Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
37


__ADS_3

"Bantuan?"


"Ya, temanku itu sedang mabuk berat dan aku tidak kuat untuk mengangkatnya, jadi..." Ziva diam sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Mmm... jadi bisakah kau membantuku untuk mengangkatnya ke dalam mobil?"


Alvin lalu menoleh ke arah yang dimaksud Ziva. Matanya harus menyipit karena tempat dimana gadis itu berada sedikit remang, mengingat tempat itu tak terlalu terang karena lumayan jauh dari lampu penerangan.


Ia lalu menunjuk gadis yang di maksud oleh Ziva.


"Anda ingin aku mengangkatnya?" tanya Alvin.


Ziva mengangguk. "Ya!"


"Tapi aku-"


"Ayolah!" bujuk Ziva dengan nada memohon. "Tunggu sebentar, oke!"


Ziva kemudian berlari ke arah teman wanitanya yang sudah mabuk berat itu. Ia menggoyang-goyangkan bahunya, berusaha untuk membangunkan sebisanya.


Sementara Alvin hanya mengikuti dari belakang. Ia menatap gadis itu yang tak kunjung bangun meskipun tubuhya digoyang oleh Ziva. Mungkin dia sudah pingsan hingga tak bangun oleh guncangan itu.


"Hei, bangunlah!" ujar Ziva sambil menepuk pelan pipi Evelyn, mencoba untuk membangunkan sahabatnya itu.


"Hmm.." gumam Evelyn.


"Dengar! Pelayan ini akan membantuku agar bisa membawamu pulang. Dia juga akan menggendongmu nanti. Tidak apa-apa kan?"


Gadis itu mengangguk tanpa mengangkat kepalanya dan hanya mengibaskan tangannya pelan. Namun sedetik kemudian, gadis itu secara tiba-tiba mengangkat kepalanya.


"Terserah saja." jawabnya lalu menatap ke arah Alvin.


Begitu melihat siapa gadis itu, saat itulah kedua mata Alvin membulat. Tubuh Alvin terasa membeku di tempat ia berdiri saat ini.


Alvin melongo.

__ADS_1


Ia bahkan hampir tak bisa menutup mulutnya lagi saat tatapan mata mereka saling bertemu. Lidahnya kini seketika saja menjadi kelu.


Gadis ini?


Bukankah dia ini gadis cantik yang ada di private party tadi. Dia adalah gadis yang sama yang sudah berhasil membuat jantung Alvin berdetak tak karuan.


Alvin mengerjapkan kedua matanya. Buru-buru menyadarkan dirinya dari keterkejutannya dan dengan susah payah ia berusaha untuk menelan ludahnya.


Alvin hendak membuka mulutnya untuk bicara, namun ia terkejut saat Ziva menjentikkan jari tepat di depan wajahnya.


"Hei! Aku bicara padamu." ujar Ziva.


"Ya?" Alvin menjawab.


"Aku bertanya, kau mau membantuku kan?" tanya Ziva, mencoba memastikan.


"A-aku..." Alvin berujar ragu sambil menatap pada Evelyn untuk beberapa saat baru kemudian ia menghela napasnya pasrah. "Baiklah!"


"Ini untuk apa?"


"Sebagai bayaran atas kesanggupanmu."


"Ah, tidak perlu, nona!" tolak Alvin menggeleng dengan cepat sambil mendorong tangan Ziva sebagai bentuk penolakan.


"Apa yang kau lakukan? Cepat ambil." ujar gadis itu memberikan uang itu pada Alvin dengan paksa. "Oke, kau tunggu di sini dulu, aku akan mengambil mobilku terlebih dahulu di sana. Jadi tolong kau jaga dia sebentar!"


Ziva kemudian melangkah meninggalkan Alvin dan Evelyn berdua untuk mengambil mobilnya. Setelah kepergian Ziva, keadaan di tempat itu berubah jadi hening dan hanya menyisakan mereka berdua.


Di tengah keheningan sesekali Alvin melirik pada Evelyn yang ada di hadapannya. Ia berharap di dalam hati bisa melihat wajah dari gadis cantik yang kini tengah menundukkan kepalanya itu.


"Nona, apa anda tidak apa-apa?" tanya Alvin pada gadis itu sebagai basa-basi.


Gadis itu tak menjawab.

__ADS_1


Sedetik kemudian, pandangan Alvin turun dan menatap pakaian yang di kenakan oleh wanita itu. 'Malam-malam begini, kenapa dia harus mengenakan pakaian setipis ini.' batinnya.


Alvin lalu melangkah mendekat pada Evelyn sambil melepas jaket yang ia kenakan, baru kemudian Alvin memasangkannya ke tubuh gadis itu.


Namun saat Alvin tengah fokus memasang jaketnya pada gadis itu, tiba-tiba saja Evelyn mengangkat kepalanya, menatap Alvin.


"Kau?" ujar Evelyn menatap Alvin datar dan membuat Alvin terkejut setengah mati.


"A-aku hanya memasangkan jaket. Bukan ingin berbuat macam-macam pada-"


Evelyn mengangkat tangannya untuk menepuk pipi Alvin.


"Apa kau tahu kalau wajahmu itu tampan sekali. Bagaimana kalau aku menidurimu?" racau Evelyn di tengah ketidaksadarannya.


"Apa yang-"


"Sssttt!" ucapan Alvin langsung terpotong saat jari telunjuk Evelyn menekan bibirnya, mencoba menghentikan perkataannya.


Evelyn lalu tersenyum, "Jangan mengatakan apapun, oke!"


Belum sempat Alvin menjawab perkataan Evelyn itu, ia langsung melebarkan matanya, terkejut saat dengan tiba-tiba Evelyn menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya pada bibir Alvin. Evelyn mulai melumát bibir Alvin dengan lembut.


Alvin masih sadar dan tak ingin dianggap mengambil kesempatan. Ia mencoba mendorong kedua bahu Evelyn untuk melepaskan diri. Namun gadis itu justru semakin menarik tengkuk Alvin dan memperdalam ciumannya hingga membuat pemuda itu sedikit ngos-ngosan karena sedikit kehabisan napas.


Namun di detik berikutnya, tarikan kuat pada tengkuk Alvin itu melemas dan kemudian terlepas.


Alvin hanya bisa mengerjap bingung saat tiba-tiba saja gadis itu melepas ciumannya pada bibir Alvin.


Alvin memegang bibirnya sebentar lalu menatap kaget saat menemukan wanita itu kini sudah tergeletak di atas aspal.


Wanita itu pingsan.


***

__ADS_1


__ADS_2