Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
81


__ADS_3

Dalam hati Alvin merasa heran. Apa ia tak salah lihat? Karina berdiri di hadapannya lagi pagi ini dan baru saja mengajaknya bicara… dengan nada lembut.


Mana mungkin. Alvin pasti mengigau di pagi hari. Gadis itu mana mungkin tiba-tiba saja muncul dan menyapanya.


"Alvin." seru gadis itu lagi, menyadarkan Alvin dari lamunan kecilnya.


"Ka-Karina?"


"Ya, ini aku." ujar Karina lembut.


Dengar itu! Sekali lagi. Sekali lagi gadis itu bicara dengan nada yang begitu lembut pada dirinya. Sikap gadis itu membuat Alvin semakin mengerutkan dahinya heran.


Seingat Alvin, Karina tak pernah bicara seperti ini padanya. Nada bicara ini memang pernah Karina gunakan, tapi hanya satu kali, itupun saat gadis itu sedang mencoba mendekati dirinya dulu.


Ada apa dengan gadis ini. Kenapa tiba-tiba berubah begitu drastis seperti ini?


Tatapan Alvin tiba-tiba berubah datar dalam sedetik.


"Ada apa denganmu?" tanya Alvin tajam.


"Ada apa denganku?" jawab Karina bingung.


"Nada bicaramu..."


"Ada apa dengan nada bicaraku?"


"Kau bicara seakan sedang-" Alvin menghentikan kalimatnya.


Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya. Bukankah sudah jelas ini adalah siklus yang sama. Awalnya mereka tanpa sengaja bertemu, lalu gadis itu akan mengatai dirinya macam-macam dengan kasar dan buruk, seperti kemarin.


Jadi, dari pada ia harus mendengarkan ocehan kasar tak jelas dari Karina lagi, lebih baik jika ia tak perlu berhubungan apapun lagi dengannya entah apapun itu alasannya.


"Lupakan saja!" ujar Alvin sembari mengibaskan tangannya kemudian tanpa pamit ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju gedung fakultasnya.


"Alvin, tunggu!" ujar Karina yang melihat Alvin melangkah pergi. Ia berlari mengejar pemuda itu dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah pemuda itu.


Alvin yang terkejut sempat melirik tapi lebih memilih untuk berjalan lebih cepat. Ia tak ingin mendengar hinaan apapun yang akan keluar dari mulut gadis itu.


"Alvin aku bilang tunggu." ujar Karina kemudian dengan cepat menahan lengan kanan Alvin.

__ADS_1


Alvin akhirnya menghentikkan langkahnya dan menatap wajah Karina dengan raut kesal.


"Kenapa kau mengikutiku?" Alvin jelas merasa terganggu oleh Karina yang mengikuti langkahnya seperti ini.


"Kalau ingin menghinaku seperti sebelumnya lebih baik lupakan saja. Aku tak akan menanggapi apapun." lanjut Alvin kemudian melanjutkan langkahnya.


"Tunggu dulu." tahan Karina.


"Aku ingin ke kelasku, Karina."


"Iya, tapi tunggu sebentar dulu."


"Apa lagi yang kau mau dariku sekarang?" tanya Alvin dengan ekspresi kesal yang terlihat jelas. "Mau menghinaku apa lagi kali ini?"


Karina tersenyum canggung melihat ekspresi kesal Alvin saat ini. Pemuda itu tak pernah menatapnya dengan tatapan seperti ini sebelumnya. Alvin selalu menatapnya dengan tatapan cinta. Dan juga, perkataan pemuda ini sangat tajam hingga menusuk hatinya.


"Aku menemuimu pagi ini bukan untuk hal seperti itu." jelas Karina.


Alvin menatap Karina heran. "Jadi untuk apa lagi?"


Karina balas menatap Alvin. "Aku cuma mau bicara. Ah, bukan, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Menanyakan apa?"


"Gadis kemarin.?"Alvin menaikkan sebelah alisnya setelah menyadari sesuatu, "Apa maksudmu Evelyn?"


Karina mengangguk. "Ya, dia. Bisa aku tahu apa hubunganmu dengan gadis itu?"


"Bukankah kau sudah punya jawabannya?"


Karina menggeleng, "Sebelumnya aku hanya mendengar dari mulut gadis itu. Dan ya, kau juga sempat mengakuinya kemarin. Tapi saat ini, aku hanya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. Tanpa adanya gadis itu disini. Sekali lagi tolong jawab aku. Apa kau benar-benar memiliki hubungan dengannya atau tidak?"


"Memangnya apa bedanya mendengarnya langsung dariku atau tidak?"


"Hanya untuk meyakinkan diriku."


"Apa?"


"Aku hanya ingin tahu apa kau benar-benar sudah melupakan aku atau tidak. Aku ingin kau menjawab dengan menatapku. Kau tidak akan bisa bohong jika menatap mataku."

__ADS_1


Alvin memalingkan wajahnya dan tersenyum sinis. Ia tak tahu kenapa Karina bertingkah aneh seperti saat ini. Apa tujuan gadis ini sebenarnya?


"Maksudmu, aku harus membuang waktuku hanya untuk meyakinkan dirimu?" Ujar Alvin dengan nada menusuk.


"Bukan begitu maksudku, Alvin."


"Lalu apa?" sentak Alvin. Ia benar-benar kesal saat ini. Bisakah Karina menjauh saja dari hidupnya. Ia lelah kalau harus terus menerus berurusan dengannya.


Alvin menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Karina, kau tahu jelas kalau selama ini aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini."


"Seperti ini?"


"Ya, seperti ini, membahas urusan pribadi. Aku tidak pernah membahas hubunganku denganmu pada orang lain saat kita masih bersama, bukan?"


"Ya, memang benar."


"Dan kau… sekarang kau adalah orang lain bagiku. Jadi aku punya hak untuk tidak menjelaskan apapun padamu."


Karina menelan ludahnya kasar.


"Tapi untuk masalah ini, aku-"


"Maaf Karina, tapi sepertinya aku harus pergi sekarang." ujar Alvin sembari melirik jam di pergelangan tangannya.


"Kami pernah bertemu."


Alvin mengerutkan dahinya. "Apa?"


"Aku dan gadis itu, Evelyn. Kami pernah bertemu sebelumnya. Kami bertemu diklub malam tempat kau bekerja. Dan dia mencari masalah denganku. Dia menyiramkan minuman padaku. Dengan sengaja. Dia bukan gadis yang baik, Alvin."


"Evelyn bukan gadis seperti itu." bela Alvin tak percaya. "Dan Karina, aku tidak punya waktu untuk menanggapi hal konyol ini."


Wajah Karina memucat.


Ini pertama kali bagi dirinya merasa begitu di acuhkan. Terutama oleh Alvin. Selama ini pemuda itu tak pernah mengacuhkan dirinya seperti ini. Alvin bahkan tak mempercayai kata-katanya.


"Alvin, tunggu." seru Karina.


Tapi tampaknya seruan Karina itu sama sekali tak di pedulikan oleh Alvin.

__ADS_1


Pemuda itu terus melangkah meninggalkan Karina sendirian di tempat itu. Hal iti membuat Karina mengepalkan telapak tangannya, kesal.


***


__ADS_2