Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
52


__ADS_3

"Dasar bodoh! Kenapa kau harus bertingkah seperti jal*ng malam itu!" Evelyn berteriak di depan jendela kamarnya yang terbuka, mengutuk dirinya sendiri.


"Seribu kali!" sahut Ziva.


Evelyn berbalik, menoleh pada Ziva yang berada di dekatnya, tengah fokus memainkan laptop di pangkuannya. Evelyn menaikkan sebelah alisnya, menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung.


"Seribu kali apanya?" tanya Evelyn.


"Ya, ini sudah ke seribu kalinya kau mengatai dirimu sendiri bodoh." ujar Ziva tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Benarkah?"


"Hm."


"Kau menghitungnya?"


Ziva mendengus. "Bukan itu konteks-nya, Eve."


"Lalu apa?"


"Maksudku adalah… kau terus mengatai dirimu sendiri sejak tadi. Ah, bukan. Sejak beberapa hari ini, tepatnya."


"Kenapa memangnya?" Evelyn menatap Ziva heran.


"Kenapa, kau bilang? Ya ampun, apa kau tidak merasa bosan? Aku yang mendengarnya saja sudah mulai merasa bosan di sini." ujar Ziva frustasi.


Ziva kemudian meletakkan laptop yang sejak tadi ada di pangkuannya ke atas meja yang ada di kamar Evelyn. "Kenapa kau harus berulang-ulang menyebut dirimu bodoh seperti itu?"


Evelyn yang awalnya berada di ambang jendela kamarnya berjalan dengan langkah gontai mendekat pada Ziva. Ia lalu mendudukan dirinya di sofa empuk kamarnya.


"Aku masih merasa malu, oke?" ujar Evelyn sebal. Ia  melipat kedua tangannya di depan dada lalu menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang malu?"


"Kejadian malam itu tentu saja. Itu benar-benar membuatku kehilangan wajah karena asal cium seseorang tanpa izin."


"Astaga, ini bahkan sudah hampir tiga hari berlalu setelah kejadian itu. Pemuda itu mungkin saja sudah melupakan dirimu."


"Aku tidak yakin. Mungkin dia masih memikirkan betapa murahannya aku ini."


"Sebenarnya kau ini kenapa sih?" Ziva merasa mulai hilang akal saat ini.


"Aku hanya menyesali perbuatan cerobohku, oke!" Evelyn menghela nafasnya lelah, memejamkan matanya.

__ADS_1


"Bukannya kau bilang padaku kalau kau menyukai ciuman itu?"


"Ya, aku memang mengakui kalau aku menyukai ciuman itu."


"Dan bukankah kau bilang kau menikmati bibirnya?"


"Itu juga benar."


"Lalu apa lagi masalahnya? Kau menyukainya. Kau tidak dirugikan, bukan?"


"Tapi bagaimana dengan dia? Ah, bagaimana kalau dia merasa dirugikan? Dia pasti menganggap aku wanita kesepian."


"Kalau masalahnya adalah dia, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menemuinya secara langsung dan minta maaf, kau menolak, kan?"


"Ya, aku memang menolaknya dan-"


" Tapi di lain sisi kau terus saja berteriak hal konyol seperti ini. Aku jadi bingung padamu." omel Ziva.


"Aku ingin menemuinya dan minta maaf.  Sangat ingin malah. Tapi aku tidak bisa."


"Kenapa tak bisa? Apa masalahnya. Kau temui-lah dia untuk minta maaf agar hatimu merasa lebih baik."


"Aku tidak mungkin akan sanggup bertemu dengannya, Zi. Aku merasa sangat malu!" Evelyn berujar putus asa.


Ya, sejujurnya Ziva memang heran dengan sikap dari sahabatnya ini. Bayangkan, sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian di klub malam waktu itu. Kejadian saat Evelyn mabuk dan dengan seenaknya mencium seseorang yang ternyata adalah pelayan di klub malam itu.


"Itu berbeda!" protes Evelyn. "Selama ini aku kan mencium lelaki yang menjadi kekasihku."


"Wow, benarkah? Jadi, apa pria yang bernama Devan waktu itu adalah kekasihmu?"


"Tentu saja bukan!" jawab Evelyn tegas. "Dia hanya teman mesraku!"


"Lalu apanya yang berbeda, hah?" Ziva bersikeras.


"Itu... aku..."


"Kau apa?" Ziva menatap Evelyn tajam. "Bukankah itu bukan hal yang sulit. Kau hanya perlu minta maaf dan urusan selesai. Ah, apa jangan-jangan kau merana begini karena kau begitu menyukainya, jadi kau merasa malu bertemu dengannya lagi setelah kejadian itu, begitu kan?"


Dengan cepat Evelyn menoleh pada Ziva. Ucapan Ziva itu memanglah benar, tapi entah mengapa hatinya menolak untuk setuju.


Evelyn lalu menggeleng, "Ti-tidak, bukan begitu, a-aku hanya..."


"Apa? Kau hanya apa?" tanya Evelyn.

__ADS_1


"A-aku..." Evelyn akhirnya sudah tak bisa lagi melanjutkan kalimatnya. Ia sudah kehabisan kata-kata saat ini.


Ziva kembali menghela napasnya perlahan.


"Baiklah, begini saja. Kau bersiaplah!" ujar Ziva memotong perkataan Evelyn. Ia lalu bangkit dari duduknya dan menarik Evelyn agar ikut berdiri.


"Bersiap? Bersiap untuk apa?" Evelyn menaikkan sebelah alisnya.


"Bersiap untuk pergi ke klub malam milik ayahmu lagi malam ini."


"Apa?" ujar Evelyn menatap tak percaya pada Ziva. Ia bahkan hampir tertawa saat ini. "Pergi ke klub malam lagi? Untuk apa?"


"Kita akan menemui pelayan itu."  ujar Ziva membuat Evelyn seketika menahan nafasnya.


"Menemuinya?" 


"Ya," Ziva mengangguk santai sambil mendorong-dorong tubuh Evelyn ke arah kamar mandi. "Kita akan ke sana, jadi cepatlah kau bersiap."


"Tapi-"


"Kau tenang saja, aku akan menemanimu saat bicara padanya nanti." potong Ziva cepat masih terus mendorong-dorong tubuh Evelyn.


"Aku masih belum siap, Ziva!"


"Kalau kau masih belum siap bicara dengannya, gampang, kita bisa menundanya dan pulang. Tapi setidaknya kau harus mencoba untuk menemuinya dulu malam ini." lanjutnya.


Evelyn lalu menghentikkan langkahnya saat merasakan tak ada lagi dorongan dari Ziva. Ia berbalik, menatap Ziva yang tengah melangkah ke dekat nakas, mengambil tasnya.


"Lalu kau mau kemana?" tanya Evelyn heran.


"Pulang." jawab Ziva santai.


"Kenapa malah pulang, kau bilang kau akan-"


"Akan menemanimu?" Ziva memotong perkataan Evelyn. "Ya, aku memang akan menemanimu. Tapi sekarang, ada yang harus aku lakukan di rumahku sebentar."


"Bersiaplah di rumahku saja."


"Tidak. Ini masih jam tujuh. Aku bisa bersiap dengan cepat. Ingat, kau harus bersiap saat aku datang nanti. Aku akan menjemputmu pukul sembilan malam nanti."


Evelyn memutar bola matanya malas.


"Terserah saja."

__ADS_1


***


__ADS_2