Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
78


__ADS_3

Evelyn menambah kecepatan mobilnya, seakan ia tengah di kejar oleh sesuatu yang menakutkan. Ah, bukan. Ia bukannya takut. Tapi malu.


Tentu saja ia malu. Bagaimana tidak. Ia baru saja asal mengakui seseorang sebagai kekasihnya. Bagaimana ia masih punya muka sekarang?


Ah, rasanya ingin sekali Evelyn pulang ke rumah dan bersembunyi di dalam selimut di kamarnya.


"Nona, lampu merah!" seru Alvin membuat Evelyn tersadar.


Evelyn dengan cepat mengerem mendadak mobilnya.


"Ya ampun. Maaf!" ujar Evelyn.


Ah, lihatlah ini, saking malunya Evelyn, ia sampai lupa kalau Alvin tengah berada di sampingnya, di dalam mobilnya, bersamanya.


Pemuda itu saat ini tampak memegangi sabuk pengamannya dengan erat. Mungkin takut akan terjadi sesuatu padanya karena ulah ceroboh Evelyn.


Sembari menunggu lampu lalu lintas berubah warna, Evelyn mengetuk-ketuk stir mobilnya, canggung.


Mata Evelyn melirik Alvin sekilas. Pemuda itu masih tampak duduk diam di posisinya. Evelyn juga diam. Tak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apapun.


Evelyn diam-diam kembali melirik Alvin yang duduk dengan canggung di sebelahnya kemudian kembali menatap ke jalanan di hadapannya.


"Nona, lampunya sudah hijau." ujar Alvin beberapa detik kemudian, kembali mengingatkan Evelyn.


"Ah, y-ya." Evelyn gelagapan dan kembali menancap gas mobilnya.


Dua kali. Sudah dua kali Evelyn kehilangan fokusnya. Ia bahkan tak menyadari lampu lalu lintas sudah berganti menjadi hijau.


Evelyn bahkan bisa mendengar bunyi klakson dari kendaraan lain yang ada di belakangnya mengingat mobil yang mereka kendarai memang berada di posisi paling depan.


Sembari menyetir, diam-diam Evelyn menarik napas dalam dan membuangnya dengan hembusan panjang, terus mencoba untuk menenangkan dirinya.


Entah kenapa semenjak hadirnya Alvin, sudah seperti berhasil mengacaukan fokus hidupnya. Ia bahkan sampai melakukan hal konyol dengan mengaku sebagai kekasih pemuda itu. Ya, meskipun niatnya memang untuk menolong Alvin.


"Siálan!" umpat Evelyn.


Dengan gerakan kasar, Evelyn lalu membanting stirnya ke kiri, menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan langsung mematikan mesin mobilnya.


Sementara itu, Alvin tampaknya terkejut dan tersentak dari posisinya di kursi mobil saat Evelyn berhenti tiba-tiba. Untung saja sabuk pengaman yang Alvin kenakan berhasil menahannya dari gerakan ekstrim itu.


Evelyn sadar hampir saja mencelakai pemuda di sebelahnya itu. Ia langsung menatap pemuda itu dengan khawatir.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Evelyn.


"Ya, aku baik-baik saja." ujar Alvin tersenyum canggung.


"Benar tidak apa-apa?"


"Ya, nona."


Evelyn menghembuskan napasnya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan dahinya pada stir mobil yang ia pegang, memilih diam selama beberapa saat, menenangkan dirinya sendiri dari pikirannya yang terasa amat kacau.


Alvin menatap Evelyn bingung, "Apa anda baik-baik saja?"

__ADS_1


Evelyn tak menjawab, masih tetap mempertahankan posisi menunduknya.


"Maafkan aku." ujar Evelyn tiba-tiba dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti berbisik.


Alvin mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan Evelyn itu, tapi ia langsung menggelengkan kepalanya. "Ah, aku tidak apa-apa, Nona. Aku kan tadi mengenakan sabuk pengaman, jadi-"


"Bukan itu."


"Ya?"


Evelyn masih menutup kedua matanya. Detik selanjutnya ia menegakkan kembali tubuhnya, menatap lurus ke jalanan di depan.


"Aku bukannya minta maaf tentang hal itu." jelas Evelyn.


"Jadi, anda minta maaf tentang apa?" Alvin tersenyum bingung.


Evelyn lalu menoleh ke arah Alvin, menatap pemuda itu lekat-lekat. "Barusan itu aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu sebelumnya."


"Memangnya apa yang Nona lakukan padaku." Alvin tertawa sembari menatap Evelyn bingung.


"Ini tentang aku yang seenaknya mengaku-ngaku sebagai kekasihmu, di hadapan mantan pacarmu tadi." jelas Evelyn.


"Ah, tentang itu rupanya." gumam Alvin. Alvin menganggukkan kepalanya mengerti atas kegelisahan Evelyn.


"Itu pasti mengejutkanmu, ya?"


"Sedikit. Itu memang sedikit mengejutkan untukku tadi. Tapi aku sama sekali tak masalah. Aku bisa mengerti niat Nona melakukan itu."


"Benarkah, tak masalah bagimu?"


Evelyn lalu menundukkan kepalanya, tersenyum miris. "Sejujurnya hal ini agak memalukan untukku."


Alvin seketika membeku di posisinya. Diam-diam muncul rasa kecewa di hatinya.


Apa kata Evelyn barusan, memalukan? Jadi, apakah begitu memalukan bagi Evelyn sudah mengaku sebagai kekasihnya tadi.


"Benar juga, pasti akan sangat memalukan bagi anda untuk melakukan itu. Untung saja tak ada orang lain yang mendengarnya selain Karina."


Evelyn menoleh, menatap Alvin dengan alis berkerut. Pemuda itu tampak menunduk. Oke, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Arah pembicaraan mereka tampaknya sudah berbeda.


"Alvin."


"Nona tenang saja. Tidak akan ada yang percaya kalau kita menjalin hubungan. Bahkan Karina saja tak akan percaya. Jadi hal ini tidak akan terlalu memalukan bagi nona."


"Tidak. Bukan begitu maksudku." jelas Evelyn.


"Lalu?"


"Maksudku, di sini justru aku yang merasa malu padamu karena sudah berani mengaku-ngaku sebagai kekasihmu. Aku sangat malu dan merasa tak enak padamu, kita bahkan baru saja saling kenal tapi sikapku sungguh kurang ajar."


"Kurang ajar?" Alvin mengerutkan alisnya heran. "Apa yang membuat anda merasa seperti itu?"


Evelyn menghela napasnya perlahan,

__ADS_1


"Tentu saja karena aku sudah tanpa izin malah mengaku-ngaku menjadi kekasihmu dihadapan mantanmu itu. Bagaimana aku bisa melakukan hal memalukan seperti itu."


Alvin sadar, ia baru saja salah paham pada nona muda ini.


"Nona tidak perlu merasa tak enak seperti itu."


"Bagaimana bisa? Itu hal yang konyol Alvin!"


"Dan aku sama sekali tidak keberatan dengan itu, Nona." jawab Alvin membuat Evelyn tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya, percayalah. Aku baik-baik saja." jawab Alvin meyakinkan.


Evelyn mengangguk.


"Ya, tapi sekali lagi aku minta maaf padamu. Ini semua terjadi karena aku merasa sangat kesal pada mantanmu itu karena dia sudah berkata seenaknya padamu. Dasar gadis sialán!" umpat Evelyn memukul stir mobilnya.


"Sejujurnya, aku tidak masalah dengan hal itu."


"Tidak masalah bagaimana?" kesal Evelyn. Ia mengeratkan pegangannya pada stir mobil, meremāsnya kuat-kuat, menahan amarah.


Alvin tersenyum ragu. "Aku sungguh tidak apa-apa dengan itu, Nona."


"Bagaimana kau bisa menerima begitu saja perbuatan jahatnya itu? Bagaimana kau bisa mengatakan kalau kau tidak apa-apa setelah apa yang sudah dia lakukan padamu. Dia menghinamu, Alvin!"


"Dan aku sudah sering dihina olehnya, Nona. Sejak kami berpisah dia sudah sering menghinaku seperti itu. Aku bahkan sudah mulai terbiasa. Itu sebabnya aku tidak masalah sama sekali."


Evelyn menatap Alvin lekat-lekat. Diam-diam ia kembali merasa kesal. Gadis itu pasti sudah berbuat sangat keterlaluan pada Alvin selama ini.


"Sudah lama kalian putus?"


"Kami putus beberapa waktu lalu. Aku lupa kapan tepatnya. Ya, sebenarnya bukan lupa, tapi aku hanya tidak ingin mengingatnya saja."


"Lalu kenapa kalian bisa putus?" tanya Evelyn lagi penasaran.


Alvin terdiam, membuat Evelyn langsung tersadar atas pertanyaanya sendiri. "Ya ampun. Maafkan aku. Harusnya aku tidak ikut campur terlalu dalam."


"Bukan. Bukan begitu. Aku sama sekali tidak merasa anda ikut campur, Nona. Sebenarnya aku hanya terkejut karena anda terlihat begitu peduli bahkan ingin mendengar keluhanku."


"Kenapa tidak? Kita kan teman sekarang." balas Evelyn menggedikkan bahunya.


Alvin kembali terdiam selama beberapa saat, menunduk, memainkan jarinya. Ia menghela napasnya perlahan kemudian tersenyum miris.


"Sebenarnya saat itu dia mencampakan aku."


Evelyn terhenyak. Ia nyaris memaki dirinya sendiri saat mendengar perkataan Alvin barusan. Bagaimana bisa ada seseorang yang mencampakan lelaki sesempurna Alvin. Ah, wanita itu sungguh bodoh.


"Miskin."


"Ya?" Evelyn mengernyit bingung.


"Dia mencampakan aku karena aku miskin."

__ADS_1


***


__ADS_2