
"Apa ini, Vin!" ujar Dave begitu ia datang. Pemuda itu membanting tas kuliahnya ke atas meja dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Alvin.
"Apa?"
"Kau, kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Memangnya aku kenapa?"
Alvin mengerutkan alisnya bingung saat melihat sahabatnya yang baru tiba sudah marah-marah seperti ini.
"Kita perlu bicara empat mata." ujar Dave mengarahkan tubuhnya sepenuhnya ke arah Alvin.
"Bicara tentang apa?"
"Bicara tentang kau yang membohongiku."
"Hah?"
Dave menatap curiga pada Alvin yang membuatnya kesal karena bertingkah seperti tak tahu apa-apa.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Vin?"
Pertanyaan Dave itu semakin membuat Alvin mengerutkan alisnya bingung. "Apa yang aku sembunyikan?"
"Ayolah!" Dave jengah. "Kenapa kau masih bertanya juga."
"Aku memang tak tahu apa yang kau maksud, Dave."
"Kau tidak mengatakan padaku dengan terus terang kalau kau masih punya perasaan pada Karina."
"Apa kau bilang, perasaan apa?"
Dave bergerak mundur, menjauhkan dirinya dari Alvin.
"Lihat, kau berpura-pura lagi." ejek Dave sinis.
"Kau ini kenapa sebenarnya?"
Alvin menghela nafas lelah dengan sikap aneh sahabatnya. "Pertama-tama, katakan dulu ada apa denganmu. Kau baru datang tapi sudah bicara macam-macam tentangku seperti ini. Dengar, jika kau punya pertanyaan lebih baik tanyakan padaku biar jelas.
"Ya, aku memang punya punya banyak pertanyaan untukmu."
"Oke, tanya saja!" Alvin mengangkat kedua tangannya.
"Pertama-tama berjanjilah padaku kalau kau akan berkata yang sejujurnya."
"Ya aku janji."
"Apa kau masih mencintai Karina?"
"Tidak,"
"Apakah di hatimu masih ada namanya."
"Sudah hilang sejak dia mencampakanku." jawab Alvin tegas.
"Lalu bagaimana dengan gosip itu?"
"Gosip?" Alvin menaikkan alisnya. "Gosip apa?"
"Gosip tentangmu."
Alvin memutar bola matanya malas. "Gosip tentangku lagi?"
"Ya, dan informasinya sudah menyebar di kantin."
__ADS_1
""Ah, pantas saja aku tidak tau apa-apa. Aku memang belum ke kantin hari ini. Jika aku kesana pasti aku juga mendengarnya. Tentang apakah kali ini?"
"Tentang kau dan Karina! Info yang kudapat, kalian pergi ke kampus bersama tadi pagi. Benar?
Alvin tercekat. Ia hanya diam menatap Dave. Pantas saja sahabatnya itu datang dengan marah-marah.
"Apa kau kembali bersamanya?" sambung Dave dengan tatapan tajam.
"Apa kau gila? Tentu saja tidak."
"Kau yang gila, Alvin. Kalau sudah berpisah, kenapa juga kau masih berhubungan dengan wanita ular itu." omel Dave. Pemuda itu mengeluarkan uneg-unegnya sebagai seorang sahabat.
"Oke, bisa ku katakan kalau ini memang bukan urusanku sama sekali. Tapi kau itu sahabatku. Dan saat ini kita sedang bicara tentang Karina, Vin. Ini Karina! Dia gadis ular yang mencampakanmu. Biar kuingatkan lagi kalau kau lupa."
Wajah Alvin berubah menjadi suram. "Aku tahu, Dave. Aku ingat!"
"Lalu kenapa kau-"
"Mau pergi bersamanya ke kampus?"
"Ya, kenapa? Apa kau-"
"Ban motorku bocor, Dave." potong Alvin. "Tadi pagi kami hanya kebetulan bertemu dan dia menawarkan tumpangan padaku."
"Kenapa tidak kau tolak saja?"
"Tidak bisa. Aku bahkan tak bisa menemukan taksi kosong tadi. Ojek juga tak ada. Jika aku menolaknya jelas aku akan absen hari ini. Sementara kau tau sendiri, hari ini ada tugas presentasi dan aku tidak boleh absen."
"Kenapa tidak menghubungiku saja? Aku bisa menjemputmu."
"Sudah! Tapi kau tak menjawab telepon dariku.."
"Kau menghubungiku?" Dave menaikkan sebelah alisnya sementara Alvin mengangguk.
Dave dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari kantong jaket dan mengecek panggilan telepon.
"Benar kan?" ujar Alvin setelah melihat raut wajah Dave.
"Ya, ini empat kali darimu, Alvin." ujar Dave sembari menunjukkan layar ponselnya. Pemuda itu menggaruk kepalanya, meringis. "Maaf, aku-"
"Jangan minta maaf!"
"Tapi aku sudah terlanjur marah-marah padamu."
"Tak masalah. Ini juga bukan salahmu sama sekali. Kau tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang aneh di sini, aku bahkan tak bisa menyalahkan diriku sendiri. Faktanya, aku memang butuh bantuannya tadi pagi."
Dave tak tahu harus menanggapi seperti apa lagi mengenai masalah ini. Jujur saja, ia tak sanggup bicara apapun sekarang.
Satu hal yang bisa Dave simpulkan dari penjelasan Alvin tentang kejadian hari ini adalah Alvin harus terpaksa menumpang bersama Karina. Dan itu berhasil membuat satu kampus heboh.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Tentang apa?"
"Tentang apa yang dibicarakan orang-orang. Gosip sudah menyebar."
"Aku bisa apa lagi kalau begitu?" Alvin menggedikkan bahunya santai.
Dave kembali terdiam. Ia akui, jika berada di posisi yang sama seperti Alvin ia juga tak bisa melakukan apa-apa.
Orang-orang memang berhak membicarakan apapun tentang dirinya. Tapi ia juga tak punya kewajiban apapun untuk membenarkan atau menyalahkan gosip itu. Alvin tak butuh klarifikasi apapun dan itu hak pribadi Alvin. Biarkan saja, maka gosip itu akan mereda dengan sendirinya.
Mungkin.
Beberapa saat setelah itu Alvin dan Dave hanya diam di kursi masing-masing. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Di ruang kuliah hanya terdengar suara dari beberapa mahasiswa yang mengobrol di dalam ruangan.
__ADS_1
"Steve sepertinya kesal. Dia memintaku secara pribadi untuk menjauhi Karina. Padahal, faktanya aku tak pernah mendekati Karina."
"Tapi tadi pagi kau datang bersama Karina."
"Baiklah, untuk yang satu itu aku memang salah. Tapi aku sudah menjelaskan posisiku."
Dave menghela perlahan, "Kurasa setelah ini kau harus benar-benar harus menjauh dari Karina, Vin. Akan berbahaya jika kau berada di dekatnya. Kau tau? Kekasih berototnya itu akan menghabisimu nanti jika kau terus berada di dekat Karina."
"Kau pikir aku tak mencobanya, heh? Aku mencobanya Dave. Aku terus berusaha untuk menjauhinya, tapi-"
"Tapi?"
"Entah kenapa takdir selalu saja mempertemukan kami. Aku jadi heran, kenapa juga Karina selalu berada di tempat yang sama dimana aku tengah berada."
"Benarkah?"
"Ya,
"Setiap aku menjauh, Karina seakan selalu mendekat."
Dave menatap Alvin.
"Kau tahu? Jika itu aku, aku tak akan menyebutnya sebagai pertemuan takdir. Baiklah, takdir memang selalu mempertemukan kalian. Tapi kalian sendiri bukanlah takdir. Kau dan Karina tak ditakdirkan bersama. Kalian tak bisa jadi satu. Kau tahu kenapa?"
Alvin menggelengkan kepalanya.
"Karena aku membencinya, itulah jawabannya."
Alvin terkekeh. "Baiklah, baiklah."
"Ingat. Selama ada aku, kau tidak boleh kembali bersama wanita ular itu. "
"Iya, tenang saja."
Alvin merasa senang karena sahabatnya satu ini selalu saja mencari cara untuk menghiburnya..
Dave menatap Alvin, "Ngomong-ngomong kau mau sarapan? Kau tidak lapar?"
"Lumayan, kau mau ke kantin."
"Kusarankan lebih baik kau tak perlu ke kantin dulu."
"Kenapa?"
"Mata orang-orang pasti akan mengarah padamu sekarang. Seperti terakhir kalinya, gosip itu sungguh sudah menyebar. Kau tau, teman-teman Steve bahkan ikut menyebar gosip kalau kau sedang mencoba mengganggu hubungan Steve dan Karina."
"Aku tak peduli."
"Kau harus peduli. Ingat, kau ini kan pria populer di kampus ini. Rumor buruk tak akan bagus untuk image-mu."
"Berhenti membicarakan omong kosong Dave, ayo kita pergi ke kantin."
Dave menggelengkan kepalanya.
"Begini saja. Kau tidak harus kemana-mana. Aku ingin kau tunggu disini saja. Biarkan aku yang beli makanannya. Kau berlindunglah dari tatapan para manusia tukang gosip itu."
"Tunggu di sini sebentar, oke!"
Setelah itu Dave pergi meninggalkan Alvin di ruang kuliah sementara Alvin hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
Tak lama kemudian, ponsel Alvin tiba-tiba saja berbunyi. Ternyata itu pesan dari Evelyn.
"Kau punya waktu hari ini?"
***
__ADS_1