Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
132


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang ke rumah." ujar Alvin sambil melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.


Evelyn menoleh kemudian menganggukkan kepalanya. Menatap Alvin dengan senyum kecil di wajahnya.


"Tidak masalah." jawab Evelyn kemudian.


"Maaf karena anda harus repot-repot mengantarkan aku pulang seperti ini." Alvin jadi merasa tak enak.


"Hei, jangan sungkan begitu. Ini sama sekali bukan masalah besar untukku, Alvin."


Daniel yang mendengar perkataan Evelyn hanya memasang raut wajah sinis, seolah mengejek perkataan Evelyn barusan.


"Ya Alvin, dia tak akan masalah jika hanya mengantarkan dirimu pulang. Dia bahkan bisa mengantarkanmu setiap hari." ujar Daniel sinis.


"Diam saja." sentak Evelyn.


Daniel memutar bola matanya malas dan kembali menatap Alvin.


"Pikirkan saja kalau itu aku. Dia tak akan sudi. Apa kau tau? Dia bahkan rela jadi supir pribadimu hari ini. Dan Evelyn tak pernah mau melakukan ini untuk siapapun." celetuk Daniel lagi sembari menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil Evelyn.


Evelyn kembali menoleh dan menatap Daniel dengan tajam.


"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk diam? Lebih baik kau tutup saja mulutmu itu, Daniel, sebelum aku yang menutupnya."

__ADS_1


Daniel hanya menanggapi ancaman itu dengan gedikan bahu santai. Ia tidak merasa sedang bicara sembarangan saat ini.


Menurut Daniel apa yang dia katakan itu adalah sebuh fakta. Evelyn sungguh tampak seperti budak cinta dimatanya sekarang.


Bayangkan saja, beberapa waktu lalu, Alvin minta di antar di sebuah halte bis, tapi Evelyn malah menawarkan untuk mengantarkan Alvin pulang, bahkan sampai ke halaman rumahnya.


Selama ini, Evelyn mana pernah mau membuang waktunya seperti ini, kecuali kau adalah seseorang yang istimewa baginya.


Daniel bisa melihat kalau Alvin sudah seperti seseorang yang amat istimewa bagi Evelyn. Ia memperlakukan pemuda itu dengan berbeda dari yang lain.


Pemuda itu pasti punya sesuatu hal yang membuatnya begitu istimewa dimata Evelyn.


"Ngomong-ngomong, ini rumahmu?" tanya Daniel menatap ke arah rumah Alvin.


Alvin turut menoleh keluar mobil, menatap pada rumahnya. "Benar. Ini rumahku."


"Rumahku hanya sebesar ruang tamu anda berdua." jelas Alvin lalu menyatap Evelyn dan Daniel dengan cengiran.


Evelyn tak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum sebagai tanggapan.


"Boleh kami masuk?" tanya Daniel sumringah tapi Evelyn langsung memelototkan mata padanya.


"Tidak, kami tak akan masuk. Kami akan pulang saja sekarang." ujar Evelyn dengan cepat. Ia tak mau Daniel mengganggu Alvin lagi.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? Aku bertanya pada Alvin. Bukan padamu."


"Tapi tak masalah jika anda ingin mampir?" tawar Alvin sopan.


"Ya! Tentu saja aku akan-"


"TIDAK!" pekik Evelyn kembali memotong ucapan Daniel. Ia menatap Daniel tajam lalu dengan cepat beralih lagi pada Alvin. "Aku tahu kau akan bekerja sore ini. Pasti kau butuh waktu untuk istirahat, kan? Bekerja di klub itu butuh banyak istirahat karena harus bekerja sampai pagi."


Daniel menatap Evelyn dan Alvin bergantian kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ah, benar, kau pegawai di klub malam itu. Aku hampir lupa." Daniel menepuk-nepuk dahinya.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kau masuklah dan istirahat. Tubuhmu itu akan terasa lebih baik setelah kau beristirahat nanti."


Alvin menganggukkkan kepalanya. "Ya, sekali lagi terimakasih atas tumpangannya."


"Ya, sama-sama." ujar Evelyn.


"Sampai bertemu lagi." ujar Daniel mengangkat tangannya sebagai salam perpisahan.


Alvin dengan cepat turun dari mobil milik Evelyn dan memberikam salam perpisahan yang terakhir pada Evelyn dan Daniel.


Evelyn dengan cepat mengendarai mobilnya untuk meninggalkan rumah Alvin. Sementara Alvin hanya menatap kepergian gadis itu.

__ADS_1


Dan setelah memastikan mobil Evelyn telah menghilang di tikungan gang, Alvin langsung memasuki rumahnya.


***


__ADS_2