
Monika tersenyum kecut pada orang yang berdiri tak jauh dari mereka. Usahanya untuk menggoda pelayan tampan ini harus kembali gagal karena kedatangan orang itu.
Alvin turut menoleh ke sumber suara. Ia bisa melihat sorang pemuda tampak berdiri di hadapan mereka sembari memegang sepuntung rokok di tangannya.
Alis Alvin tampak mengerut saat melihat siapa pemuda itu. Dia pemuda yang beberapa waktu lalu bersama dengan Evelyn.
"Apa aku salah masuk ruangan?" gumam lelaki itu menatap area sekitarnya lalu menggedikkan bahunya santai. "Aku rasa tidak. Aku tidak salah tempat. Ini memang toilet."
Setelah bicara dengan dirinya sendiri, lelaki itu lalu menatap kembali ke arah Alvin dan Monika. "Lantas kenapa ada orang yang tidak tahu tempat ingin berbuat mesum di sini?" gumamnya.
Mendengar tuduhan itu, Alvin dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak sedang melakukan hal mesum apapun di sini. Saya-"
"Memangnya apa urusanmu?" sanggah Monika kesal.
Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, menatap datar. "Apa?"
"Aku bertanya, memangnya apa urusanmu dengan ini. Dimana pun aku mau melakukannya, bukankah itu urusanku. Apa ada masalah?" Monika menatap lelaki itu dengan tatapan menantang.
"Dan juga, kalau kau ingin menggunakan toilet, bukankah toilet di sebelah utara gedung masih kosong? Aku sudah membayar penjaga agar tak bisa masuk kemari. Kenapa kau bisa masuk?"
Pemuda berwajah blasteran itu tak menjawab. Hanya menatap Monika sekilas lalu beralih pada Alvin, menatap pemuda itu lekat-lekat.
"Kau!" ujar lelaki itu sembari menunjuk ke arah Alvin sama sekali tak mengindahkan perkataan yang Monika lontarkan padanya barusan. "Kau ini kan pelayan yang tadi sempat mengantar pesanan di ruanganku?"
Alvin diam saja, menatap pria itu dengan raut wajah canggung sementara pria bule itu melangkahkan kaki mendekat padanya.
"Berhenti disitu!" tahan Monika. "Kau mau apa?"
Daniel menghentikkan langkahnya dan menatap Monika dengan tatapan heran. Menurutnya, gadis di hadapannnya ini sungguh mengganggu saja
"Maaf, Nona. Bisakah kau minggir dulu!"
"Apa?"
"Aku sedang bicara dengan pemuda ini. Tapi kau terlalu berisik."
"Siapa yang kau sebut berisik, hah?"
Pemuda itu tak menanggapi ucapan Monika untuk yang kesekian kalinya. Ia malah menolehkan pandangannya pada Alvin.
"Kau tahu siapa aku, kan? Aku Daniel. Orang yang tadi bersama Evelyn di ruang VIP." ujar Daniel mengulurkan tangannya.
Monika merasa kesal karena terus diabaikan oleh pemuda ini. Dan akhirnya memilih untuk menarik lengan Daniel, membuat lelaki itu mau tak mau menatap ke arahnya.
Daniel menatap Monika tajam.
"Minggirlah." ujar Monika. "Dia targetku untuk malam ini."
"Targetmu?" ujar Daniel kembali menatap Monika dari atas ke bawah dan memasang ekspresi seolah-olah Monika adalah gadis aneh. "Maaf sebelumnya, tapi pemuda ini tak boleh kau goda."
Monika mendecih, "Apa maksudmu?"
Pria bule itu mengepulkan asap rokoknya santai. "Kau tak perlu tau maksudku dengan jelas, Nona. Intinya, kau jauhi pemuda ini. Kau dilarang menggodanya."
"Ck, memangnya siapa kau berani mengatur-atur diriku?"
__ADS_1
"Siapa aku?" Daniel menahan diri untuk tak memutar bola matanya malas, "Aku tak perlu memperkenalkan diriku padamu. Tapi kalau kau mau tau, biar aku jelaskan. Selama ini banyak orang memanggilku tuan muda. Dan aku bisa membuatmu di depak dari klub ini, malam ini juga."
"Tuan muda? Ck, jangan mengada-ada." Monika tersenyum sinis.
Jujur saja, menurut Monika pemuda di hadapannya ini memang tampan layaknya tuan muda, tapi ucapannya barusan terlalu absurd, membuatnya berpikir kalau pemuda ini sedikit gila.
Daniel menatap Monika dengan senyum penuh percaya diri.
"Sebenarnya aku ini bukanlah orang yang suka ikut campur urusan orang. Tapi karena dia adalah seseorang yang ku kenal, sepertinya kali ini aku akan ikut-ikutan."
"Berhenti bicara omong kosong dan pergilah dari sini. Kau mulai menggangguku, sialán!"
Mendengar kata 'sialán' membuat Daniel jadi tersinggung. Selama ini tak pernah ada yang menyebutnya seperti itu. Ia yang tak terima kata umpatan itu kemudian bergerak maju.
"Kau sendiri, bisakah kau berhenti menjadi jaláng dan menjauhlah dari temanku."
"Ck, ck, ck, kata-katamu sungguh busuk, Tuan Muda." ujar Monika sinis. "Apa kau tidak bisa menghargai wanita. Bicaralah dengan baik."
Daniel mendengus mendengar ucapan wanita itu.
"Menghargai?" Daniel mengulangi dengan nada ketus. Ia membuang puntung rokok ke lantai dan menginjaknya dengan sepatu.
Daniel lalu melangkahkan kakinya mendekat pada Monika.
"Mungkin jika kau berbicara dengan baik padaku sejak awal aku akan lebih cenderung menjawab dengan baik pula." ujar Daniel menggedikkan bahunya santai. "Lagipula, kau mengganggu temanku. Itu bahkan bukan hal yang baik. Jadi, aku sarankan kau tidak perlu membahas apa itu 'hal baik' padaku."
Teman?
Alvin yang sejak tadi mendengarkan perdebatan kedua orang itu tampak heran dengan pengakuan Daniel.
Alvin menatap Daniel, tapi pemuda itu memasang raut biasa, matanya masih menatap pada Monika tajam.
Monika menatap terkejut, matanya tampak membulat. "Dia temanmu?"
"Kenapa masih bertanya juga. Apa kau tidak bisa membaca situasi dan menyimpulkan kalau kami berteman? Ah, mungkin matamu itu punya gejala kebutaan."
"Tutup mulutmu, sialán!"
"Kau yang tutup mulut, Nona. Kurasa lebih baik kau jauhi temanku dan pergi dari sini!"
"Siapa kau berani mengusirku dari sini."
"Jangan coba-coba mencari tahu. Kau akan menyesal jika tahu siapa aku." Daniel tersenyum. "Ah, aku juga akan melaporkan masalah ini pada pemilik klub ini agar dia melarangmu masuk ke klub ini lagi." ujar Daniel.
"Kau-"
"Pergi atau satpam yang akan mengusirmu?"
Monika menatap Daniel yang sudah bersiap mengeluarkan ponselnya. Entah kenapa hatinya tiba-tiba yakin kalau Daniel benar-benar bisa membuatnya dilarang masuk ke dalam klub ini lagi.
Tidak. Klub ini adalah tempat favoritnya. Ia sering menghabiskan waktu dengan pria-pria di klub ini. Jangan sampai ia kehilangan keistimewaan ini.
Monika memilih mundur. Ia berbalik kemudian melangkahkan kakinya pergi dari toilet itu.
"Lain kali aku akan membalasmu." ujar Monika sebelum menghilang di balik pintu.
Alvin hanya terdiam di posisinya memandang kepergian gadis itu. Dan setelah memastikan kepergian Monika, ia berjengit terkejut saat mendapati Daniel yang sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf." ujar Alvin memegangi dadanya.
Daniel mengangguk paham. "Kau kaget. Tapi ngomong-ngomong terima kasih atas bantuannya barusan." ujar Alvin pada akhirnya, berusaha mengakhiri kecanggungan di antara mereka berdua.
Daniel mengangguk singkat, "Tak masalah. Senang bisa membantu."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
"Tunggu dulu."
"Ya?"
"Siapa namamu?" tanya Daniel menatap Alvin selama beberapa detik, seolah menuntut jawaban.
Alvin menatap pemuda di hadapannya itu dengan tatapan bingung. Namun, meskipun begitu ia tetap merasa perlu untuk menjawabnya.
"Alvin."
"Sejujurnya aku tau namamu." Daniel lalu tertawa sendiri. "Dan bisa aku tau apa hubunganmu dengan Evelyn?"
Alvin mengerutkan dahi. Kenapa pria ini malah membahas Evelyn. Ah, Alvin mengerti. Ia yakin, alasan Daniel bertanya adalah karena ia sempat bertegur sapa dengan Evelyn beberapa saat yang lalu.
"Tuan jangan khawatir. Juga jangan salah paham pada saya. Saya ini bukan kekasih nona Evelyn. Saya hanya pelayan, jadi tidak akan berani menggodanya."
Daniel menatap Alvin dengan heran.
"Apa maksudmu?"
"Ya?"
"Aku bahkan tidak peduli kau menggodanya atau tidak. Aku hanya bertanya apa hubunganmu dengan Evelyn. Ngomong-ngomong aku tidak percaya kalau kau ini pelayan."
Alvin mengerutkan alisnya bingung tapi tetap menganggukkan kepalanya. "Tapi saya memang pelayan."
"Ya, aku hanya menilai. Kau memang terlalu tampan untuk menjadi pelayan. Itu sebabnya para wanita mengejarmu. Seperti yang tadi." Daniel lalu menatap Alvin dengan cengiran lebar, "tapi kenapa kau pikir aku ini kekasih Evelyn?
"Bukan begitu." Alvin buru-buru mengibaskan tangannya, "saya hanya berniat untuk memperjelas posisi saya sendiri."
"Jangan berpikiran apa-apa. Lagipula tak ada untungnya bagi diriku jika kau memperjelas posisimu begitu."
Daniel lalu menatap penampilan Alvin dari atas ke bawah.
"Tapi kalau mengabaikan pakaian pelayan ini, aku yakin penampilanmu pasti akan luar biasa sekali. Yah, aku bisa melihat alasan kenapa sahabatku bisa tertarik padamu."
"Ya?"
"Kau tidak tahu dia menyukaimu?!"
"Maaf, tapi tentang apakah ini?"
"Tentang Evelyn. Kau tak tau?" Daniel menatap penasaran. "Evelyn tertarik padamu."
***
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm
__ADS_1