
Alvin melangkah dengan cepat menuju pintu itu, berniat untuk membukanya kembali. Ia tak ingin ada yang salah paham dengan hal ini nanti. Namun tubuhnya langsung di tahan oleh Karina.
"Tunggu dulu, Alvin." Karina menahan tubuh Alvin.
"Lepas, Karina!" Alvin mencoba mendorong Karina. Namun ia juga berusaha untuk tidak terlalu kasar, mengingat Karina adalah wanita.
"Tidak, jangan di buka dulu pintunya!"
"Jangan berulah aneh-aneh, Karina. Ini toilet umum." Alvin berujar kesal, mendorong tubuh Karina agak kuat dari sebelumnya agar tubuh gadis itu menjauh.
"Aku tau! Tapi saat ini kita perlu bicara!" ujar Karina sambil menarik lengan Alvin yang hendak membuka pintu itu.
Alvin menghentikkan gerakannya.
"Lepaskan! Lihat ini. Kau tau apa yang kau lakukan, hah?" pekik Alvin. Ia melepaskan pegangan Karina dari lengannya dan berusaha untuk membuka kunci pintu.
Setelah berhasil membuka pintu itu, Alvin melongokkan kepalanya keluar. Ia buru-buru mengedarkan pandangan ke segala arah. Ia melihat apakah ada orang yang datang dan akan melihat mereka berdua di dalam toilet bersama.
"Alvin ada yang ingin kukatakan padamu saat ini." ujar Karina lagi. Ia menarik Alvin saat melihat pemuda itu hendak keluar dari toilet untuk meninggalkannya.
"Karina, lepas!" Alvin menghempaskan tarikan Karina padanya. "Apa-apaan kau ini!"
"Tunggu sebentar. Hanya sebentar! Aku ingin bicara."
Alvin menatap Karina dengan tatapan tajam.
"Kau gila? Ini toilet umum, Karina. Orang akan berpikir macam-macam jika melihat kita keluar bersama dari toilet seperti ini." Alvin berseru marah.
Karina memegang dada Alvin, mencoba menenangkan pemuda itu. "Kau tenang dulu, oke!"
"Kau baru saja mengunci kita berdua di dalam toilet seperti ini dan kau memintaku untuk tenang. Jangan bercanda, Karina. Minggir, aku mau keluar!"
"Kalau kau mau keluar, dengarkan aku dulu agar urusan kita cepat selesai. Jika kau mendengarkan aku, aku tak akan menahanmu lagi, oke."
Alvin menghela napasnya kasar dan menatap Karina tajam sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Baiklah. Apa? Mau bicara apa?"
Karina diam untuk beberapa saat untuk berpikir. Ia menggigit bibirnya. Sejujurnya, Karina juga bingung harus mulai dari mana.
"Karina, mau bicara atau tidak?" tegur Alvin yang melihat Karina hanya diam.
"Begini…" Karina kembali berpikir sebelum kemudian menjawab. "Ini tentang wanita itu."
"Siapa?" Alvin menaikkan sebelah alisnya.
"Wanita yang kemarin."
"tentang Evelyn, maksudmu. Lagi?"
"Ya,"
"Wah, ini penting sekali. Aku lebih baik tak mendengarkan." sindir Alvin.
Ia mendengus kesal dan langsung melangkah untuk meninggalkan Karina. Ia tak akan mendengarkan Karina menjelek-jelekkan Evelyn lagi.
"Tidak Alvin." ujar Karina, kembali menahan Alvin. "Kau dengarkan aku dulu. Wanita itu. Kau harus menjauhinya."
"Apa?"
"Putuskan dia."
"Putuskan siapa?"
__ADS_1
"Evelyn. Kau harus memutuskan dia. Tinggalkan dia!"
Alvin menatap Karina bingung. Hal konyol apa ini? Karina tiba-tiba saja datang dan memintanya untuk memutuskan Evelyn?
"Tunggu dulu, Karina." Alvin menatap Karina heran. "Apa urusanmu sehingga kau memintaku untuk berpisah darinya."
Karina terdiam. Yah, ia memang tak ada urusan apapun lagi dengan Alvin. Tapi entah kenapa ia tak terima jika Alvin menjalin hubungan dengan wanita seperti Evelyn itu.
"Apa yang salah denganmu, Karina? Dan apa yang salah dengan Evelyn?"
"Aku tidak bisa mengatakan padamu cerita lengkapnya."
"Kenapa tidak bisa?"
"Ceritanya terlalu panjang. Dan juga, aku tidak yakin kau bisa percaya dengan yang apa yang akan kukatakan padamu."
Alvin menghela. Sejujurnya Alvin benar-benar tak habis pikir. Ia tak mengerti apa sebenarnya yang di permasalahkan Karina saat ini.
"Apa begitu mengganggu dirimu jika aku berpacaran dengan Evelyn?"
Kali ini Karina menghela napasnya sambil mengusap wajahnya kasar. "Begini... aku ingin memberitahumu kalau dia sudah melakukan hal yang kurang nyaman padaku."
"Kurang nyaman? Padamu?"
"Benar. Dan apa yang dia lakukan bahkan tak pernah kau bayangkan sebelumnya."
"Apa sebenarnya maksudmu, Karina?"
"Aku tidak bisa menjelaskan padamu. Tapi wanita itu... Evelyn. Dia sama sekali bukanlah wanita baik-baik."
Alvin nyaris tertawa sekarang. Karina memintanya menjauh dari Evelyn karena gadis itu bukan wanita baik-baik. Tak ada hal yang lebih konyol dari ini dalam hidupnya.
Seingat Alvin, Evelyn sendiri adalah wanita paling baik yang pernah ia temui.
"Lalu apa kau mau bilang kalau kau sendiri adalah wanita baik-baik?"
"Alvin, aku-"
"Apa kau mengenal Evelyn secara pribadi, sehingga kau bisa mengatai dirinya seperti itu?" Alvin tampak tak suka dengan cara Karina menilai seseorang.
"Itu... sebenarnya aku tidak mengenalnya secara pribadi. Aku juga baru bertemu dengannya, tapi-"
"Lalu bagaimana kau bisa tau kalau dia bukan wanita yang baik?"
"Itu karena dia punya sikap seperti ibl*s, kau harus tau itu, Alvin..." Karina mengangkat tangannya untuk kembali memegang lengan Alvin. "Sebelumnya aku sempat bertemu dengannya di klub dan dia sudah menumpa-"
"Dia menumpahkan minumannya padamu, begitukan maksudmu? Kau sudah mengatakan itu padaku sebelumnya." ujar Alvin.
Karina mengangguk. "Ya memang, bukan hanya menumpahkan. Tapi dia menyiramkan minuman padaku. Kau harus percaya padaku karena aku bicara yang sesungguhnya."
Alvin seketika terhenyak. Apa benar Evelyn menumpahkan minuman pada Karina?
Kenapa Evelyn tak mengatakan tentang itu padanya? Tapi itu mungkin saja itu urusan wanita yang harusnya Alvin tak ikut campur.
"Jadi, dia menumpahkan minuman padamu dan itu yang membuatmu menyebutnya sebagai ibl*s?" ujar Alvin. "Selain itu, kau juga ingin aku putus dengannya karena kalian memiliki konflik pribadi? Itu maksudmu?"
"Lagipula dia tidak juga pantas untuk bersamamu. Kau hanya… terlalu baik baginya."
Alvin langsung mendecih sinis.
Tentu saja mendengar kalimat itu dari orang seperti Karina membuat Alvin terkejut. Begitu mudah bagi Karina menilai keburukan orang lain tanpa melihat keburukan yang ada pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Jika memang benar Alvin terlalu baik untuk Evelyn, tak masalah, Alvin bisa berteman dengan ibl*s seperti yang sudah Karina katakan.
Tidak peduli jika seluruh dunia menyebut hal buruk tentang Evelyn, Alvin tak akan menjauh dari wanita itu. Katakanlah kalau Alvin buta. Tapi ia bersedia berada di dekat Evelyn sampai kapanpun.
Alvin memang menyukai Evelyn sejak pandangan pertama, tak akan pernah Alvin bersedia menjauh darinya.
Selain itu, Evelyn juga sudah bersedia membantunya kemarin, saat Karina menghinanya. Itu sebabnya, Alvin tak akan sudi menjauh dari Evelyn. Ucapan Karina tak berarti apapun untuknya.
Karina masih diam memandangnya.
"Alvin, kau-"
"Aku tidak akan memutuskannya!" ujar Alvin pada akhirnya, membuat ucapan Karina terhenti.
"Apa?"
"Apapun yang terjadi. Aku dan Evelyn tak akan berpisah hanya karena hal kecil seperti itu. Terserah jika kau menganggap dirinya seburuk apapun."
Alvin menatap Karina beberapa saat sebelum kembali melanjutkan perkataannya.
"Masalahmu dengannya, itu adalah sesuatu yang bahkan bukan urusanku. Jika kau marah atau kesal padanya tentang apapun itu, kau harusnya bereskan dengannya. Bukan menemui aku seperti ini."
"Alvin, dengar! Dia sudah-"
"Dan apa tadi kau menyebut dirinya sebagai wanita iblis?" Alvin mendecih sembari menggelengkan kepalanya.
"Karina dengar... di sini, satu-satunya yang pantas di sebut ibl*s adalah kau. Kau sudah meninggalkanku, mencampakanku karena aku miskin. Dan sejak hari itu kita sudah tak memiliki hubungan apapun lagi. Jadi tak ada alasan untukmu melarangku menjalin hubungan dengan siapapun."
Ucapan Alvin itu berhasil membuat Karina terdiam.
Alvin lalu segera berbalik, berniat untuk segera meninggalkan Karina di toilet itu sebelum gadis itu semakin membuat emosinya semakin naik.
"Aku rasa urusan kita sudah selesai di sini dan lebih baik aku pergi." ujar Alvin pelan.
Namun, sebelum itu Alvin kembali menghentikan langkahnya.
“Karina?” Alvin memanggil nama mantan kekasihnya itu untuk yang terakhir kalinya.
Gadis itu segera mengangkat kepalanya untuk menatap punggung Alvin.
Tanpa berbalik Alvin hanya memutar kepalanya sedikit, untuk melirik pada Karina.
"Jangan lagi kau membawaku masuk ke toilet seperti ini karena seperti yang kau tau, aku ini pria sementara kau adalah wanita. Hiduplah dengan rasa malu dan harga diri. Maksudku, kau setidaknya belajarlah untuk bisa mengatasi sikap egoismu itu."
Karina membulat mendengar perkataan Alvin pada dirinya. Ia begitu terkejut dengan semua itu. Kata-kata Alvin yang begitu kasar seakan memotong hati Karina, seperti pisau yang tajam.
Alvin menoleh kesana kemari memastikkan tak ada yang melihat.
Alvin lalu melangkah dengan cepat keluar dari toilet, diikuti Karina yang berjalan di belakangnya tampak menunjukkan raut wajah yang begitu kusut.
Mereka terus melangakah meninggalkan tempat itu.
Alvin maupun Karina tak menyadari kalau saat ini terlihat seorang pemuda yang diam-diam tengah memperhatikan mereka dengan tatapan kesal.
Pemuda itu tampak tengah berlindung pada sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari toilet.
Itu adalah Steve yang tampak mengepalkan telapak tangannya sembari menatap tajam pada mereka.
"Berani sekali dia mendekati Karina lagi. Lihat saja, aku pasti akan memberi pelajaran pada lelaki bodoh itu." ujar Steve tajam.
***
__ADS_1
▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.