Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
7


__ADS_3

Steve menatap remeh pada Alvin yang sudah tersungkur ke atas tanah.


"Cih, apa-apaan kau ini? Pemuda lemah sepertimu ingin memukulku? Lucu sekali." ledek Steve setelah berhasil melumpuhkan Alvin dengan cara yang menurutnya sangatlah mudah.


Alvin menatap tajam pada Steve. Ia tampak sangat kesal pada pemuda di hadapannya itu terutama karena semua ejekan yang di tujukan Steve padanya.


Dan juga, Alvin membenci dirinya sendiri yang saat ini benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu melawan lelaki berotot itu.


Setelah mendorong Alvin, Steve langsung menoleh pada Karina yang saat ini tengah menatap Alvin yang terbaring di atas tanah, di hadapannya.


"Karina, kau lihat apa yang terjadi barusan?" seru Steve padanya.


Sementara itu, Karina hanya tersenyum meremehkan ke arah Alvin. Gadis itu tampaknya sudah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Alvin.


"Pemuda bodoh ini lucu sekali. Dia tidak sadar dengan tubuh kurus dan lemahnya itu. Dan malah berani bermain-main denganku!"


Karina mendecih sinis.


"Itu bukan hal lucu Steve, tapi menjijikan!" ujar Karina.


"Ya, baiklah. Menjijikan." ujar Steve.


Steve lalu kembali menoleh pada Alvin yang masih dalam posisi terbaring di atas tanah.


"Kau dengar itu, bodoh? Karina bilang kalau kau ini menjijikan!" ledek Steve.

__ADS_1


"Pantas saja Karina selalu berniat untuk pergi meninggalkanmu. Dia bahkan lebih memilih diriku sebagai kekasihnya barunya. Selain bodoh, kau juga terlalu lemah untuk ukuran laki-laki." ujar Steve terus-menerus meledek Alvin. "Aku yakin tidak akan ada wanita yang mau menjadi kekasihmu lagi. Karina saja menyesal karena sudah bersamamu waktu itu, benar kan sayang?"


"Ya sayang! Dia populer di kampus sebagai orang paling tampan dan pintar, tapi aku menyesal setelah menyadari betapa bodohnya dia. Selain itu dia juga sangat miskin. Ah, aku sungguh menyesal." Karina berujar dengan wajah sebal.


"Karina, tapi kita kan-"


"Dengar Alvin!"


Karina menatap tubuh Alvin yang terbaring di tanah.


"Aku memilih Steve karena sifatnya jauh lebih dewasa darimu. Yah, lagipula siapa juga yang akan menolak laki-laki seperti Steve ini? Dia bisa memberiku apapun yang bahkan tidak bisa kau berikan."


Saat ini tubuh Alvin gemetar hebat karena kesal. Ini karena emosi yang menyelimuti dirinya. Ia hanya bisa menundukkan kepala, seolah tak bisa menatap Karina lagi.


"Karina, kenapa kau melakukan hal kejam ini padaku? Apa salahku padamu?" Alvin masih menundukkan kepalanya.


Karina tidak menjawab, ia hanya memutar bola matanya malas.


"Sudahi saja sikap menyebalkanmu ini. Dan bisakah kau bangun. Jika tetanggaku melihat, mereka akan berpikir hal yang tidak-tidak nanti." ujar Karina menengok ke area sekitar rumahnya.


Alvin tak menjawab.


Hal itu membuat Karina kesal. Gadis itu kemudian menarik tangan Steve untuk mengajak pemuda atletis itu pergi dari tempat itu.


"Steve, ayo kita pergi dari sini. Aku yakin, sebentar lagi lelaki bodoh ini pasti akan membuat drama yang menyedihkan di sini dan akan membuat kita berdua malu." ujar Karina.

__ADS_1


"Tapi urusan ku dengannya belum selesai, sayang." jawab Steve.


Karina terus menggeret lengan Steve menuju mobil milik lelaki itu.


"Ayo kita pergi saja. Sebentar lagi dia pasti akan menangis, karena dia ini sangat cengeng."


Steve akhirnya memilih mengangguk dan hanya menggedikkan bahunya acuh. Ia dengan santainya mengikuti tarikan Karina. "Baiklah, sayang! Aku sih terserah padamu saja."


Kedua sejoli itu akhirnya melangkah pergi menuju mobil Steve yang memang terparkir di dekat mereka.


"Tunggu Karina!" teriak Alvin, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh gadis itu.


Alvin sontak bangkit dari posisi tersungkurnya dan langsung mengejar Karina yang saat ini sudah memasuki mobil milik Steve.


Alvin tak peduli dan menggedor-gedor kaca mobil yang di naiki Karina.


"Karina, tunggu! Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau putus denganmu, aku benar-benar sayang padamu!" teriak Alvin memohon. "Karina! Dengarkan aku dulu!"


Namun mobil itu terus saja bergerak, meninggalkan Alvin hingga akhirnya menghilang di ujung tikungan jalan.


Melihat kepergian Karina itu, Alvin tidak lagi bisa menahan emosinya hingga akhirnya tangisnya pun pecah.


"Aku salah apa, Karina?" ujar Alvin pada dirinya sendiri dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.


***

__ADS_1


__ADS_2