
"Aku tanya apa yang kau lakukan, sial@n!" umpat Karina.
Evelyn menoleh kembali pada Karina. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi marah yang Karina tunjukkan saat ini. Wajah gadis itu tampak begitu memerah. Jelas sekali kalau wanita di hadapannya itu sudah benar-benar emosi padanya sekarang.
"Aku bicara padamu, jal@ng!" Karina berseru nyaring.
"Kau bertanya yang aku lakukan?" ujar Evelyn mendekat kembali pada Karina dan Ziva.
"Em, barusan itu aku hanya sedang mencoba untuk mendinginkan kepalamu." ujar Evelyn masih dengan santainya, Ziva tampak terkekeh.
"Apa?"
"Begini, kau tadi terlihat sangat marah. Aku pikir kepalamu itu pasti sangat panas bahkan terlihat seperti akan meledak. Boom! Ya, jadi aku hanya mencoba membantumu untuk mendinginkannya." lanjut Evelyn terlihat begitu tenangnya.
Tangan Karina gemetar, entah karena kaget, terkejut atau mungkin marah dengan kejadian ini. Seumur hidupnya ia tak pernah di permalukan begini. Ia tak pernah merasa begitu direndahkan. Selama ini, semua orang selalu memujanya.
Karina bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang. Gadis di hadapannya ini sudah membuatnya mati kutu.
Evelyn melirik sekitarnya, hampir semua orang di klub tengah menatap ke arah mereka saat ini. Ia tersenyum puas. Inilah yang ia harapkan, mempermalukan gadis ini di hadapan semua orang.
Entah apa yang wanita ini lakukan pada Alvin ataupun pada Ziva, semuanya sudah impas, bukan?
"Kau!" Karina mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Evelyn. Ia menatap pakaian sederhana yang Evelyn kenakan kemudian mendecih. "Orang miskin sepertimu. Bisa-bisanya kau-"
"Apa?" sentak Evelyn balik, membuat Karina kembali terdiam. "Aku apa? Katakan!"
Karina kini bersusah payah menahan kata-katanya yang akan keluar.
__ADS_1
"Aku akan membawa kasus ini ke polisi!" ancam Karina.
"Silahkan! Kau lihat, di sudut sana ada cctv. Kita bisa melihat siapa yang mulai. Seperti yang kau tau, temanku memang menumpahkan minuman padamu, tapi dia tak sengaja, bahkan sudah minta maaf."
Evelyn mendekatkan wajahnya pada Karina dan melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kau? Bukankah kau yang lebih dahulu menyerang temanku tadi? Jadi, ayo bawa kasus ini ke polisi, dan kita lihat, siapa yang salah menurut polisi nanti."
Karina menelan ludahnya kasar. Entah kenapa gadis di hadapannya ini benar-benar membuatnya tak bisa berkutik. Dan apa ini, tatapan gadis itu benar-benar membuatnya merasa terintimidasi.
'Astaga, aku tidak bisa benar-benar membawa masalah ini ke polisi. Reputasi diriku di kampus akan ternoda nanti.' batin Karina.
Merasa kesal sendiri, Karina kini mengepalkan telapak tangannya. Emosinya sudah berada di ujung kepala sekarang.
Karina bergerak maju hendak membalas perkataan gadis itu. "Kau, berani sekali kau me-"
"Mereka!" Karina menunjuk Evelyn dan Ziva secara bergantian. "Mereka berdua sudah membuat kerusuhan di sini. Lihat ini, mereka sudah membuatku basah kuyup. Tolong usir mereka, pak!" teriak Karina histeris.
"Ya ampun. Apa ini..." Evelyn mengibaskan rambutnya dengan wajah kesal. "Maaf sebelumnya, pak! Tapi bukan hanya dia satu-satunya yang di rugikan di sini. Lihat! Pakaian temanku juga basah."
"Benar pak, dia yang lebih dahulu menyiram pakaianku tadi." ujar Ziva menunjukkan pakaiannya yang basah.
"Tapi kau juga membuat pakaianku basah." pekik Karina.
"Sudah ku bilang kalau aku terpeleset. Aku bahkan tidak sengaja melakukannya. Sementara kau? Kau melakukannya dengan sengaja. Kau menyiramku."
"Tidak mungkin kau me-"
__ADS_1
"Selain itu aku juga sudah minta maaf, kan? Tapi bukannya memaafkan, kau malah menyiramku." ujar Ziva memotong perkataan Karina kemudian menoleh kembali ke arah kepala keamanan.
"Bapak bisa cek cctv klub dan melihat siapa yang cari gara-gara di sini. Bapak juga bisa lihat di rekamannya saat saya terpeleset tadi." ujar Ziva pada kepala keamanan itu.
"Pak, saya tidak mau tau! Saya tidak terima perlakuan ini. Bapak harus mengusir mereka karena di sini saya lah korbannya yang sebenarnya." ujar Karina dengan nada nyaring.
Karina lalu menunjuk Evelyn. "Dan wanita ini, dia juga sudah ikut-ikutan dengan menyiram sa-"
"Ya ampun. Lihatlah, pak! Bapak bahkan bisa melihat dengan jelas dari tadi gadis ini-lah yang terus berteriak histeris. Bukan kami. Jadi bisa di simpulkan dari perilaku, siapa yang sebenarnya berbuat kerusuhan di sini." ujar Evelyn menimpali.
Dan tepat pada saat itu, manajer dari klub malam itu, Mr. Robert datang untuk menghampiri pusat keributan di tengah-tengah kerumunan manusia itu.
"Lihat ini, keributan kecil ini baru saja menganggu pemandanganku dari lantai dua! Jadi cepat jelaskan sekarang, ada apa ini?" ujar Mr. Robert dengan nada dingin pada sang kepala keamanan.
"Begini tuan Robert, para gadis ini memiliki masalah di sini. Mereka sudah ber-"
Karina menunjuk wajah Ziva secara langsung. "Gadis ini! Dia mencari masalah dengan menyiramku. Dia bilang tidak sengaja, tapi itu tidak mungkin, bagaimana dengan jalan selebar ini dia malah jatuh ke kursiku?"
Kemudian Karina menoleh ke arah Evelyn. "Dan temannya ini juga membantunya dengan menyiramku. Mereka-"
"Ya ampun, waktuku tidak banyak untuk melanjutkan pertengkaran konyol ini. Pokok masalahnya adalah temanku tidak sengaja menumpahkan minuman, karena tersandung. Dan dia juga sudah minta maaf. Tapi gadis konyol ini membuat masalahnya menjadi lebih besar. Kalau tidak percaya, silahkan cek cctv klubnya." ujar Evelyn.
Evelyn lalu melepas tutup hoodie yang sejak tadi ia kenakan di kepalanya. Begitupun dengan kacamata yang ia kenakan. Dan begitu tutup hoodie itu terbuka, Mr. Robert dapat melihat wajah Evelyn secara langsung dengan jelas.
Seketika saja Mr. Robert membulat. Ekspresi wajahnya juga berubah panik. Ia menyadari kalau gadis itu adalah anak dari pemilik klub.
"No-nona muda?" bisik tuan Robert pada dirinya sendiri, sangat pelan bahkan hampir tak terdengar.
__ADS_1
***