Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
112


__ADS_3

Evelyn turun dari mobil Daniel dengan senyum tipis di wajahnya. Ia lalu menutup kembali pintu mobil Daniel.


Beberapa pasang mata menatap kearahnya. Seperti biasa, kehadiran Evelyn memang selalu mencuri perhatian siapapun.


Setelah merapikan pakaian yang ia kenakan, Evelyn menatap jam di tangannya sebentar sebelum kemudian membungkuk untuk melihat kembali ke dalam jendela mobil.


"Kau terlambat?" tanya Daniel sembari melihat ke arah gerbang kampus.


Evelyn turut menatap ke arah gerbang kampus lalu menggelengkan kepalanya santai.


"Tidak, ini tepat waktu." jawab Evelyn memperlihatkan jam di pergelangan tangannya.


"Baguslah."


Evelyn tersenyum pada sahabatnya sebagai tanggapan.


"Ngomong-ngomong terima kasih karena kau sudah mengantarkan aku ke kampus hari ini." kata Evelyn pada Daniel sembari menyampirkan tas selempangnya.


"Itu manis sekali. Tidak biasanya mulutmu bicara semanis itu padaku." ujar Daniel menyindir sahabatnya.


"Apa maksudmu. Bukankah selama ini aku memang selalu bersikap manis."


"Bersikap manis pada Alvin, maksudmu?"


Eih, kenapa kau malah membicarakan orang lain. Yah, pokoknya aku berterimakasih padamu." Evelyn mengibaskan tangannya, tampak tersenyum malu saat nama Alvin disebut.


"Kau tampak menggelikan jika bersikap malu begitu." ujar Daniel terkekeh geli, " Tapi tak masalah. Aku senang bisa mengantarmu pagi ini."


Evelyn mengangguk. Menatap Daniel dengan senyum cerah hari ini.


"Dan terimakasih juga untuk traktiran sarapannya." ujar Evelyn lagi.


"Kau suka?"


"Lumayan." Evelyn mengangguk. "Ada beberapa makanan yang sepertinya akan jadi favoritku dimasa depan."


"Kalau begitu mari datang kesana lagi lain waktu." ajak Daniel.

__ADS_1


"Tak masalah." jawab Evelyn.


Daniel merespon dengan anggukan kecil sementara matanya kembali menatap ke dalam kampus Evelyn.


"Dimana gedung fakultasmu? Apa dekat dari sini?" tanya Daniel.


"Lumayan jauh. Aku harus jalan agak jauh untuk sampai kesana. Gedung fakultasku masuk tiga sampai lima menit dari gerbang kalau harus berjalan kaki."


"Kau yakin tidak ingin aku antar langsung ke depan gedung fakultasmu saja?" tanya Daniel memastikan.


"Tidak perlu." tolak Evelyn. "Aku bisa jalan kaki sendiri dari sini."


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu." ujar Daniel lalu menyalakan kembali mesin mobilnya.


"Sekali lagi terima kasih. Selamat tinggal."


"Selamat tinggal."


Evelyn menatap kepergian Daniel selama beberapa saat sampai akhirnya mobil itu menghilang dari pandangannya, sebelum kemudian ia berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki area kampusnya.


Evelyn mengerutkan alisnya saat melihat kalau yang menelepon adalah ayahnya.


"Eve!" ujar tuan Anderson begitu Evelyn mengangkat teleponnya.


"Ayah?" Evelyn berseru heran. Tentu saja ia heran. Itu karena tak biasanya ayahnya menghubunginya di jam-jam segini.


"Kau sibuk?" tanya Tuan Anderson.


"Ayah butuh sesuatu?" tanya Evelyn.


"Tidak." jawab tuan Anderson. Beberapa detik kemudian tuan Anderson kembali bicara. "Sebenarnya ada. Ada hal yang ingin Ayah bicara padamu."


"Ada sesuatu yang ingin Ayah katakan?"


"Benar."


"Oke, tentang apa ini?" tanya Evelyn penasaran.

__ADS_1


"Begini, Ayah baru saja bertemu dengan teman ayah. Dia membawa puteranya ikut rapat tadi."


"Lalu?"


"Yah, seperti yang ayah katakan. Dia punya seorang putera tampan dan Ayah pikir bisa bertemu denganmu saat ke Indonesia. Jadi-"


"Tunggu dulu, Ayah!" Evelyn memotong perkataan ayahnya. "Apa maksud Ayah? Apa yang coba ayah lakukan?"


Tuan Anderson terkekeh, "Tak ada. Ayah hanya ingin memperkenalkanmu dengan anak teman ayah ini. Kau bisa pergi makan malam dengannya saat dia berlibur ke Indonesia, ya kan?"


"Tidak."


"Eve, ini hanya makan malam biasa. Apa masalahnya?"


"Ini bukan makan malam biasa. Aku tahu kemana arah tujuan pembicaraan kita ini. Perjodohan, kan?"


Tuan Anderson terdiam.


"Ayolah Ayah. Tidak ada perjodohan di jaman ini. Jangan aneh-aneh Ayah. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya."


"Eve, ayah hanya ingin melihat kau menikah dengan pria yang tepat. Itu saja."


"Kalau pria yang tepat ini dicari untukku, maka biarkan aku mencarinya sendiri. Oke?"


"Eve, Ayah hanya-"


"Ayah, saat ini aku sedang perjalanan menuju ruang kuliahku. Aku agak buru-buru sekarang. Kita bicara lain kali saja, ya."


"Tapi, Eve-"


Telepon dimatikan. Oleh Evelyn. Secara sepihak. Itu karena ia bosan membahas tema yang sama setiap ayahnya menghubunginya.


Evelyn menatap sekelilingnya. "Kenapa tema perjodohan ini membuatku merasa semakin kesal saja."


***


Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)

__ADS_1


__ADS_2