Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
64


__ADS_3

"Anda minta maaf pada saya?"


Evelyn mengangguk sambil terus menatap pemandangan perkotaan.


"Aku benar-benar ingin meminta maaf padamu."


"Tapi minta maaf untuk apa?"


"Hm ya, kurasa kau memang tidak ingat. Tapi mobilku hampir menabrakmu beberapa waktu lalu."


Alvin langsung teringat insiden saat ia hampir ditabrak mobil akibat kecerobohannya sendiri. Dan detik itu juga ia mengingat gadis cantik yang duduk di kursi penumpang mobil itu.


Tentu saja.


Tentu saja Evelyn dan gadis itu adalah orang yang sama. Bagaimana Alvin bisa lupa. Ia bahkan sempat mengagumi kecantikan gadis itu sebelumnya.


"Anda tak perlu minta maaf. Itu seratus persen kesalahan saya. Kecelakaan terjadi karena saya melamun saat itu."


"Ya, supirku mengatakan itu juga padaku."


"Saya sudah jelaskan kalau itu kesalahan saya sendiri. Jadi saya harap anda tak perlu minta maaf." ujar Alvin tersenyum.


Evelyn mengangguk kemudian menundukkan kepalanya.


"Sebenarnya ada lagi." ujar Evelyn ragum


Alvin menoleh pada Evelyn. Ada lagi?


"Ada apa, Nona?"


"Begini..." Evelyn berdehem sebentar. "Aku minta maaf karena kelakuanku yang murahan."

__ADS_1


"Kelakuan murahan, apa maksud anda?"


"Maksudku, aku minta maaf karena sudah berani menciummu sembarangan malam itu." Evelyn berujar dengan nada merasa menyesal.


Alvin sontak menoleh pada Evelyn, menatap gadis itu terkejut.


"Aku ingat apa yang sudah kulakukan padamu malam itu. Maaf, ya!"


Alvin lalu menggeleng. "Ah itu… kalau masalah itu, anda tidak perlu mi-"


"Kau pasti kaget malam itu.." Evelyn terkekeh miris pada dirinya sendiri. "Sejujurnya itu perbuatan yang sangat memalukan. Tapi saat itu aku mabuk dan tidak sengaja. Jadi sekali lagi, aku minta maaf."


"Sebenarnya saya tahu anda sedang dalam keadaan tak sadar saat melakukannya. Saya tidak masalah, nona. Anda tidak perlu minta maaf." ujar Alvin.


Evelyn menatap Alvin dengan senyum manisnya. Ia terkagum karena tahu ada yang sesuatu yang istimewa dari pemuda itu. Alvin istimewa juga sangat menarik dan hal itu membuat Evelyn jadi ingin tahu lebih banyak tentangnya. Evelyn tidak dapat menyangkal ketertarikan yang ia rasakan terhadap Alvin.


Haruskah Evelyn mengungkapkan perasaannya sekarang? Ah, sepertinya belum saatnya. Perasaan pemuda ini pasti masih kacau karena perlakuan mantan kekasihnya tadi.


Evelyn mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan aku malam ini. Kau masuklah! Dan maaf karena sudah menganggumu dari pekerjaanmu."


"Ah, tidak masalah, nona. Saya permisi." ujar Alvin. Ia lalu berjalan melewati Evelyn menuju ke pintu masuk balkon.


Begitu Alvin menghilang, Evelyn menghembuskan nafasnya panjang. Sebenarnya ia sangat ingin menghentikan kepergian pemuda itu. Ingin memanggilnya kembali agar bisa bicara berdua lebih lama dengannya tetapi apa boleh buat.


Evelyn hampir membuka mulutnya untuk kembali memanggil Alvin, namun dering ponsel menghentikkan gerakannya


Evelyn menggerutu sebal dan mengangkat telepon itu yang ternyata berasal dari Ziva.


"Apa kau sudah selesai? Kenapa lama sekali? Aku ingin pulang sekarang." ujar Ziva sesaat setelah Evelyn mengangkat teleponnya.


"Aku akan turun sekarang." jawab Evelyn dengan nada malas.

__ADS_1


Dia segera melangkah keluar dari klub malam itu untuk menemui Ziva di parkiran klub malam.


"Bagaimana?" tanya Ziva pada Evelyn sesaat setelah ia sampai di parkiran.


Evelyn tak menggubris pertanyaan Ziva. Ia berjalan dengan cepat menuju tempat dimana mobilnya terparkir sebelumnya.


"Hei, bisa aku tau bagaimana pertemuanmu dengannya barusan?" tanya Ziva sekali lagi sambil mengikuti langkah Evelyn dari belakang.


"Bagaimana apanya? Aku belum selesai dengannya tapi kau sudah menganggu dengan meneleponku!" omel Evelyn kesal.


Ziva terkekeh. "Jadi kau kesal karena itu?"


"Tentu saja."


Evelyn membuka pintu dan segera masuk ke dalam mobilnya diikuti Ziva yang masuk ke pintu di sebelahnya.


"Tunggu dulu. Harusnya kau jangan terlalu terobsesi begitu. Kau kan masih punya hari esok untuk bertemu dengannya lagi, Eve." balas Ziva setelah duduk nyaman di dalam mobil.


"Ya, memang benar, tapi-"


"Hei ingatlah! Kau itu Evelyn. Kau harus jual mahal! Selama ini tidak ada laki-laki yang tidak mengejarmu bukan, jadi sadarlah dan berhentilah kesal karena hal kecil macam ini. Kau jadi gila karena pemuda itu." Ziva mencoba mengingatkan sembari memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.


Evelyn diam sebentar saat tiba-tiba wajahnya berubah jadi sumringah. Ziva yang melihatnya dari kursi sebelah jadi merasa ngeri sendiri.


"Ada apa dengan wajahmu itu? Kau tampak menakutkan, kau tahu" ujar Ziva tampak takut-takut.


"Kau tahu, Ziva? Sepertinya aku punya ide lain."


"Ide apa?"


"Aku akan berteman dengannya." ujar Evelyn melirik Ziva dengan seringaian yang membuat Ziva semakin bergidik ngeri.

__ADS_1


***


__ADS_2