aku berbohong." Dave hanya bisa terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya tak percaya betapa bodoh sahabatnya ini.


"Hah?"


"Cek jam tanganmu."


Alvin langsung mengecek jam tangannya. "Lima belas menit?"


"Ya, kau hanya tidur selama lima belas menit!" jawab Dave terkekeh.


"Benarkah?" tanya Alvin tak percaya.

__ADS_1


Alvin hanya bisa melongo menatap Dave yang baru saja mengerjainya, sementara itu Dave masih tertawa sembari meletakkan bukunya ke atas meja. "Maaf, niatku hanya mengerjaimu tadi. Aku sungguh tidak tahu kalau kau akan mudah sekali di bohongi."


Sebagai sahabat, Dave tau kalau Alvin adalah pemuda polos yang mudah dikerjai, tapi Dave tak tahu kalau Alvin sepercaya itu padanya.


"Kau ini benar-benar jahat." omel Alvin sambil menyampirkan sebelah tali tasnya ke bahu.


"Hei, kan aku sudah minta maaf." Dave membela diri.


"Baiklah, baiklah, ayo ke kelas!"


Alvin bangkit dan langsung melangkah menuju kelasnya, diikuti Dave yang masih tampak tertawa-tawa di belakangnya.


"Jadi, apa kau merasa lebih baik sekarang?" Dave bertanya lagi saat mereka dalam perjalanan ke kelas.


"Lumayan." Alvin mengangguk. "Tenyata tidur lima belas menit cukup membuat segar juga. Kantuk-ku juga sudah berkurang."


"Apa yang kau katakan. Sudah ku katakan sejak awal kalau aku sedang tidak setres." Alvin menjawab malas, membuat Dave terkekeh.


"Walau kau bilang tidak setres, tapi tetap saja, kau tak bisa menutupi kenyataan."


"Apa maksudmu?"


"Wajahmu." ujar Dave menunjuk Alvin dengan dagu. "Setelah kau bangun tidur, kau terlihat sedikit lebih baik dari sebelumnya."


"Itu karena rasa kantukku sudah berkurang." ujar Alvin mengusap wajahnya pelan. "Tapi aku merasa kalau wajahku pasti terlihat seperti orang baru bangun tidur sekarang."

__ADS_1


"Ya, muka bantalmu benar-benar terlihat." Dave mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Setelah mengatakan itu, Alvin berbalik dan berlari melawan arah.


"Kau mau kemana?" teriak Dave bingung.


"Toilet. Aku ingin membasuh wajahku. Mataku terlalu mengantuk untuk jam kuliah selanjutnya. Aku tidak ingin tertidur saat kelas berlangsung nanti. Kau duluan saja ke kelas!"


Alvin berlari memasuki toilet. Ia harus buru-buru karena jam kuliah selanjutnya akan dimulai sebentar lagi. Alvin membasuh wajahnya beberapa kali lalu mengeringkannya menggunakan tissu yang tersedia.


Setelah selesai, Alvin membuang tissu itu ke dalam kotak sampah yang berada di dekat wastafel toilet lalu berdiri di depan kaca untuk mengecek rambutnya.


Alvin tengah merapikan rambutnya di depan kaca saat ia mendengar seseorang berseru memanggilnya.


"Alvin."


Alvin menoleh dan mengernyit saat melihat Karina berdiri di ambang pintu toilet.


"Karina?"


Karina menatap Alvin beberapa detik sebelum tiba-tiba melangkah masuk lalu menutup pintu toilet dan mengucinya dari dalam, membuat mata Alvin membulat.


"Apa yang kau lakukan, Karina?"

__ADS_1


***


__ADS_2