
Alvin melemparkan kunci motornya ke atas meja ruang tamu di hadapannya. Ia menghembuskan napasnya lelah. Bekerja hingga subuh seperti ini sungguh menyiksa dirinya.
Jujur saja, saat ini Alvin memang lelah. Tubuhnya meriang sejak bekerja tadi, kepalanya juga amat pusing. Ia tahu kalau harusnya ini waktunya untuk tidur dan beristirahat tapi ia tak bisa tidur.
Apa yang terjadi di klub malam tadi cukup berhasil mengusik dirinya. Mulai dari Evelyn, Daniel dan usaha pelecehan itu. Semua hal sungguh terasa mengejutkannya baginya.
Sembari meringis Alvin kemudian menutup kedua matanya, jarinya memijit pelan pangkal hidungnya.
Sepertinya Alvin memang sakit.
Alvin membuka mata kemudian bangkit dari sofa menuju kamar. Ia berniat membersihkan dirinya setelah pulang bekerja. Meski sakit, ia tetap harus membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian Alvin telah selesai membersihkan diri. Tanpa mengeringkan rambutnya yang basah, ia langsung membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Dalam diam, Alvin mengingat kembali apa yang Daniel ucapkan padanya.
Evelyn menyukainya? Apa benar begitu? Sudut bibir Alvin terangkat. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak tersenyum saat mengingat hal itu.
Tapi bagaimana jika sebenarnya tadi Daniel sedang berbohong. Bagaimana jika itu hanya cara Daniel bersenang-senang?
Benar. Alvin harusnya jangan merasa senang dulu mendengar apa yang Daniel katakan padanya. Ah, memikirkan ini justru membuat kepala Alvin semakin sakit saja.
Alvin memejamkan kedua matanya. Ia menahan rasa sakit yang sejak tadi terus menyerangnya. Sudah beberapa saat, tapi sakit kepalanya belum juga berkurang justru semakin bertambah parah.
__ADS_1
Sembari menghela napasnya panjang, Alvin membuka kembali matanya lalu mengambil ponselnya dari atas nakas. Selama bekerja, ia bahkan tak menyentuh ponselnya, sama sekali.
Alvin duduk tegak di atas kasur kamar tidurnya dan melihat satu per satu catatan panggilan di ponselnya. Alisnya tampak berkerut saat melihat nama Karina muncul dari nama-nama yang ada di catatan panggilan itu.
Sontak saja tubuh Alvin menegang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, tampak tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Itu jelas sekali dari Karina.
"Kenapa Karina menghubungiku?" gumamnya.
Dan saat itu juga tiba-tiba saja ponselnya kembali berbunyi, ternyata Karina menelepon.
"Kenapa dia menelepon," gumam Alvin.
Untuk beberapa saat, Alvin merasa bingung pada dirinya sendiri. Haruskah ia mengangkat telepon itu atau tidak usah saja.
Alvin gelisah selama beberapa detik sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya saja.
"Kenapa kau meneleponku, Karina?"
"Begini, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu."
"Tentang apakah ini?"
Karina terdiam.
__ADS_1
"Apa ini tentang Evelyn?" tebak Alvin.
"Ya, tapi-"
"Karina, kalau kau ingin bicara tentang masalah yang sama lebih baik aku tutup saja teleponnya. Aku tidak ingin mendengar keluhanmu tentang Evelyn lagi. Jadi, lupakan saja kalau kau ingin membicarakan sesuatu yang buruk tentang Evelyn."
Alvin bicara dengan nada ketus. Alvin sungguh tak ingin mendengar apapun tentang Evelyn dari Karina.
"Tidak. Jangan di tutup, oke!" tahan Karina.
"Apalagi sekarang?"
"Sekali saja." pinta Evelyn dengan nada memohon pada Alvin. "Aku memang menghubungi dirimu untuk membicarakan sesuatu tentangnya. Bisakah kita bicara satu kali saja."
Alvin memejamkan matanya. Hari ini sudah cukup penat untuknya. Ia berharap Karina tak membuatnya semakin sakit kepala.
"Baiklah." jawab Alvin memberi kesempatan sekali lagi. "kau mau bicara tentang apa?"
"Bisakah kau buka pintu rumahmu dulu?"
"Apa?"
"Kubilang, buka pintu rumahmu. Aku ada di luar."
__ADS_1
***
Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)