
Alvin mengerjapkan kedua matanya beberapa kali saat mendengar apa yang Evelyn katakan padanya.
Sementara Evelyn masih menatap Alvin lekat-lekat. Ia hanya tersenyum melihat Alvin yang saat ini tampak amat gugup.
Raut wajah pemuda itu tampak sedikit kebingungan saat Evelyn menarik tubuhnya agar lebih menunduk dari sebelumnya.
Tubuhnya terpaksa harus menunduk karena Evelyn yang terus menarik tengkuknya ke bawah.
"Aku tak mungkin bisa marah padamu, sayang. Tapi yah, jujur saja aku merasa cukup kecewa karena kau tidak memberitahuku tentang hal penting semacam ini." ujar Evelyn bicara dengan raut wajah cemberut.
Alvin menatap wajah Evelyn yang saat ini hanya berjarak sejengkal dari wajahnya dan menelan ludahnya kasar.
"Apa yang-"
"Syut! Jangan katakan apapun." Evelyn meletakkan jari telunjuknya di bibir Alvin dan tersenyum menggoda, "Aku menghukum dirimu untuk diam dan tak menjelaskan apapun lagi."
"Tapi-"
Evelyn tampaknya sama sekali tak memperdulikan ucapan Alvin.
Gadis itu malah semakin menarik tengkuk Alvin turun, mendekatkan wajah pemuda itu pada wajahnya.
Jarak wajah keduanya semakin dekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan satu sama lain.
Merasa gemas, Evelyn tersenyum dan menggosok hidungnya pada hidung pemuda itu.
Evelyn bahkan sama sekali tak memperdulikan Karina yang duduk dihadapannya, tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Karina sendiri hanya bisa menggeram saat melihat posisi Evelyn dan Alvin saat ini. Tak habis pikir. Kenapa dua orang ini bisa melakukan hal semacam ini tepat dihadapannya.
Raut wajah Karina yang kesal membuat Evelyn tertawa dalam hati. Kecemburuan yang Karina rasakan pasti melahap habis isi kepala gadis itu saat ini.
'Salah sendiri karena berani membuatku panas dengan cerita konyolmu itu.' batin Evelyn mendecih sinis.
Evelyn kembali fokus pada Alvin.
"Baiklah tampan. Hukumanmu sudah berakhir. Sekarang katakan padaku kenapa kau tak memberitahuku kalau kau sakit semalam?" ujar Evelyn tersenyum miring pada Alvin.
"Lihatlah! Seseorang sampai mengatakan padaku kalau aku ini tak berarti apa-apa untukmu. Itu sebabnya kau tak memberitahu apapun padaku. Benarkah begitu?"
"Bukan, bukan begitu maksudku." Alvin tampak menggelengkan kepalanya dan hendak berdiri tegap, tapi tengkuknya masih ditahan oleh Evelyn.
__ADS_1
Alvin memilih pasrah dengan sikap Evelyn ini.
"Aku... em... aku hanya tak ingin membuat anda khawatir. Jika anda tau, anda pasti akan datang. Sementara rumah anda terlalu jauh kalau harus datang kemari." jawab Alvin gugup. Hei, siapa yang tak gugup kalau harus bicara dengan jarak sedekat ini.
"Oh, ya ampun. Jadi, itukah alasanmu? Kau baik sekali sayang. Kau tak ingin membuat aku khawatir, rupanya." ujar Evelyn dengan nada gemas pada Alvin, matanya tampak sesekali melirik pada Karina yang sudah memerah karena menahan marah.
Alvin hanya menganggukkan kepalanya ragu.
Sementara Evelyn menatap mata Alvin lekat-lekat. "Aku tau kalau kau merasa canggung karena baru menjalin kasih selama beberapa waktu denganku. Tapi bisakah lain kali kau memberitahuku hal semacam ini." pinta Evelyn sembari mengelus sebelah pipi Alvin.
Evelyn melirik Karina yang masih diam diposisinya. Memperhatikan apa yang Alvin dan Evelyn lakukan.
"Kau bisa lihat sendiri, kan? Seseorang bahkan sampai menganggapku sebagai pacar yang tidak berguna untuk pasangannya." ujar Evelyn dengan nada kesal dan manja.
Karina yang melihat sikap Evelyn itu langsung mendecih sinis. Bukankah gadis ini tampak menggelikan sekarang.
'Apa dia ingin membalasku,' batin Karina kesal
Alvin turut melirik Karina. Ia tahu betul siapa yang dibicarakan oleh Evelyn saat ini.
"Mau sampai kapan aku tak dianggap sebagai kekasihmu!" gumam Evelyn sedih.
"Bukan begitu, aku-"
"Oh, ya ampun." Evelyn tampaknya menatap Karina dengan raut terkejut yang dibuat-buat. "Maafkan aku. Aku hampir lupa ada orang lain juga disini." ujarnya.
Mendengar itu, Karina menaikan alisnya. Tampak jelas ia tidak puas dengan perkataan Evelyn padanya barusan. Apa maksudnya ia tak terlihat?
Evelyn lalu melonggarkan tarikannya pada tengkuk Alvin untuk menatap Karina yang sejak tadi hanya diam menatap kemesraannya dan Alvin.
Evelyn lalu tersenyum miring.
"Apa salahnya aku minta hal kecil itu pada kekasihku sendiri? Apapun alasannya biarlah jadu urusanku. Bukan urusanmu."
"Dan juga, apa kau bilang? Takut?"
"Ya, kau takut kalau aku bersama Alvin seperti semalam. Kau takut Alvin jatuh cinta padaku dan meninggalkanmu, kan?" Karina berkata sembari tersenyum sinis.
"Aku takut padamu?" Evelyn mendecih sinis. Gadis itu tertawa lalu menatap Karina dari atas ke bawah. Baru kemudin kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kau mungkin harus tau, aku tak pernah takut pada apapun. Lagipula menurutku, Alvin adalah orang yang setia. Jadi, aku tau kalau Alvin tak mungkin jadi orang yang memintamu untuk datang kesini. Jadi aku tak perlu merasakan kesal atau marah padanya."
__ADS_1
Evelyn menatap Alvin sekali lagi dengan tangan yang masih berada di tengkuk pemuda itu.
"Aku justru merasa seperti sebuah kebetulan kau ada di sini saat dia sakit. Aku curiga kalau kau pasti datang untuk mengganggu kekasihku dan mendapati dia sedang sakit."
Karina menaikkan sebelah alisnya. "Aku tak mengganggu siapapun. Aku hanya ingin mengajaknya bicara saat itu."
"Jangan pura-pura suci, Karina. Apa kau lupa kalau kekasihku ini tak suka macam-macam dengan wanita lain. Jadi pasti kau yang lebih dahulu datang menemuinya."
"Ya, memang benar aku datang untuk menemuinya. Tapi aku-"
"Dengar! Kau juga tau kalau Alvin bukan lelaki gampang, kan? Jadi jangan terlalu bangga hanya karena bisa berada di sini semalaman dengan kekasih Alvin." ujar Evelyn sembari mengelus pipi Alvin dan beralih pada Karina dengan senyuman mengejek. "Karena jika itu berarti untukmu, tapi itu sama sekali tak berarti apapun pada Alvin."
Evelyn menatap Karina dengan sinis, "Aku tak tau apa tujuanmu datang menemui kekasihku. Tampaknya kau masih ingin bertemu Alvin lagi dan lagi bahkan setelah kalian putus. Kenapa? Apa kau... ingin mengejar Alvin lagi?"
Karina ingin sekali menjawab kata-kata Evelyn. Tapi ia tak bisa. Bibirnya seakan terkunci. Ia hanya bisa menatap Evelyn tajam.
Evelyn menghela napasnya malas lalu menggelengkan kepala. "Aku tau banyak sekali gadis murahan di dunia ini. Tapi aku tak tahu ada orang yang suka menjilat ludahnya sendiri. Dia membuang sesuatu seakan itu sampah tapi mengambilnya lagi."
"Apa kau baru saja mengataiku gadis murahan?" wajah Karina mulai memerah.
Alvin menatap wajah Karina yang memerah. Emosi gadis itu sepertinya sudah diubun-ubun.
"Nona…" bisik Alvin ragu, "Sudah cukup."
Evelyn menatap Alvin sembari menaikkan sebelah alisnya kemudian menggedikkan bahunya santai.
"Baiklah. Sepertinya aku harus pulang dulu, sayang." ujar Evelyn dengan malas.
Evelyn bangkit dari duduk lalu berputar untuk menghadapkan tubuhnya ke arah Alvin. Ia mengelus pipi pemuda itu lalu tiba-tiba..
Cup.
Evelyn mencium bibir Alvin. Tepat dihadapan Karina.
Karina membulatkan mata saat melihat apa yang Evelyn lakukan. Ia hendak protes tapi tak bisa melakukan apapun mengingat Alvin bukan siapa-siapanya lagi.
Alhasil Karina hanya bisa mengepalkan tangannya.
"Aku pulang dulu sayang." ujar Evelyn mengusak rambut Alvin lalu berbalik untuk menatap Karina dengan tatapan tajam.
"Jangan terlalu lama di rumah kekasihku. Cukup kau mengganggunya semalaman." ujar Evelyn lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah Alvin.
__ADS_1
***