
"Ya, memang benar. Aku tadi mengatakan pada penjualnya kalau aku ingin makan dengan temanku. Dan aku membayar diawal. jelas Evelyn.
Raut wajah Alvin terlihat terkejut.
"Tapi kenapa harus dibeli semua?"
"Ya, karena aku tak ingin bubur ayam yang dia jual habis. Aku tak mau kehabisan. Jadi aku beli saja."
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Alvin tiba-tiba saja tersedak makanan yang ada di dalam mulutnya sendiri setelah mendengar perkataan yang Evelyn lontarkan.
Tangannya buru-buru terarah pada gelas di hadapannya dan langsung menenggak habis minuman itu.
Alvin meletakkan kembali gelas minuman itu ke atas meja dengan bantingan kasar sementara sebelah tangan yang lain masih memukul-mukul dadanya.
"Kau baik-baik saja." Evelyn terlihat khawatir melihat Alvin yang tiba-tiba tersedak, "Masih butuh minuman lagi?"
"Tidak," tolak Alvin. "Tapi anda jawab aku dulu. Apa anda serius membayar semua bubur ayamnya?"
Evelyn mengangguk sumringah. "Aku serius. Sudah kubilang padamu, kan. Pembelinya tadi terlalu banyak dan aku tak ingin kehabisan. Aku tidak ingin gagal mentraktirmu hari ini, jadi aku memutuskan untuk membeli saja semua bubur ayamnya."
Alvin terkejut saat mengetahui alasan Evelyn memesan semua porsi adalah untuk makan dengan dirinya.
"Nona, kita hanya butuh dua mangkuk untuk makan. Tapi kenapa-"
"Aku ingin makan dengan temanku. Jika buburnya habis kita akan makan apa?" Evelyn dengan santai mengaduk minumannya lalu menyeruputnya sedikit. "Kurasa tak ada yang salah dengan itu."
Alvin tersenyum miris. Baiklah, memang tak ada yang salah dengan itu. Itu adalah uang Evelyn sendiri. Tapi bukankah ini berlebihan?
__ADS_1
Kenapa Evelyn harus melakukan hal sejauh ini untuk pertemanan. Mudah sekali dia mengeluarkan uang banyak hanya untuk makan siang.
Entah kenapa hal ini membuat perut Alvin jadi terasa mulas.
"Kau sakit perut?" tanya Evelyn melihat Alvin yang tengah memegangi perutnya dengan sebelah tangan.
"Tidakkah anda terlalu berlebihan dengan ini?" Alvin tak menjawab pertanyaan Evelyn barusan dan malah balik bertanya.
Evelyn menatap Alvin heran kemudian menggeleng santai. "Tidak. Mengeluarkan uang segitu untuk makan siang tak masalah untukku."
Alvin seketika tersadar. Evelyn bukan gadis biasa. Mengeluarkan uang untuk hal semacam ini juga tak akan mengganggu harinya sama sekali.
Tapi entah kenapa ia jadi merasa sedikit tak enak karena membuat Evelyn mengeluarkan banyak uang. Meski gadis itu bilang tak masalah tetap saja Alvin merasa tak enak.
Dua kali makan bersama selalu Evelyn yang membayar. Alvin harusnya bisa membalas mentraktir Evelyn lain kali.
"Kita berpisah di sini!" ujar Evelyn setelah mereka keluar dari kedai bubur ayam itu.
"Tak masalah. Kita harus sering makan bersama seperti ini. Kau tau, ini lumayan menyenangkan untukku."
"Ya, kita bisa makan bersama lagi di lain waktu." ujar Alvin, tersenyum, "Tapi-"
Alis Evelyn terangkat.
"Tapi kenapa?" tanya Evelyn.
"Bisakah lain kali anda biarkan aku saja yang mentraktir anda?"
Dengan cepat Evelyn mengangguk. "Oke, aku setuju."
__ADS_1
"Dan satu lagi."
"Ya?"
"Aku tidak ingin anda melakukan hal seperti mentraktir sebanyak ini lagi."
"Tapi kenapa?" Evelyn tampak akan mengeluh. "Aku bahkan-"
"Untuk makan siang kita berdua anda tidak harus mentraktir orang satu kampung, kan?"
Evelyn terkekeh. "Aku sungguh tak masalah dengan hal itu. Hitung-hitung sedang berbagi dengan sesama."
"Benar." Alvin seolah tak bisa menjawab apa-apa lagi atas pembelaan diri yang Evelyn lakukan. Ia lalu menghela napasnya perlahan. "Intinya lain kali biarkan aku yang traktir anda."
"Baiklah, baiklah." ujar Evelyn memilih menyerah saja. "Ngomong-ngomong sepertinya aku harus pergi sekarang."
"Oh, kalau begitu aku juga pamit." balas Alvin.
"Aku pergi dulu." Evelyn melambaikan tangannya kemudian melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Sementara Alvin menaiki motornya. Ia juga harus lebih cepat sampai ke rumah untuk mengerjakan tugas kuliah dan juga beristirahat.
Setelah kepergian Alvin, Evelyn yang hendak menyalakan mesin mobil harus terhenti karena baru menyadari sesuatu.
"Tapi kenapa wajahnya terlihat pucat sekali, ya? Apakah dia sakit?" gumam Evelyn penasaran.
***
*Kalau kurang suka ceritanya, tinggalkan dengan damai! Silahkan cari novel yang sesuai mata kalian.
__ADS_1
Saya nggak mau merubah alur yang sudah saya buat. Trm