Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
15


__ADS_3

Beberapa saat menunggu dikamar setelah kepergian pelayan tadi, akhirnya kembali terdengar suara ketukan pintu di kamar Evelyn.


"Masuk saja." ujar Evelyn.


Pintu terbuka dan seketika muncullah kepala Zivanya sambil tersenyum sumringah.


"Hei, sayangku. Aku datang." ujar Ziva dengan nada girangnya.


Evelyn hanya memutar bola matanya malas sebagai jawaban. Hal itu sontak saja membuat Ziva sedikit bingung.


"Ngomong-ngomong apa itu tadi pelayan baru?" tanya Ziva menunjuk pintu dengab dagunya.


"Hm. Baru seminggu."


"Pantas saja. Kau tahu? Dia sempat menahanku saat aku akan menuju kamarmu tadi. Apa dia tak tahu kalau aku sudah sering langsung masuk kamarmu kalau datang kemari?"


"Biarkan saja dia. Dia memang pelayan baru. Jadi belum mengerti hal itu."


Ziva menggedikkan bahunya acuh.


"Tapi kenapa dengan ekspresi wajahmu?" tanya Ziva.


"Ada apa?" Evelyn bertanya balik, membuat alis Ziva mengerut.


"Ada apa, apanya?"


"Ayolah, Ziva. Tidak biasanya kau datang sore-sore begini. Jadi, ada apa?"


"Kenapa memangnya? Ada masalah kalau aku datang sore hari? Apa kau tidak suka dengan kedatanganku ini?" sindir Ziva.

__ADS_1


"Sedikit. Ini kan jam istirahatku." ujar Evelyn bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu berjalan ke arah nakas dan menuang minuman ke dalam gelas. "Kau mau minum juga?"


"Tidak. Aku tidak haus." Ziva menggeleng kemudian melipat tangannya ke atas dada. "Tapi sejak kapan kau hobi beristirahat? Aku juga tidak tahu kalau kau punya jam istirahat disore hari. Bukankah selama ini kau selalu sibuk, sibuk dan sibuk. Sampai lupa waktu?"


"Sibuk?"


"Ya, sibuk bersenang-senang, sibuk berbelanja dan sibuk bermain pria. Itu maksudku."


"Berhenti mengataiku, Ziva." ujar Evelyn sinis sambil menegak minuman di tangannya.


"Aku bukan mengataimu, tapi sedang mengejek dirimu." ujar Ziva membuat Evelyn langsung menatapnya tajam.


"Baiklah." ujar Ziva mengangkat kedua tangannya tanda menyerah sembari berjalan menuju sofa yang ada di kamar Evelyn.


Ziva mendudukkan dirinya dengan santai di atas sofa, menatap Evelyn beberapa saat kemudian terkekeh sendiri.


"Tidak! Aku hanya heran. Bukankah kau ini anak konglomerat, Eve? Tapi kenapa kau bahkan tidak bisa memilih baju yang benar dan sesuai keadaanmu sendiri?" ujar Ziva membuat Evelyn menaikkan sebelah alisnya.


"Cocok dengan keadaanku? Keadaan apa?" tanya Evelyn keheranan.


Bukannya menjawab, Ziva malah terkekeh sembari menggedikkan bahunya. Hal itu membuat Evelyn jadi kesal sendiri karena merasa penasaran.


"Apa maksudmu sebenarnya, Ziva?" kesal Evelyn.


"Lihatlah! Kau mengenakan pakaian yang terlalu terbuka untuk keadaan tubuhmu."


"Kenapa memangnya?"


"Oh, ayolah Evelyn. Harusnya kau bisa mengenakan pakaian yang lebih tertutup setelah kau selesai bercinťa." sindir Ziva lagi.

__ADS_1


Evelyn yang tengah minum langsung tersedak dan menoleh pada Ziva. Ia menatap sahabatnya itu dengan ekspresi kagetnya.


Bagaimana sahabatnya ini bisa tahu?


"Apa?" ujar Ziva dengan nada santai saat melihat reaksi kaget dari Evelyn yang dinilainya sedikit berlebihan itu.


Evelyn berdehem sebentar.


"Apa yang kau katakan, Ziva? Bercinťa apanya? Aku ini baru selesai berbelanja dan bukannya ber-" 


"Ya, ya, ya! Katakan saja omong kosong dan semua alasan tak pentingmu itu pada tanda merah keunguan yang ada di dada mu itu." potong Ziva sambil memutar bola matanya malas.


Evelyn refleks menundukkan pandangannya untuk menatap tanda bekas hubungannya beberapa waktu lalu.


Dengan cepat Evelyn menyilangkan kedua telapak tangannya didepan dada, menutupi apapun yang sedang dipandang oleh sahabatnya itu.


"Kau! Berani sekali kau memandangi dadaku seperti itu!" protes Evelyn sinis.


"Aku sama sekali tidak berniat memandanginya, nona Anderson. Tapi tanda itu sudah terlihat sangat jelas. Aku bahkan tidak butuh usaha sama sekali untuk dapat melihatnya" ujar Ziva santai.


"Ya, tapi harusnya kau tidak perlu terus memandanginya begitu, kan!"


"Bagaimana bisa aku tak memandangi hal yang mencolok begitu. Dan ya ampun. Percuma saja kau menutupi dadamu begitu, di lehermu juga ada, tahu?"


Mendengar itu, Evelyn langsung buru-buru meraba lehernya.


"Si*lan!" umpatnya pelan.


***

__ADS_1


__ADS_2