
"Mau sarapan dulu?" tawar Daniel saat mereka sudah berada di dalam mobil. Ia masih memasang sabuk pengaman saat pandangannya mengarah pada Evelyn.
Sementara Evelyn yang saat ini tengah memainkan ponselnya menoleh pada Daniel. "Kau lapar?"
"Lumayan." jawab Daniel. "Kau mau kita cari makan dulu?"
"Tak masalah." jawab Evelyn sembari menganggukkan kepalanya pelan. "Boleh saja. Kita cari sarapan dulu."
Daniel mengangguk dan mulai melajukan mobilnya memasuki jalan raya.
"Kau pasti belum sarapan juga, kan?" sambung Daniel saat mobil yang ia kendarai melaju, membelah jalanan.
"Ya, memang belum." jawab Evelyn memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Aku baru selesai mandi setelah berolahraga saat kau datang ke rumahku."
"Benarkah?"
"Hm, aku bahkan sama sekali belum menyentuh sarapanku tadi. Minum jus saja tidak."
"Bagus kalau begitu." kata Daniel mengerem mobilnya setelah melihat lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. "Kebetulan aku punya rekomendasi restoran yang harus kau coba."
"Serius?"
"Ya, restoran ini baru buka."
Evelyn menatap takjub pada Daniel.
"Kau baru tiba beberapa hari tiba di sini tapi sudah punya rekomendasi restoran?"
"Ya, sebenarnya aku sempat makan disana begitu sampai di Indonesia."
"Enak tidak makanannya?"
"Menurutku yang ini juara. Aku belum pernah menemukan yang lebih enak dari ini. Selain itu, makanannya juga enak dan bersih."
"Ya, kalau begitu aku mau coba juga." ujar Evelyn menganggukkan kepalanya. "Dimana restorannya?"
"Di dekat sini, kebetulan. Aku akan mengajakmu ke sana pagi ini juga." ujar Daniel menambah laju mobilnya menuju restoran yang ia maksud barusan.
Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di restoran yang Daniel maksud tadi. Mereka berdua turun dari mobil dan memasuki restoran.
"Bagaimana makanannya?" tanya Daniel menyuap makanan ke dalam mulutnya. "Enak, kan?"
"Lumayan."
Daniel menaikkan sebelah alisnya, "Lumayan?"
__ADS_1
"Ya," Evelyn menganggukkan kepalanya enteng. "Ini lumayan. Seperti katamu, tempat ini bersih. Aku setuju."
Hal itu membuat Daniel mendecih.
"Yang benar saja." ujar Daniel ketus.
Sikap Daniel membuat Evelyn menatapnya heran.
"Ada apa?"
"Ayolah, Eve." Daniel meletakkan sendok dan garpu ke atas piring. "Ini makanan yang sangat pantas untuk di acungi jempol. Bukankah ini luar biasa? Mereka baru saja buka tapi bisa menyuguhkan makanan seenak ini."
Evelyn menggedikkan bahunya, "Tapi bagiku ini memang hanya lumayan, Daniel."
"Ck, kenapa susah sekali menaklukan seleramu yang tinggi itu. Lain kali aku tak akan bereskpektasi tinggi tentang pendapatmu." Daniel menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya pada Evelyn.
"Benar, lain kali kau harus mengingatnya agar tak mudah kecewa. Tak mudah membuatku puas tentang sesuatu."
"Ya, benar. Tak perlu tentang makanan. Bahkan laki-laki saja tak banyak yang bisa membuatmu senang, kan." Sindir Daniel.
Evelyn memutar bola matanya malas. "Kau sedang membahas topik yang berbeda, Daniel. Itu dua hal yang berbeda."
"Tidak, aku sedang membahas seleramu. Itu topik yang sama." balas Daniel. "Sejauh ini hanya ada satu orang yang bisa masuk kriteriamu. Omong-omong kapan kau akan mengajak orang itu makan bersama dengan aku dan Ziva?"
"Kau tau benar siapa yang aku maksud."
"Alvin?" tanya Evelyn memastikan. Ia lalu terkekeh setelah melihat Daniel menganggukkan kepala. "Kau ingin aku mengajaknya untuk makan bersamamu?"
"Ya, bersama Ziva juga. Aku yakin Ziva juga pasti penasaran dengannya."
Evelyn mengerutkan dahinya.
"Tak biasanya kau mau makan bersama dengan orang asing. Selama ini kau satu-satunya yang selalu menolak ajakanku jika aku mengajakmu pergi makan bersama orang lain."
"Ayolah, dia bukannya orang asing."
"Dia orang asing bagimu, Daniel."
"Baiklah, dia orang asing bagiku." jawab Daniel menyerah. "Tapi aku lebih menyukainya. Berbeda dengan temanmu yang lain, mereka membosankan. Lagipula dia pemuda yang baik. Intinya aku suka dia."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kau sangat jarang tertarik pada teman-temanku. Itu artinya pilihanku kali ini tidak salah, kan?"
__ADS_1
"Ya memang tak salah." jawab Daniel. "Tapi aku tak rela melihatmu merusaknya. Intinya, jika kami bertemu lagi, aku akan berusaha memperingatkannya agar lebih berhati-hati denganmu."
"Ck, apa maksudmu dengan berhati-hati denganku, memangnya aku kenapa?"
"Kau yang seperti ini."
"Seperti ini, bagaimana? Bicara yang jelas, Daniel."
"Tidak. Lupakan saja." Daniel mengibaskan tangannya. "Intinya aku ingin kau mengajaknya makan bersama agar kami bisa bertemu."
Evelyn menatap Daniel selama beberapa detik sebelum akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya.
"Aku akan coba mengajaknya makan bersamamu lain kali."
"Ya, kau ajak saja dia di pertemuan kita selanjutnya nanti." ujar Daniel senang. Namun tiba-tiba saja Daniel mendapat ide konyol lain. Pemuda itu lalu menjentikkan jarinya, "…atau kau cukup katakan saja padaku dimana alamat rumahnya."
"Untuk apa? Aku bahkan tidak tahu dimana rumahnya."
"Kau tidak tahu?"
"Memangnya kenapa kau ingin tau alamat rumahnya?"
"Yah, kupikir aku bisa membantumu untuk menjemputnya saat kita makan bersama nanti."
"Kau mau menjemputnya."
"Tentu saja, kenapa tidak." ujar Daniel diam sebentar, tampak berpikir kemudian mencondongkan tubuhnya pada Evelyn. "Bagaimana kalau sekarang saja." ujarnya.
Evelyn menaikan sebelah alisnya. "Apa yang sekarang?"
"Kau ajak dia makan bersama dengan kita."
"Disini?"
"Benar, ajaklah dia makan bersama kita disini. Di restoran ini. Bagaimana?"
Evelyn nyaris tersedak ludahnya sendiri. Daniel kalau sudah bercanda memang tak tahu tempat. Untuk apa dia mengajak Alvin bertemu secara mendadak.
"Kalau kau mau aku bisa menjemput Alvin kesini sekarang juga. Kau cukup katakan dimana rumahnya. Aku bisa pergi untuk menjemputnya." Daniel mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan macam-macam, Daniel." omel Evelyn.
***
Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)
__ADS_1