Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
12


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, Alvin sudah ada di kursi taman yang ada di tengah kota. Ia kembali melamun. Alvin benar-benar merasa sedih saat ini karena semua kejadian yang ia lalui.


Hidup memang kejam. Alvin merasa kalau ia benar-benar bernasib menyedihkan. Selain kehilangan cintanya, kini ia juga sudah kehilangan pekerjaannya. Ia sudah kehilangan segalanya.


Alvin membuka kaleng minuman yang tadi sempat ia beli di salah satu toko pinggir jalan. Ia menenggak minumannya dan menghela napasnya pelan. Ia bingung dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tidak punya rencana apapun sekarang. Otaknya buntu.


Dan setelah beberapa lama melamunkan nasib buruk yang menimpanya. Alvin kembali menghela napasnya sebentar, baru kemudian ia bangkit dan memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Ia merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun pikiran.


Di sepanjang jalan, Alvin bahkan masih tidak bisa berkonsentrasi pada jalan raya. Ia membawa motor vespa-nya dengan melamun sambil terus memikirkan semua masalah yang menimpanya.


Apa semua yang terjadi adalah murni salahnya?


Apa penyebab berakhirnya hubungannya dengan Karina juga karena ia sendiri. Salahnya?


Apa ia baru saja kehilangan pekerjaan juga karena kesalahannya sendiri.


Yah, tampaknya semua hal buruk yang terjadi memang salahnya.


Alvin kini melewati perempatan jalan tanpa menoleh kanan dan kirinya, hingga tanpa ia sadari sebuah mobil tiba-tiba muncul dan melintas dari arah kiri jalan.


TINN!


TINN!


Alvin tersadar karena suara klason dari mobil itu.


"Astaga." seru Alvin.

__ADS_1


Ckiit!!


Alvin dengan cepat mengerem sepeda motornya, begitupun juga dengan mobil itu yang tampak mengurangi laju mobilnya dan membanting stirnya ke arah yang lebih aman.


Tabrakan pun akhirnya berhasil dihindari.


Seorang pria paruh baya terlihat baru saja turun dari dalam mobil, tepat saat Alvin melepas helm di kepalanya.


"Hei, anak muda. Apa yang kau lakukan?" teriak sang supir pada Alvin.


Pria paruh baya itu pasti seorang supir, terlihat dari pakaiannya yang memang mengenakan setelan seragam hitam yang biasa di kenakan oleh para supir.


"Kenapa kau tidak berhati-hati? Saya bahkan hampir menabrakmu tadi." seru supir itu lagi.


"Maafkan saya, Pak. Ini salah saya karena tadi saya membawa kendaraan dengan melamun!" Alvin menjelaskan.


"Ya ampun, nak! Kau melamun? Dengar anak muda, lain kali kau harus lebih berhati-hati. Bukan hanya kau yang rugi, tapi orang lain juga."


"Untung saja kau tidak apa-apa. Jika tidak majikan saya akan-"


"Bagaimana paman?" seru seorang gadis dari dalam mobil.


Alvin menolehkan pandangannya ke sumber suara itu. Tampaknya itu adalah majikan yang dimaksud oleh sang supir. Alvin mengerutkan alisnya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah dari gadis itu karena kaca jendela dari mobilnya hanya terbuka setengah.


Namun beberapa detik kemudian wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan saat itulah Alvin bisa melihat dengan jelas wajah dari gadis itu.


Kedua mata Alvin langsung membulat saat ia melihat betapa cantik paras dari gadis itu.

__ADS_1


"Semua baik-baik saja kan, Paman?" tanya gadis itu lagi.


Sang supir kembali mendekat pada mobil untuk bicara pada sang majikan. "I-itu, nona. Pemuda ini-"


"Apakah mobil kita mengenainya, paman?" tanya wanita cantik itu.


Sang supir menggeleng dengan cepat. "Tidak nona. Kita sempat menghindar tadi."


"Baguslah. Kalau begitu ayo cepat kita pergi sekarang. Aku sibuk, waktuku tidak banyak," perintah gadis itu lagi.


"Baik, nona." ujar sang supir, patuh.


Setelah itu sang supir dengan buru-buru kembali memasuki mobilnya. Mereka meninggalkan Alvin begitu saja, sendirian di tempat itu.


Alvin yang masih sedikit bingung hanya menatap kepergian mobil itu dalam diam, kemudian ia tersenyum.


"Cantik sekali dia." gumamnya.


"Wajah gadis itu cukup membuat hari burukku jadi terasa jauh lebih baik. Ah, sayang sekali aku hanya bisa melihatnya sepintas." ujar Alvin kemudian kembali memasang helm-nya. Ia menaiki sepeda motornya dan segera melajukannya menuju rumah.


Hujan mulai turun saat Alvin tiba di halaman depan rumahnya. Tubuhnya tampak sedikit basah sekarang. Sambil menutupi kepalanya dengan helm ia berlari menaiki teras rumahnya.


Alvin membuka pintu utama rumahnya dan langsung masuk kedalam rumah. Ia melepas jaketnya yang basah dan langsung melemparkannya ke sandaran sofa.


Ia keluar dari kamar setelah sebelumnya mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya.


Sambil menghela napasnya perlahan, Alvin mengalungkan handuknya ke leher. Ia lalu membaringkan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamunya.

__ADS_1


"Aku lelah." gumamnya sambil menatap sedih foto mendiang orang tuanya yang terpajang di dinding rumahnya. "Kapankah hal baik akan datang padaku."


***


__ADS_2