Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
73


__ADS_3

Alvin mengerutkan alisnya bingung. Apa sebenarnya maksud gadis ini. Siapa yang menunggu siapa. Alvin bahkan tak tahu kalau gadis itu sedang ada jam kuliah tambahan.


"Apa maksudmu?" ujar Alvin menatap Karina heran.


"Ya ampun."Karina memutar bola matanya malas. "Kau bahkan tak pandai berpura-pura."


"Tapi aku memang tidak-"


"Jika tujuanmu ingin kembali denganku, itu akan sia-sia, Alvin. Bukankah sudah ku bilang padamu kalau aku tak mau bersamamu lagi, kenapa kau masih menguntitku? Sebelumnya di klub malam dan sekarang di kampus? Yang benar saja." lanjut Karina.


"Aku tidak menguntitmu, Karina? Pertemuan kita hari ini jelas hanya kebetulan saja. Dan diklub, itu juga kebetulan."


Karina berdecak sinis.


"Tidak ada kebetulan yang terjadi dua kali, Alvin. Aku tidak tahu, selain bodoh, ternyata kau juga sangat tidak tahu malu."


"Jaga perkataanmu, Karina. Siapa yang kau sebut tidak tahu malu?"


Karina mendecih.


"Ayolah Alvin, akui saja. Kau pasti tahu kalau aku ada jam kuliah tambahan. Itu sebabnya kau menungguku di sini. Siapa yang memberitahumu jadwal kuliahku hari ini?"


"Aku bahkan tak punya urusan lagi denganmu. Jadi untuk apa aku menunggumu, Karina!"


"Ck, semua orang pasti akan berpikir hal yang sama denganku jika melihat kau di sini, Alvin. Mereka akan berpikir kau kalau menungguku. Apalagi jam kuliah di kampus ini sudah selesai sejak tadi." balas Karina tak mau kalah.


"Aku rasa hanya kau saja yang akan berpikir hal konyol seperti itu, Karina. Aku kemari karena ingin bertemu teman-temanku. Hanya itu."


"Oh, benarkah? Haruskah aku percaya pada kata-kata bualanmu itu?" Karina bertanya dengan raut sinis.


"Karina, aku sama sekali tak menunggumu disini. Terserah kalau kau tak percaya pada kata-kataku. Tapi yang jelas, aku masih di sini bukan karena menunggumu tapi aku ingin bertemu dengan teman-temanku."


Alvin lebih memilih untuk melangkah pergi, meninggalkan Karina di tempat itu. Meladeni gadis ini akan membuat kepalanya pecah saja.


Namun baru beberapa langkah, gadis itu kembali bicara.

__ADS_1


"Baiklah. Anggap aku percaya perkataanmu itu. Lantas dimanakah mereka?" ujar Karina.


Alvin menghentikkan langkahnya dan berbalik, untuk menatap Karina. "Siapa?"


"Teman-temanmu itu, tentu saja. Dimanakah mereka?"


Alvin menatap Karina dengan tatapan heran. Ya, ia heran sekaligus bingung. Kenapa gadis ini begitu tak percaya dengan perkataannya.


Kenapa Karina terus menganggap seolah Alvin sedang mengejar-ngejar dirinya begini.


Tapi apa boleh buat. Jika Karina meminta bukti padanya. Maka Alvin akan berikan. Alvin tak ingin di sangka sebagai lelaki yang tak punya harga diri karena masih mengejar-ngejar mantannya.


Sebagai lelaki ia tentu juga punya harga diri, kan? Alvin tak ingin terus diinjak-injak. Ia akan membuktikan perkataannya dan membuat Karina malu.


"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka untuk membuktikan segalanya padamu." ujar Alvin mulai merogoh kantongnya, mencari ponselnya untuk menghubungi teman-temannya.


Karina menggedikkan bahunya acuh. "Silahkan! Buktikan padaku."


Alvin mencari ponsel di kantongnya. Namun ia tak dapat menemukan ponselnya dimanapun. Kantung jaket, kantung celana. Bahkan di dalam tasnya pun tak ada.


Alvin kembali mengingat-ingat dimana tepatnya terakhir kali ia menggunakan ponselnya. Itu adalah saat dimana ia membalas pesan dari temannya dan itu adalah saat ia masih di dalam mobil Evelyn.


Alvin membulat. Lantas apakah ponselnya itu tertinggal di mobil Evelyn?


Karina terkekeh melihat Alvin yang tampak kebingungan mencari ponselnya. Apakah sebentar lagi pemuda ini akan membuat alasan dengan mengatakan kalau ponselnya hilang?


Melihat Alvin yang tak kunjung memberikan bukti apapun, Karina hanya memutar bola matanya malas.


"Bagaimana? Tak bisa membuktikan?" Karina melipat kedua tangan di depan dadanya, menatap remeh.


Alvin mendongak dan menatap Karina dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ponselku tak ada." gumam Alvin.


"Ck, ck, jadi apa sekarang kau mau mengatakan padaku kalau ponselmu tiba-tiba saja hilang?"

__ADS_1


Alvin menatap Karina.


"Ponselku memang hilang Karina." ujar Alvin tajam.


"Oh wow, jadi dugaanku benar. Kau memang pandai berpura-pura." sindir Karina terkekeh sinis. "Tak salah kalau selama ini aku menyebut dirimu bodoh. Caramu ini sungguh usang sekali."


Alvin memejamkan matanya, menahan emosinya saat mendengar Karina kembali menyebutnya bodoh.


"Aku memang tak bisa membuktikan padamu, tapi aku bisa masih bisa membawamu ke teman-temanku."


"Lalu apa? Jika teman-temanmu tak ada disana kau akan kembali mengatakan kalau teman-temanmu menghilang? Seperti ponselmu?" sindir Karina lagi, menggelengkan kepalanya.


Alvin terdiam. Ia menatap Karina tajam.


"Kau tak percaya padaku, maka dari itu aku mengajakmu untuk menemui teman-temanku." jelas Alvin.


"Tidak perlu." Karina mengibaskan tangannya malas. "Semua sudah jelas. Kau memang disini untuk menguntitku. Terbukti sudah… kau memang tak bisa melupakan aku."


Alvin merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Karina untuk yang kesekian kalinya.


"Aku. Tidak. Menguntit. Siapapun." Alvin menegaskan kalimatnya.


Namun Karina malah terkekeh dan menggelengkan kepalanya tak percaya karena baru mengetahui kalau mantan kekasihnya ini adalah seorang pembohong ulung.


"Ayolah Alvin, sebaiknya kau akui saja kalau kau memang-"


"Ada apa ini?" seru seseorang memotong ucapan Karina.


Karina menoleh ke sumber suara dan terkejut saat mendapati seorang gadis cantik sedang berdiri di dekat mereka.


Gadis itu tampaknya barusaja turun dari mobilnya dan menatap Karina tajam. Karina membulatkan matanya saat menyadari siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu.


"Kau!"


***

__ADS_1


__ADS_2