
Dave terdiam di posisinya. Untuk beberapa saat nyawa Dave seakan tak ada di tubuhnya, sebelum kemudian pemuda itu mengerjap bingung.
"Kau bekerja di klub, Alvin?"
Alvin menggedikkan bahunya.
"Semacam itu."
"Tunggu dulu, Alvin. Seingatku bukannya kau ini sedang bekerja di restoran?" tanya Dave, kaget sekaligus penasaran.
"Ya, memang benar."
"Lalu?"
"Aku sudah di pecat."
"Di pecat?" Dave kembali berujar kaget
"Aku berbuat kesalahan fatal dan merugikan pelanggan jadi aku diberhentikan."
"Jadi, memang benar kalau sekarang kau bekerja di sebuah klub malam?"
"Benar, Dave. Sudah kukatakan sejak tadi, bukan?"
__ADS_1
"Kenapa aku tidak tahu kalau kau bekerja di klub malam?"
"Karena kau tidak pernah bertanya." jawab Alvin dengan santainya sementara kedua matanya kembali fokus pada buku di hadapannya.
"Sejak kapan kau bekerja di tempat seperti itu?" tanya Dave lagi.
"Sejak kemarin."
"Wow..ini keajaiban. Keren sekali. Sahabatku akhirnya memasuki klub malam juga. Selama ini kau bahkan selalu menolak saat ku ajak."
"Ini berbeda. Aku di sana kan untuk menjadi pelayan, kalau kau biasanya hanya mengajakku bersenang-senang."
"Benar juga." Dave lalu mendekatkan wajahnya pada Alvin. "Lalu apa kau melihat banyak gadis cantik dan seksi disana?"
Alvin akhirnya memilih untuk menghentikan aktifitas membacanya dan mengangkat kepalanya, mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Dave tajam.
"Itu kan klub malam, Dave. Pastinya sangat banyak orang-orang yang seperti itu."
"Ah, benar juga." Dave mengangguk pelan. "Selain cantik mereka juga pasti sangat seksi. Lalu apa kau meminta nomor kontak salah satu dari mereka?"
"Bukankah sudah kukatakan padamu, aku di sana kan untuk bekerja. Aku cari uang, bukannya mencari pacar." ujar Alvin, matanya kembali menatap buku bacaannya.
Dave menggedikkan bahunya. "Ya, walaupun kau di sana untuk bekerja bukannya mencari pacar, tapi dengan wajah tampanmu itu para gadis juga pasti akan terpesona dan mendekatimu."
__ADS_1
Diam-diam Alvin tersentak oleh kalimat yang di ucapkan sahabatnya itu. Ia lalu tersenyum miris. "Itu tidak mungkin." ujar Alvin pelan.
"Kenapa?" tanya Dave heran.
"Karena aku ini pelayan. Mereka tidak mungkin mau mendekati pelayan sepertiku. Di banding aku, di sana justru banyak lelaki tampan, kaya dan jauh lebih memiliki segalanya."
"Ya, aku tau mereka memang kaya dan tampan. Tapi aku yakin tidak akan ada yang setampan kau." ujar Dave enteng. "Dan aku juga yakin, tidak semua wanita akan mencari lelaki yang kaya."
Alvin kembali menghentikkan aktifitas membacanya. Ia menutup buku bacaannya itu dengan kasar, lalu menatap Dave.
"Tidak ada wanita seperti itu, Dave." ujar Alvin dengan nada pesimis. "Tidak ada wanita yang bisa menerima seorang laki-laki miskin. Apalagi yang sangat miskin sepertiku ini."
Alvin lalu tersenyum miris. Membahas topik seperti ini hanya membuatnyaa kembali teringat dengan perlakuan Karina padanya beberapa waktu lalu. Ia teringat saat-saat dimana gadis itu menghinanya, mengatainya dan melecehkan harga dirinya.
Itu benar-benar menyakitinya bahkan membuatnya trauma untuk sekedar menjalin kasih dengan seseorang yang baru. Dan itu juga yang akhirnya membuat Alvin menganggap semua wanita sama dan mereka memang hanya akan mencari lelaki yang kaya raya.
Dave menatap Alvin lekat dan entah kenapa dia bisa menyadari ekspresi sedih dari sahabat dekatnya itu.
"Alvin, aku memang tidak tahu apa yang terjadi antara kau dan Karina yang akhirnya membuatmu jadi sangat pesimis seperti ini. Tapi percayalah! Apapun yang dia lakukan padamu pasti akan ada balasannya dan aku yakin kalau kau pasti juga akan menerima apa yang pantas kau terima."
Alvin langsung tersenyum setelah mendengar kata-kata bijak dari sahabatnya itu.
"Terima kasih karena telah menghiburku, Dave." ujar Alvin tenang. "Tapi aku tidak mau terlalu banyak berharap."
__ADS_1
Ia terus tersenyum sambil menatap sahabatnya itu. Ucapan Dave barusan memang membuat hatinya lebih tenang dari sebelumnya.
***