
Karina menatap Alvin bingung. Ia merasa kaget karena bertemu Alvin yang ternyata juga ada di tempat ini. Namun Karina buru-buru mengubah raut kagetnya menjadi raut heran saat melihat pemuda itu tengah berdiri di hadapannya sambil membawa nampan minuman di tangannya.
"Wow, apa ini? Seorang Alvin bisa ada di klub malam?"
Alvin diam saja.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Karina.
Gadis itu menatap Alvin dengan raut sinis di wajahnya. Ia lalu memperhatikan Alvin dari atas hingga bawah, menatap baju seragam pelayan yang Alvin kenakan saat ini.
Karina seakan bisa memahami situasi saat ini. Dan detik selanjutnya, Karina kembali mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih santai.
"Ah, apa kau sedang menjadi pelayan di klub malam ini, Alvin?" ujar Karina lagi pada Alvin, kali ini dia bicara dengan nada mengejek.
"Ini klub malam, Alvin. Bukankah sebelumnya kau sangat menghindari pergi ke tempat dosa seperti ini. Pekerjaanmu semakin hari menjadi semakin aneh saja." lanjut Karina membuat teman-temannya yang ada di dekatnya ikut tertawa mengejek.
"Bukankah dia pacarmu, Karina?" ujar salah seorang gadis yang duduk di hadapan Karina.
"Ya, memang benar. Dia adalah pacarku. Ah lebih tepatnya mantan. Aku sudah putus dengannya."
"Wah, benarkah?"
Karina menganggukkan kepalanya angkuh.
"Ya, sebenarnya aku sudah mencampakannya beberapa hari lalu." ujar Karina angkuh.
__ADS_1
"Wow, ternyata rumor yang beredar itu benar. Dia benar-benar sangat tampan." balas teman Karina yang lain. "Kalian sudah putus kan, jadi bisakah aku memilikinya?"
Karina hanya terkekeh sinis. "Kau ambil saja. Aku tidak peduli lagi pada barang bekas."
Sementara itu, Alvin hanya diam saat merasakan kalau sejak tadi Karina terus menerus mengejeknya di hadapan teman-temannya seperti ini.
Ia menghela pelan untuk menenangkan diri barulah kemudian dengan tenang meletakkan minuman pesanan milik mantan kekasihnya itu ke atas meja tanpa sedikitpun menatap ke arah Karina.
Dan karena merasa tak mendapat perhatian dari Alvin, Karina kembali berulah. Ia memeluk lengan kekasihnya yang sejak tadi ngobrol dengan rekannya tak jauh dari mereka.
"Steve sayang, apa kau masih ingat? Dia ini Alvin, mantanku."
Kekasih baru Karina itu langsung menoleh dan menatap Alvin. Steve menatap Alvin dari atas kebawah barulah kemudian tersenyum sinis. "Tentu saja masih ingat. Bukankah dia si pria bodoh itu? Siapa namanya?"
"Namanya Alvin, sayang."
"Ya, aku juga kaget." ujar Karina tersenyum sinis.
"Ada apa dengan pakaianmu itu? Apa kau bekerja di sini?" ejek Steve lagi.
"Sepertinya dia memang bekerja di sini, sayang" ujar Karina sambil melirik Alvin dingin. "Sebagai pelayan, aku rasa."
Alvin hanya diam mendengarkan percakapan orang-orang di hadapannya itu. Ia mencoba untuk tak peduli meskipun hatinya terasa amat sakit.
"Wow, Karina. Kau terlalu kejam. Lihatlah dia jadi sedih begitu." ujar teman-teman Karina, berpura-pura simpati.
__ADS_1
"Benar, Karina. Kau ini jahat sekali." sahut gadis yang lain.
Karina hanya terkekeh santai guna menanggapi ucapan teman-temannya. Sejujurnya ia juga terkejut dengan dirinya sendiri yang telah menghina Alvin sekejam itu. Tapi ego-nya berkata lain.
"Aku rasa tidak masalah untuknya mendapat kalimat kebenaran..." ujar Karina sambil menggedikkan bahunya santai.
"Apakah ada pesanan yang lain, nona? Tuan?" ujar Alvin yang saat ini masih mencoba untuk tak peduli dengan perkataan orang-orang yang ada di depannya itu. Hal itu sontak saja membuat Karina terkejut dan jadi merasa kesal sendiri.
Tuan dan Nona? Alvin baru saja memanggilnya dengan sebutan Nona? Apa-apaan itu? Karina menggerutu. Ia merasa tak terima karena Alvin baru saja bersikap seolah tak mengenalnya bahkan mengabaikan dirinya.
"Apa ada minuman yang ingin di tambah, nona?" tanya Alvin lagi.
"Alvin, kau-"
"Saya rasa tidak ada tambahan yang lain. Kalau begitu saya permisi!" potong Alvin dengan nada yang sopan kemudian dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Hal itu membuat Karina mendecih kesal karena Alvin tak menghiraukan dirinya sama sekali.
"Aku rasa dia sudah melupakanmu!" ujar seorang teman wanitanya.
"Tidak mungkin."
"Kenapa tidak mungkin?"
Karina kemudian menyandarkan tubuhnya dengan kesal sambil menatap punggung Alvin yang saat ini tengah menaiki lift untuk pergi ke lantai dua klub.
__ADS_1
"Tentu saja tidak mungkin. Asal kalian tahu saja, dia itu cinta mati padaku." ujar Karina dengan kalimat percaya diri.
***