
Evelyn menekankan dahinya ke jendela kaca yang ada di kamarnya. Ia menghembuskan napas dalam-dalam sementara kedua matanya terus memperhatikan air hujan yang jatuh ke atas tanah di depan kamarnya.
"Mau sampai kapan kau memandangi hujan begitu?"
"Sampai di layar ponselku muncul nama Alvin." jawab Evelyn sendu.
Ziva yang sedang menatap ponsel hanya melirik sekilas dan memutar bola matanya malas. "Alvin lagi?"
"Ya, Alvin lagi. Kau tahu? Ini sudah berapa hari, tapi kenapa dia belum juga menghubungiku." ujar Evelyn melempar ponselnya ke atas meja dan berjalan menuju tempat tidurnya.
Evelyn menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia berbaring telentang dengan kedua mata menatap langit-langit kamarnya.
"Dia tidak menghubungiku sama sekali. Bahkan mengirim pesan pun tidak."
"Memangnya untuk apa dia menghubungimu." Ziva menatap sahabatnya heran. "Ada urusan apa dengannya?"
"Tidak ada."
"Lalu untuk apa dia menghubungimu saat kalian tak punya urusan apapun."
"Ayolah Ziva, dia sudah bersedia untuk berteman denganku. Bukankah itu artinya kami sudah menjadi teman sekarang. Jadi, aku rasa setidaknya dia bisa menghubungiku dan bertanya tentang kabarku. Sekali saja. Apa susahnya sih melakukan itu."
"Yah, aku rasa itu karena dia bukan tipe orang yang seperti itu."
"Ck, memangnya dia tipe seperti apa?"
"Mungkin dia bukan tipe yang suka menghubungi teman-temannya seperti yang kau harapkan. Jadi jangan berekspektasi tinggi pada orang lain.
Evelyn bangkit dari tidurnya untuk menatap sahabatnya itu. "Aku tidak berekspektasi."
"Kau berekspektasi, Eve. Dia hanya tidak menghubungimu tapi kau bertingkah seperti dia baru saja memblokir nomormu. Aku rasa reaksimu saja yang terlalu berlebihan terhadapnya" jelas Ziva.
Evelyn terdiam.
Ia lalu merapatkan bibirnya sambil menggerutu pelan. Apanya yang berlebihan dari mengharapkan pesan dari seseorang. Apalagi dia adalah orang yang kau sukai.
"Lalu bagaimana caraku mendekatinya kalau dia saja tidak menghubungiku bahkan saat kami masih berteman seperti ini."
"Kalau begitu kau saja yang menghubunginya."
"Aku?"
"Ya, kau saja."
"Tidak mau. Aku bukan wanita murahan."
"Siapa yang membuat aturan jika ada wanita menghubungi lelaki lebih dulu akan di sebut sebagai wanita murahan?"
"Bisa jadi Alvin berpikir begitu."
"Apa menurutmu Alvin akan berpikir begitu?"
__ADS_1
Evelyn kembali terdiam.
Pertanyaan Ziva membuat Evelyn langsung tersadar akan satu hal. Sepertinya Alvin memang bukan tipe lelaki seperti itu.
Evelyn menghela napasnya lelah.
Sebenarnya bukan mengharapkan pesan atau telepon dari Alvin. Tapi Evelyn hanya ingin mendengar suara Alvin saja. Ini sudah berapa hari setelah pertemuan terakhir mereka tapi pemuda itu tak memberinya kabar apapun.
Ia tak bisa menemui langsung pemuda itu karena beberapa waktu ini ia terlalu sibuk dengan jadwal kuliahnya yang padat.
"Kau tau, Ziva. Pemuda ini istimewa untukku."
"Istimewa?"
"Ya, di saat para lelaki sangat ingin mendapatkan nomor kontakku. Dia malah mengabaikan begitu saja saat nomor kontakku sudah tersedia di ponselnya. Dia memang bukan tipe pria yang mudah. Sangat berbeda."
Ziva mendecih. Ia tak menyangka bisa melihat Evelyn begitu bucin terhadap seseorang. Bertahun-tahun berteman dengan Evelyn, ini adalah kali pertama Evelyn bicara serius tentang lelaki.
"Evelyn, sungguh aneh melihatmu seperti ini." ujar Ziva menggelengkan kepalanya.
"Seperti ini?"
"Ya, seperti ini."
"Apa sebenarnya maksudmu. Bicaralah yang jelas, Ziva."
"Ck, jangan sok tidak sadar segalanya, Eve. Selama bertahun-tahun kita berteman, apa pernah kau bicara serius tentang laki-laki seperti hari ini. Ah, bukan hari ini saja. Tapi tiap hari. Bahkan, saking seriusnya, kau selalu membahasnya hingga aku hampir mati bosan. Kau juga gelisah karena tak mendapat kabar darinya. Apa kau pernah begini sebelumnya. Tidak, kan?"
"Aku hanya ingin kejelasan apakah dia menerima tawaranku atau tidak." Evelyn mencari-cari alasan.
"Dia tak akan menerima tawaranmu itu, Eve."
Evelyn sontak menatap Ziva dengan tatapan tajam, berharap sahabatnya itu diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Diam saja."
"Kenapa harus diam saat aku bisa bicara apa adanya. Dia tak akan mau melakukan hal kotor itu. Alvin itu bukannya lelaki jahat. Dia tak akan mau menerima tawaranmu itu."
"Kita lihat saja." gerutu Evelyn.
Ziva menatap Evelyn lekat-lekat. Apa sebenarnya yang Evelyn cari dari Alvin. Sejak awal ia seperti mengincar pemuda itu.
Evelyn bilang ia tertarik pada Alvin, tapi Evelyn kan bukan tipe wanita yang suka berbelit-belit. Lantas kenapa ia seperti membawa Alvin masuk ke dalam permainannya.
"Tapi, jika kau memang tertarik padanya, kenapa kau tidak mengajaknya pacaran sungguhan saja. Kenapa harus berbohong di hadapan Karina."
Evelyn menggeleng, "Aku tidak suka penolakan."
"Maksudnya?"
"Sebenarnya ada alasan lainnya kenapa aku lebih memilih berteman dengannya."
__ADS_1
"Oke, tentang apa ini?"
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Alvin yang sesungguhnya padaku. Dan aku juga tidak mau bertanya lebih dulu padanya. Jadi aku ingin memastikan semuanya terlebih dahulu. Maka dari itu aku mengajaknya berteman. Agar aku bisa mencari tahu bagaimana perasaannya padaku."
"Dan juga..." Evelyn menjeda kalimatnya. "Alvin, dia pria tanpa kepercayaan diri. Terakhir yang aku tahu, dia terlalu merendahkan dirinya sendiri. Dan aku tidak suka itu. Aku ingin dia tahu kalau dia luar biasa. Dan aku akan membuatnya menyadari betapa berharganya dirinya."
Ziva hanya bisa melongo mendengar perkataan Evelyn barusan. Gadis di hadapannya ini benar-benar seperti bukan Evelyn yang dia kenal. Sejak kapan ia bisa bicara demi kebaikan orang lain seperti ini
Belum sempat Ziva berkomentar apapun ponsel Evelyn berbunyi tanda pesan masuk. Gadis itu buru-buru mengambil ponselnya karena mengira itu pesan dari Alvin tapi ternyata bukan.
"Ini dari Daniel." gumamnya dengan raut kecewa, membuat Ziva terkekeh.
"Daniel mengirimimu pesan?"
"Ya, dia mengirimi aku pesan. Mengajak kita berdua untuk bertemu dia malam ini. Dia pasti mengirimimu pesan juga."
"Benar, pesannya baru masuk." jawab Ziva sambil mengarahkan layar ponselnya pada Evelyn.
"Kau mau ikut?"
"Maaf, aku tak bisa, malam ini aku sudah lebih dahulu ada janji makan malam dengan kekasihku."
Evelyn mengangguk dan menatap ponselnya, membalas pesan itu. Namun sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepalanya, membuatnya menyeringai senang.
"Aku tahu." ujar Evelyn menjentikkan jarinya.
"Tau apa?" tanya Ziva bingung.
"Jika dia tidak mau menghubungiku, biar aku saja yang menemuinya."
"Menemui siapa?"
"Alvin."
"Alvin?"
"Ya, kami akan bertemu malam ini. Aku akan menemuinya."
"Apa?"
Evelyn tak menjawab lagi pertanyaan Ziva itu. Gadis itu dengan cepat bangkit dari posisinya.
"Aku akan bersiap sekarang."
"Bersiap kemana?"
"Bertemu Daniel, apalagi memangnya?"
"Lalu apa hubungannya dengan Alvin." tanya Ziva namun Evelyn kembali tak menjawab pertanyaannya. "Hei, memangnya kemana kau dan Daniel akan pergi?"
Evelyn menghentikkan langkah dan berbalik ke arah Ziva. "Kami akan pergi ke klub malam milik ayahku. Tempat Alvin bekerja."
__ADS_1
***