
Begitu masuk, Alvin hanya bisa menatap takjub seisi ruangan yang menampilkan ruangan besar yang berisi pernak pernik mewah itu.
Pemuda itu terus mengedarkan pandangannya hingga akhirnya ia melihat seorang pria yang berusia sekitar lima puluh tahunan tengah duduk di meja kerjanya, fokus menatap komputer yang ada di hadapannya dan beberapa buku catatan lainnya. Dia pasti manajer yang di maksud wanita cantik ini.
"Maaf, Mr Robert." seru wanita cantik tadi pada sang manajer dengan nada sopan.
"Ya?"
"Pemuda ini mengatakan dia ingin melamar pekerjaan di sini."
Pria yang di panggil Mr. Robert itu menghentikkan kegiatannya. Ia menoleh sebentar pada Alvin dan kembali fokus pada layar komputer di hadapannya.
"Bawa dia kemari, lebih dekat padaku." perintah Mr Robert pada gadis cantik itu.
Alvin di tuntun hingga berada tepat di depan meja kerja Mr Robert. Setelah itu, baru-lah wanita cantik itu pamit pergi, meninggalkan Alvin berduaan bersama pria paruh baya itu.
Keadaan hening sesaat.
"Permisi, Pak?"
Alvin akhirnya mulai membuka percakapan lebih dahulu karena pria paruh baya itu tak kunjung mengajaknya bicara.
Mr. Robert mengangkat pandangannya untuk menatap Alvin. Ia menatap penampilan Alvin dari atas ke bawah sebelum kemudian berbicara.
"Silahkan, kau duduklah dulu." ujar Mr Robert.
"Baik."
Alvin menganggukkan kepalanya lalu dengan sedikit canggung menarik kursi di hadapannya dan segera mendudukkan dirinya tepat di hadapan pria paruh baya itu.
__ADS_1
Namun setelah itu keadaan kembali menjadi hening selama beberapa saat karena pria paruh baya itu kembali melihat layar komputernya. Hal itu membuat Alvin jadi merasa gelisah sendiri tapi ia masih berusaha menunggu.
Tak lama kemudian, Alvin menyerah dengan segala keheningan itu dan kembali membuka percakapan.
"Ehm, jadi begini pak, sebenarnya tadi saya sempat melihat brosur lowongan pekerjaan yang berada di depan gerbang. Saya ingin bertanya, apa saya bisa me-"
"Berapa umurmu?" tanya Mr. Robert tiba-tiba, memotong kalimat Alvin.
"Ya?"
Pria tua itu melirik Alvin sembari menghela napasnya pelan.
"Berapa umurmu? Maksud saya adalah kamu terlihat sangat muda. Perlu kamu tau, pekerjaan di tempat ini ada batasan usia."
"Batasan usia?"
"Benar. Hanya orang-orang yang berusia minimal sembilan belas tahun ke atas yang diizinkan bekerja di sini." jelas Mr. Robert.
"Dua puluh?"
Alvin mengangguk. "Benar."
Manajer itu menatap Alvin dari atas kebawah. Ia tampak tak percaya. Perawakan Alvin lebih terlihat seperti anaknya yang masih berusia tujuh belas tahun di banding dua puluh tahun.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat seperti anak tujuh belas tahun?"
"Hah?"
"Kau tidak sedang berbohong, kan?" tanya pria paruh baya itu ragu.
__ADS_1
Alvin menatap penampilannya sendiri dengan bingung lalu menggeleng cepat.
"Saya dua puluh tahun, pak. Saya bisa menunjukkan kartu identitas saya sebagai bukti."
Setelah mengatakan itu Alvin mengeluarkan dua kartu identitas miliknya. "Ini KTP saya dan yang ini kartu mahasiswa saya." jelasnya.
"Kau mahasiswa?"
"Ya, saat ini saya mahasiswa semester empat di salah satu perguruan tinggi."
Mr. Robert meraih kedua kartu itu dan membaca dengan teliti. Pria tua itu menatap Alvin dan kartu identitasnya secara bergantian. Ia kembali menatap Alvin selama beberapa saat sebelum kemudian menyerahkan kembali kartu itu pada Alvin.
"Lowongan pekerjaan yang masih tersisa adalah bagian pelayan. Menjadi pelayan, apa kamu tak masalah dengan itu?"
"Tentu saja tidak, Pak. Saya bersedia."
"Kamu yakin?" tanya manajer itu lagi masih dengan nada ragu.
"Bisa pak, saya yakin seratus persen." Alvin berujar antusias sambil menganggukan kepalanya. "Jujur, sebelumnya saya juga bekerja sebagai pelayan."
"Pelayan di mana?" tanya pria tua itu.
"Di sebuah restoran, pak."
Pria tua itu mengangguk paham. "Baiklah, bisa saya tahu siapa namamu? Saya tidak terlalu memperhatikan namamu di kartu identitas tadi."
"Alvin Danu. Tapi bapak bisa memanggil saya Alvin saja." jawab Alvin dengan sopan.
Pria tua itu kembali menganggukkan kepalanya, paham. "Baiklah Alvin, kamu di terima di sini."
__ADS_1
***