Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
14


__ADS_3

Evelyn memejamkan kedua matanya mencoba untuk merilekskan tubuh dan pikirannya yang terasa kusuk.


Saat ini mood Evelyn serasa di obrak-abrik. Dan tampaknya tak ada hal yang bisa memperbaiki moodnya.


Ah tidak.


Satu-satunya hal yang berhasil merubah moodnya hanyalah saat ia mengingat wajah pemuda yang hampir ia tabrak beberapa waktu lalu.


Dan detik itu juga, ia malah kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu. Itu adalah kejadian saat supirnya hampir menabrak seorang pengendara sepeda motor berwajah tampan.


Sebenarnya saat sang supir turun untuk mengecek kondisinya, Evelyn sempat memandangi wajah tampan dari pemuda pemilik sepeda motor itu dari dalam mobilnya.


"Wajah pemuda itu." gumamnya.


"Ah… wajahnya tampan sekali. Sangat tampan. Kenapa aku begitu terpesona padanya?" gumam Evelyn sambil tersenyum simpul.


"Bagaimana kalau aku menjadi kekasihnya, ya?"


Evelyn menghela. Ia baru ingat kalau selama ini ia bahkan tak pernah menjalin hubungan dengan orang yang benar-benar ia sukai.


Evelyn dan para lelaki itu hanya tidur bersama, bukan menjalin hubungan yang sesungguhnya.


"Bukankah akan menyenangkan jika menjadi kekasih dari orang yang benar-benar kau sukai?" Evelyn terus bicara pada dirinya sendiri.


Namun detik itu juga ia langsung tersentak dengan kalimatnya sendiri.


Evelyn merasa heran kenapa ia malah terus menerus memikirkan pemuda asing itu?


"Oh, ayolah Evelyn, pemuda itu bahkan baru kau lihat sekali seumur hidupmu. Bukankah ini aneh…" gumam Evelyn.


'Apa aku benar-benar tertarik padanya?' batin Evelyn yang kembali bicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ah, aku jadi ingin bertemu dengannya lagi. Tapi sayang, keberuntungan tidak datang dua kali."


Tok! Tok! Tok!


Di sela lamunannya indahnya itu tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar Evelyn.


Menyadari suara ketukan itu Evelyn hanya menghela napasnya malas. Sungguh, ini sebuah gangguan yang tak perlu.


Tok! Tok! Tok!


Sekali lagi, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Membuat Evelyn jadi kesal sendiri.


"Masuk!" perintah Evelyn tanpa menoleh ke arah pintu.


"Permisi, nona!" ujar seorang pelayan wanita sambil membungkukkan setengah badannya sesaat setelah membuka pintu kamar Evelyn.


Evelyn menolehkan pandangannya untuk menatap pelayan yang baru saja memasuki kamarnya itu.


"Seseorang baru saja datang untuk menemui anda, nona."


"Siapa?"


"Seseorang bernama Zivanya, yang mengaku sebagai sahabat dekat anda. Dan beliau mengatakan ingin bertemu dengan anda." ujar pelayan itu dengan nada sopan.


"Zivanya? Sahabatku?" tanya Evelyn.


Sang pelayan mengangguk mengiyakan. "Ya, nona. Benar. Dia bilang dia sahabat anda."


Evelyn menatap pelayan itu selama beberapa detik kemudian menghela kasar.


"Ya ampun." keluh Evelyn. "Apa kau pelayan baru di sini?"

__ADS_1


"Sa-saya…"


"Berapa lama kau bekerja di sini?"


"Sa-satu minggu, nona."


"Satu minggu? Bukankah itu artinya kau sudah mendapat penjelasan dari kepala pelayan atau pelayan senior tentang apa yang harus di lakukan?"


"Ya?" Sang pelayan malah menatap Evelyn bingung.


Evelyn memutar bola matanya malas.


"Semestinya kau tahu apa yang harus di lakukan jika Ziva datang menemuiku." ujar Evelyn.


"Maaf nona?" pelayan itu masih menatap Evelyn bingung.


"Ya ampun." Evelyn mendecih menyadari betapa bodohnya pelayan baru ini. "Kau bilang sahabatku datang, kan?"


Sang pelayan mengangguk. "Ya nona."


"Lalu kenapa kau malah ke sini? Kau harusnya menerimanya dengan baik. Kau sudah membuat sahabatku menunggu di luar? Harusnya tadi kau suruh dia langsung kemari saja." Evelyn memerintah sang pelayan dengan ketus.


"Ba-baik, nona." ujar sang pelayan gugup dan segera keluar kamar untuk memanggil Ziva.


Setelah kepergian sang pelayan, Evelyn hanya menggerutu sendiri.


Sebenarnya ia hampir tak pernah marah pada siapapun. Tapi hari ini berbeda. Mood-nya sangat aneh. Entah kenapa ia merasa begitu.


Jadi, itulah sebabnya, kesalahan kecil hanya akan membuatnya merasa kesal setengah mati.


***

__ADS_1


__ADS_2