Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
119


__ADS_3

"Ponselmu berdering sejak tadi." ujar Ziva yang melihat Evelyn tak kunjung menjawab telepon setelah beberapa kali berdering.


Saat ini mereka tengah menikmati makan malam bersama. Seperti janji Evelyn pada Ziva yang akan menemani sahabatnya itu makan malam.


"Ini dari ayahku." kata Evelyn setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Evelyn lalu meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dengan malas.


Ziva menatap sahabatnya dengan tatapan heran. "Lalu kenapa tak diangkat?"


"Hanya… nanti saja."


"Hei, kenapa begitu?" tanya Ziva. Ia menatap Evelyn curiga lalu meletakan sendoknya ke atas piring. "Ada masalah apa?"


"Tak ada."


"Kau pikir aku percaya?"


Evelyn menatap Ziva, menarik napas lalu menghembuskan napasnya perlahan.


"Ayahku selalu membicarakan tentang perjodohan saat dia meneleponku." jelas Evelyn.


Ziva hampir tersedak makanannya. "Ayahmu akan menjodohkanmu?"


"Ya. Itu alasannya aku tak mau mengangkat telepon darinya dulu. Aku agak muak dengan pembicaraan itu."


"Dengan siapa?"


"Hah?"


"Dengan siapa dia akan menjodohkanmu?"

__ADS_1


"Entahlah." Evelyn menggedikkan bahunya acuh. "Tapi jujur saja hal ini mulai menggangguku. Dia terus menawarkan lelaki yang seperti ini dan itu padaku."


Ziva menatap Evelyn. "Pasti ada alasan dia ingin menjodohkanmu di usia yang semuda ini."


"Banyak alasan kalau dicari-cari."


"Mungkin yang menjadi salah satu alasannya karena kau terlalu sering keluar malam."


Evelyn mendecih. "Aku melakukan itu sejak umur tujuh belas tahun. Itu bukan masalah untuk ayahku."


"Benar juga." Ziva manggut-manggut. "Tapi pria itu bisa jadi pilihan yang tepat untuk jadi suamimu, kan?"


"Bagaimana kau tau?"


"Karena pilihan ayahmu sendiri. Kan tak mungkin dia akan menjodohkanmu dengan sembarangan pria, ya kan?"


Evelyn tertawa heran. "Tetap saja, aku tak suka diatur dengan siapa aku akan menjalani hidup."


Bibir Ziva tersungging tipis. Ia tahu tak akan ada yang bisa mengatur sahabatnya ini dalam menjalani hidup.


"Apa yang kau katakan. Ayahku bukan tipe orang seperti itu. Dia tak akan mengurusi urusan pribadiku."


"Lalu perjodohan itu bukan urusan pribadi?"


Evelyn terdiam.


"Dengar Eve, ayahmu memang hanya diam saat kau hidup bebas selama ini. Tapi ayahmu juga sama seperti orang tua lain. Ia tak mau melihat anaknya terlalu bebas bermain dengan laki-laki."


Wajah Evelyn mengeras.


Sejujurnya ia tak masalah menikah muda. Toh umurnya sudah lebih dari dua puluh tahun. Ia sudah dewasa.

__ADS_1


Lagipula, menikah muda tak akan mempengaruhi apapun di kehidupannya. Tak akan ada laki-laki yang berani melarangnya melakukan ini dan itu.


Tapi ia tetap tak bisa membayangkan akan menikah dengan seseorang yang bukan pilihannya. Ini pilihan ayahnya. Dan itu yag membuatnya tak suka dengan rencana ini.


Sejak kecil Evelyn sudah terbiasa memilih jalan hidupnya. Dan ia ingin tetap seperti itu. Ia akan menentukan masa depannya sendiri.


"Mengingat sifatmu, aku yakin ayahmu pasti berusaha sekali mencarikan lelaki yang baik untukmu." ujar Ziva terkekeh.


Evelyn hanya menggeleng.


"Mau sebaik apa lelaki pilihan ayahku. Aku tetap tak akan percaya jika orang lain yang mencarikannya untukku. Aku punya tipe lelakiku sendiri, oke."


"Memangnya kau ingin laki-laki seperti apa yang akan jadi suamimu?"


Evelyn terdiam. Berpikir dengan cermat tentang jawaban atas pertanyaan itu. Lelaki yang ia inginkan menjadi teman hidupnya? Sepertinya hanya satu orang yang ia inginkan.


Evelyn tersenyum.


"Aku punya calon yang lebih baik untuk kunikahi atas pilihanku sendiri. Aku akan menikah dengannya dalam waktu dekat ini. Aku akan memperkenalkannya pada ayahku bahkan sebelum dia membawa lelaki pilihannya."


Ziva menaikkan sebelah alisnya. "Ck, apa yang kau katakan? Memangnya kau punya pacar? Siapa yang akan kau nikahi?"


"Aku akan menikahi Alvin."


Ziva merasa telinganya akan jatuh saat mendengar ide sahabatnya itu.


"Apa?"


Evelyn tersenyum.


"Aku akan pikirkan caranya nanti. Untuk saat ini aku akan lebih mendekatkan diriku pada Alvin dulu." gumam Evelyn.

__ADS_1


Ziva melongo. Baginya, pilihan Evelyn kali ini adalah rencana bunuh dirinya sendiri. Ayah Evelyn pasti tak akan setuju dengan Alvin, kan?"


***


__ADS_2