Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
92


__ADS_3

"Jadi, siapakah pemuda tidak beruntung ini?" tanya Daniel.


Evelyn yang sedang fokus menatap pintu tempat Alvin baru saja keluar, menoleh pada pria bule di hadapannya itu.


"Target barumu, ya?" tanya Daniel lagi.


"Rahasia." jawab Evelyn malas.


Daniel menyilangkan tangannya, menatap Evelyn dengan alis terangkat. "Aku tak percaya ini. Kau menjerumuskan seseorang lagi."


Evelyn menaikkan sebelah alisnya.


"Kau bicara apa? Menjerumuskan siapa maksudmu?" tanya Evelyn heran.


Daniel terkekeh geli.


"Aku sedang bicara tentang pelayan yang barusan pergi. Siapa namanya tadi. Aku lupa.." ujar Daniel tampak mengingat-ingat kemudian menjentikkan jarinya. "Ah, Alvin. Ya, namanya Alvin."


"Memangnya apa yang aku lakukan padanya?"


"Kau tak sadar? Kau tadi menatap pelayan itu seperti harimau kelaparan. Tatapanmu penuh nafsu." sambung Daniel dengan nada mengejek.


"Jangan bicara sembarangan, penuh nafsu apanya." kata Evelyn kesal.


Daniel tergelak setelah berhasil memancing kekesalan gadis itu. Dia memang suka menggoda Evelyn.


"Kau mengenalnya dengan baik? Maksudku pelayan itu, kau bicara dengannya seolah kalian akrab."


"Sebut saja begitu." jawab Evelyn lalu bergerak maju untuk membuka botol minuman dan menuangnya ke dalam gelas miliknya dan milik Daniel.


Evelyn meraih gelas itu dan memberikannya pada Daniel yang langsung diterima pemuda itu.


"Jadi, siapa dia?" Daniel menenggak minumannya.


"Dia…" Evelyn mengangkat bahu, terlihat sangat acuh. "Pelayan."


Daniel memutar bola matanya, "Kau tahu jelas bukan itu maksud pertanyaanku, Eve!"


Evelyn menatap Daniel ragu.


"Kenapa kau begitu ingin tahu?" ujar Evelyn malas.


"Hanya penasaran."


"Kalau begitu aku tak akan memberi jawaban apapun atas rasa penasaranmu itu. Lagipula, aku juga tak punya kewajiban apapun untuk menjawab pertanyaan itu."


"Yang benar saja."


Evelyn melirik lagi ke arah pintu tempat Alvin keluar tadi dan menggeleng. "Aku tidak mau menjawab."


"Ayolah, Eve. Biasanya kau selalu mengatakan segala hal padaku." protes Daniel. Ia tak tahu sejak kapan sahabatnya ini jadi sok misterius dengan menyembunyikan kehidupan pribadinya seperti ini.


Selama ini Daniel memang menjadi salah satu tempat Evelyn biasa menceritakan keluhannya. Selain Ziva, Evelyn juga selalu terbuka pada Daniel tentang segala hal bahkan sampai masalah terkecil sekalipun.


Daniel sendiri adalah seorang pemuda berdarah Amerika-Indonesia. Dia merupakan sahabat dekat Evelyn bersama dengan Ziva. Mereka berdua adalah dua orang yang tak terpisahkan dari Evelyn karena sudah bertahun-tahun bersahabat.


Evelyn dan Daniel pun nyaris tak pernah bertemu langsung dan hanya berhubungan melalui telepon.


Pria bule itu lebih memilih tinggal di luar negeri setelah lulus SMA dan sangat jarang pulang ke Indonesia. Dan ini adalah kepulangan Daniel yang kedua tahun ini.


Daniel lebih mendekatkan tubuhnya pada Evelyn. Tampaknya pemuda itu tak mau menyerah dengan rasa penasarannya.


"Dia teman tidurmu, kan?" tanya Daniel menatap Evelyn sembari menyipitkan kedua matanya.


Sebelah alis Evelyn tampak terangkat, gadis itu lalu mendecih, "Kau penasaran sekali rupanya."

__ADS_1


Daniel mengangguk sementara Evelyn tampak menghela perlahan lalu meletakkan gelas miliknya ke atas meja.


"Hubungan kami bukan yang seperti itu, Daniel. Aku tak pernah tidur dengannya."


"Sekalipun?"


"Sama sekali."


"Kau bohong!" tuduh Daniel. "Setahuku kau selalu tidur dengan laki-laki yang kau jumpai."


"Memang benar. Tapi tidak untuk yang ini."


"Kalau begitu apa hubungan kalian?"


"Bukan urusanmu, Daniel!" omel Evelyn.


Tapi Daniel tampaknya tak peduli dengan omelan Evelyn itu. Ia menjepitkan jarinya ke dagu, tampak berpikir, kedua matanya melihat ke arah pintu masuk tadi.


"Tidak pernah tidur bersama tapi tatapanmu padanya terlihat penuh nafsu." gumam Daniel. "Hm, tapi dia memang tidak terlihat seperti tipemu yang biasanya."


"Ck, memang tipeku yang biasa itu seperti apa, hm?"


"Yang kuat, kan?! Yah, sejujurnya dia tampak 'lemah', menurutku. Seperti bukan favoritmu. Tapi aku yakin kalian memang punya semacam hubungan istimewa."


"Kau hanya asal bicara."


"Aku tidak pernah asal bicara. Aku selalu bicara fakta." ujar Daniel dengan tatapan serius. "Lagipula aku melihatnya sendiri tadi bagaimana caramu menatapnya. Kau menyukainya, kan? Jujur saja!"


Evelyn menatap Daniel beberapa detik sebelum menghela.


"Baiklah ya, sedikit." Evelyn mengakui.


"Sudah aku duga. Kau menyukai wajah atau tubuhnya?"


"Bukankah tujuan kita bertemu di sini untuk merayakan kedatanganmu ke Indonesia. Kenapa jadi membahas tentang diriku sekarang?"


Sejenak, Daniel melemparkan pandangan heran pada Evelyn. Ia menatap gadis itu dari atas hingga bawah, seperti sedang menilai sesuatu tentang gadis itu.


"Itu karena aku begitu penasaran. Aku pikir tipemu sudah berubah sekarang." ujar Daniel masih menatap Evelyn.


"Ck, berubah apanya sih?"


"Berubah. Dulu kau suka pria berotot dan kekar. Tapi sekarang?"


Ucapan Daniel itu membuat Evelyn menelan ludahnya kasar.


"Sekarang aku tanya, sejak kapan tipe lelakimu berubah jadi lelaki kurus? Apa yang membuatmu bisa sampai menyukai pemuda itu? Apa wajahnya?" Daniel masih menatap Evelyn, penasaran.


"Kau ini banyak tanya sekali."


"Ayolah Eve, aku terkejut. Kau tak pernah menyukai pria bertubuh kurus. Sementara pemuda itu?"


Evelyn balas menatap Daniel heran.


Seingatnya, selama ini Daniel tak pernah begitu ingin tahu seperti ini. Pemuda itu tak pernah ingin tahu urusan orang lain, kecuali seseorang itu sendiri yang lebih dahulu menceritakan padanya.


Tapi apa boleh buat, Daniel memang begitu mengenalnya. Ia tahu apa yang Evelyn sukai atau tidak. Dan itu pasti membuatnya heran bagaimana Evelyn bisa tertarik dengan pemuda seperti Alvin.


Evelyn yakin, Daniel pasti tak akan berhenti bertanya apapun tentang hal ini. Apakah lebih baik ia jawab saja?


"Pasti wajahnya kan?" tanya Daniel lagi.


"Semacam itu."


"Jadi benar karena wajahnya." Daniel manggut-manggut. "Aku setuju kalau dia memang tampan. Tapi dia tidak kaya. Dia pelayan."

__ADS_1


"Lantas?"


"Kau tahu jelas apa maksudku barusan, Eve."


Evelyn memalingkan wajahnya ke arah lain. Sejujurnya ini adalah topik yang ia benci. Ini juga pertanyaan yang paling tidak ingin ia jawab. Tapi Daniel adalah sahabat dekatnya selain Ziva, jadi tak masalah baginya untuk membahas hal semacam ini.


Evelyn menghela napas perlahan kemudian menyeruput minumannya dengan santai.


"Aku kaya. Ya hal itu memang benar, Daniel. Itulah sebabnya aku tidak butuh lelaki kaya. Jadi, kurasa itu bisa jadi salah satu alasan kenapa kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku tentang ini."


Daniel mendecih sinis, "Siapa bilang aku mengkhawatirkanmu?"


"Apa?"


"Dengar Eve! Aku bukan mengkhawatirkan dirimu. Sedikit pun tidak. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku ini sedang mengkhawatirkan pemuda itu."


"Kau mengkhawatirkan Alvin?"


"Ya!"


"Memangnya kenapa dengannya?"


"Oh ayolah. Aku tahu orang seperti apa dirimu. Kau tipe yang akan meninggalkan seseorang setelah selesai bersenang-senang dengannya. Dan aku yakin kalau kau juga akan melakukan hal yang sama pada pemuda itu."


Evelyn langsung terdiam kemudian menatap Daniel lekat-lekat.


"Aku hanya kasihan jika orang seperti dia harus dicampakan olehmu. Jika itu orang lain yang kaya, aku tak akan peduli. Tapi pemuda ini akan tak menyenangkan untuk melihat dia sedih saat melayani pengunjung nanti, ya kan?"


"Aku tak akan mencampakannya. Aku tak mungkin melakukan hal itu padanya."


"Oh, benarkah? Aku tidak percaya seorang Evelyn tak akan mencampakkan laki-laki."


"Terserah kalau kau tak percaya. Tapi yang jelas bagiku pemuda ini berbeda dari yang lainya."


"Berbeda bagaimana?"


"Ya berbeda…" Evelyn menjeda kalimatnya, lalu tersenyum, "… karena jika itu pria lain aku hanya akan menganggapnya sebagai tempat untuk bersenang-senang. Tapi pria ini… aku menyukainya dengan cara yang berbeda."


Daniel terkekeh, "berbeda bagaimana maksudmu?"


"Ais, lupakan saja!"


"Bicaralah yang jelas, Eve." protes Daniel.


Evelyn tersenyum miring kemudian bangkit dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Daniel, menatap Evelyn yang tengah merapikan pakaiannya yang agak kusut.


"Aku mau keluar. Ruangan ini terlalu sepi untukku. Membosankan. Aku mau ke aula dansa. Lebih ramai. Dan juga musik disana pasti akan sangat menyenangkan. Kau mau ikut?"


Setelah mengatakan itu, Evelyn langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Hei, tapi kau belum menjawab pertanyaanku tentang perbedaan itu." ujar Daniel.


Evelyn tak menjawab apapun. Gadis itu malah tersenyum sembari terus melangkahkan kakinya meninggalkan Daniel.


Menyadari Evelyn yang mengabaikan dirinya, Daniel hanya menghela napasnya lelah.


"Tunggu aku ikut!" ujar Daniel dengan malas bangkit dari duduknya dan melangkah untuk mengikuti Evelyn.


***


Note :


Bab 92-102, saya revisi. Trm

__ADS_1


__ADS_2