
Alvin mengetuk pintu ruangan private di depannya untuk yang kesekian kalinya namun tak ada jawaban apapun.
Ia sudah berdiri lama sekali di depan pintu ini, mengetuknya beberapa kali, tapi entah kenapa tak ada jawaban apapun dari dalam. Membukakan pintu untuknya saja tidak.
Alvin jadi resah sendiri karena sudah agak lama ia berada di sini. Ia ingin membuka pintu tapi peraturan di klub ini mengatakan pelayan tak boleh masuk tanpa izin ke ruang VIP.
"Apa musiknya terlalu nyaring sehingga tak ada yang mendengarku?" gumam Alvin bingung.
Dari tempatnya berdiri saat ini, Alvin memang bisa mendengar suara musik yang nyaring dan juga suara orang yang sedang bercakap-cakap.
"Aku langsung masuk saja ke dalam tidak, ya?" Alvin tampak celingukan, menoleh kanan dan kiri entah mencari siapa.
Sejujurnya Alvin tak tahu harus bagaimana sekarang. Ia kan belum pernah bekerja di klub ini sebelumnya sehingga tak ingin salah berbuat.
Saat ini Alvin sendirian di depan ruang VIP itu, menunggu agar dibukakan pintu. Rekan kerja yang tadi datang bersamanya sudah pergi lebih dulu beberapa waktu lalu.
Tadi begitu sampai di lantai yang mereka tuju, rekan kerjanya itu malah meninggalkan Alvin sendirian. Pasalnya dia harus turun lebih dahulu karena tiba-tiba saja di hubungi oleh Mr Robert dan diminta untuk segera pergi keruangannya.
"Permisi! Pesanannya datang." ujar Alvin, kali ini dengan suara yang lebih nyaring dari sebelumnya. Namun masih tak ada tanggapan apapun dari dalam.
__ADS_1
Haruskah ia masuk saja ke dalam?
Alvin menghela napasnya panjang lalu menggeleng pelan. Peraturan di klub ini melarangnya melakukan itu.
"Sepertinya aku masuk saja. Aku akan menjelaskannya pada Mr Robert nanti." ujar Alvin pasrah. Ia juga tak ingin membuat para tamu di dalam menunggu pesanan mereka.
Alvin akhirnya memutuskan untuk masuk saja meski belum mendapat izin siapapun dari dalam ruangan. Alvin sudah mengangkat tangan untuk meraih gagang pintu itu sebelum mendengar suara berseru padanya.
"Kau siapa?"
Seruan itu sontak saja membuat Alvin berjingkat kaget.
"Ya ampun." ujar Alvin sembari memegangi dadanya.
"Kau sedang apa berdiri di situ? Cari siapa?" seru gadis seksi itu lagi. Ia menatap Alvin dengan pandangan heran, tangannya tampak terlipat di depan dada.
Alvin mengerjap dan tersadar dari keterkejutannya, "Hah?"
"Aku tanya, apa yang sedang kau lakukan di depan pintu ini? Kau mencari seseorang?" tanya gadis seksi itu lagi kemudian mulai melangkahkan kakinya perlahan mendekat pada Alvin.
__ADS_1
Merasa gadis seksi itu mulai mendekat padanya, Alvin hanya bisa menelan ludahnya gugup.
"Ini nona… sa-saya… saya kemari karena ingin mengantar pesanan minuman ini." ujar Alvin gagap sambil menunjukkan kedua troli yang berada di dekatnya.
Gadis itu melirik troli berisi minuman yang sejak awal memang sedikit tertutup oleh badan Alvin.
"Oh begitukah. Kau ini pelayan rupanya."
"Iya, nona." Alvin mengangguk.
"Ya ampun, maafkan aku. Awalnya kupikir kau ini pengunjung klub lain yang ingin mengintip teman-temanku." ujar gadis seksi itu tertawa.
"Sebenarnya aku terlalu fokus pada wajahmu sampai tak menyadari seragam pelayan yang kau kenakan."
"Ya?" Alvin bertanya sembari tersenyum bingung. Ia tak mengerti sama sekali apa maksud ucapan dari gadis seksi di hadapannya ini. Kenapa gadis ini harus fokus pada wajahnya?
Alvin lantas memegangi wajahnya untuk mencari tau apa ada yang salah dari wajahnya?
"Apa ada sesuatu di wajah saya, Nona?" tanya Alvin memastikan.
__ADS_1
"Wajahmu… tampan" ujar gadis itu menunjuk wajah Alvin.
***