
Hari ini Alvin bangun dari tidurnya dengan perasaan yang sangat teramat kacau. Ia bahkan bangun pada siang hari dan tanpa sengaja melewatkan jam kuliahnya.
Sebenarnya itu bukan-lah sebuah masalah yang besar jika sesekali ia bolos kuliah karena toh selama ini ia sangat aktif masuk kuliah. Catat! Alvin tak pernah bolos.
Lagipula akan percuma jika ia memaksa pergi ke kampus hari ini. Ia tentu tak akan fokus pada penjelasan para dosennya nanti, pasalnya Alvin masih akan terus teringat dengan kejadian kemarin.
Selain itu Alvin juga belum siap jika harus bertemu dengan Karina di kampus nanti.
Satu fakta, gedung fakultas gadis itu memang berada di dekat gedung fakultas Alvin. Jadi sudah pasti akan sangat mudah bagi Alvin untuk bertemu dengan gadis itu meskipun tanpa disengaja.
Mereka akan tetap bertemu sekalipun Alvin berusaha untuk menghindarinya.
Saat ini Alvin tengah duduk di sofa yang ada di ruang tamunya sambil menikmati semangkuk sereal yang di campur dengan susu. Ia hanya fokus makan sampai tiba-tiba dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
Ddrrtttt...
Ddrrtttt...
Alvin menghela napasnya pelan saat membaca nama pengirim pesan yang tertera di layar ponselnya.
Pesan itu berasal dari Dave, sahabatnya. Dan setelah ia cek lagi ternyata ada pesan lainnya yang dikirim oleh beberapa teman sekelasnya yang lain..
Alvin sama sekali tak berniat membalas dan memilih untuk mengabaikan pesan itu.
Alvin tau kalau pesan-pesan itu pasti berisi pertanyaan dari teman-temannya tentang alasan dari ketidakhadirannya di kampus hari ini.
__ADS_1
Mereka pasti heran dengan ketidakhadirannya hari ini. Itu karena selama ini Alvin memang tak pernah sekali pun absen dalam mata kuliah apapun apalagi sampai bolos seperti hari ini.
Alvin melirik jam dinding di kamarnya yang kini sudah menunjukan pukul dua belas siang. Alvin menyadari kalau dua jam lagi adalah waktu untuknya pergi bekerja.
Alvin mengusap wajahnya kasar dan dengan cepat menghabiskan sisa makanannya. Ia harus bersiap sekarang karena ia harus pergi ke bengkel terlebih dahulu untuk mengambil motornya yang bocor baru setelah ia lanjut pergi ke tempat kerjanya.
Setelah makanannya habis, Alvin segera pergi ke kamar mandi, untuk bersiap. Namun sesampainya di kamar mandi, Alvin malah terdiam sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Tiba-tiba saja Alvin tersenyum miris pada dirinya sendiri begitu ia menyadari betapa kacau dirinya saat ini.
Sakitkah ia? Tentu saja.
Alvin tentu merasa sangat hancur setelah mendapat perlakuan kejam dan penghinaan seperti itu dari orang yang sangat ia cintai. Lagipula siapa juga yang akan menduga kalau pada akhirnya Karina malah menghianatinya cintanya seperti ini.
Ya, memang tak ada manusia yang sempurna. Sebaik apapun manusia tentu akan memiliki sisi jahatnya, termasuk Karina.
Ia harusnya melupakan kejadian itu dan berusaha kembali jadi lebih baik lagi. Dan karena tak ingin berlama-lama lagi mengasihani dirinya sendiri, Alvin segera mandi dan bersiap-siap untuk bekerja.
Dan, begitu tiba di restoran tempatnya bekerja, Alvin segera mengenakan seragam kerjanya dan bergegas untuk melayani para pelanggan.
Jujur saja, di setiap kegiatannya, Alvin terus mencoba untuk tetap berkonsentrasi. Ia berusaha untuk melupakan segala hal buruk yang terjadi padanya beberapa waktu lalu yang akan merusak fokusnya dalam bekerja.
Namun tetap saja, sekuat apapun dia mencoba untuk melupakan hal buruk itu, di beberapa kali kesempatan terlihat Alvin masih tidak bisa fokus. Ia terus menerus teringat pada semua hal yang terjadi kepadanya beberapa waktu lalu.
Semua kesedihan dan kesialan kesialan yang terjadi padanya bukan hal yang mudah di lupakan.
__ADS_1
"Alvin, kenapa pesanan meja nomor lima belas belum kau antar juga?" ujar salah seorang rekan kerja Alvin.
Namun sepertinya Alvin tak mendengar seruan rekan kerjanya itu. Terbukti ia tak menjawab dan hanya diam melamun di tempatnya.
"Aiss... kenapa dia malah melamun di situ?" gerutu rekan kerjanya lagi lalu berjalan perlahan mendekati Alvin.
"Hei! Alvin!" ujarnya sambil menepuk bahu pemuda itu pelan.
Alvin seketika tersadar dari lamunannya dan dengan gelagapan menjawab. "Ah, ya maaf! Ada apa?" ujarnya.
"Kenapa kau malah melamun di sini? Apa kau tidak dengar aku memanggilmu sejak tadi." tanya sang rekan kerja dengan heran. "Ada apa denganmu. Apakah ada yang menganggu pikiranmu?"
Alvin menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak mendengarmu tadi. Maafkan aku! Tapi aku baik-baik saja."
"Ya sudah! Kalau begitu cepat kau antarkan makanan dan minuman ini ke meja nomor lima belas." ujarnya. "Cepat antar, kalau tidak nanti makanannya keburu dingin."
"Ah, baiklah. Berikan pesanannya padaku?" ujar Alvin sambil mengambil nampan makanan pemberian rekan kerjanya itu.
"Ini! Antar cepat dan jangan banyak melamun. Lihat! Bos sudah memperhatikanmu sejak tadi." ujar sang rekan kerja dengan sedikit berbisik, mencoba memperingatkan Alvin. "Dia bahkan melihatmu seperti akan memakanmu hidup-hidup!
"I-iya!" jawab Alvin gugup sambil melangkah untuk mengantar makanan.
Sesekali ia melirik ke arah sang atasan yang berdiri tidak jauh darinya.
Namun baru beberapa langkah, Alvin tanpa sengaja menabrak seorang pelanggan yang lewat di depannya hingga makanan dan minuman yang ia bawa tumpah begitu saja, mengotori pakaian pelanggan itu.
__ADS_1
"Aw.. apa yang kau lakukan?"
***