
"Pelayan?"
"Pelayan itu." ujar Evelyn pelan menunjuk ke arah pintu keluar.
Suara Evelyn sangat pelan, hingga hampir seperti berbisik. Sepertinya Evelyn tidak ingin percakapan mereka di dengar oleh siapapun.
"Maksudmu pelayan tampan yang baru saja mengantar minuman kita?" tanya Ziva.
Evelyn mengangguk kecil sebagai jawaban. "Ya, ini tentang dia."
"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Ziva semakin bingung dan penasaran.
Evelyn menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Sebenarnya, aku pernah bertemu dengannya di tempat lain, sebelum ini, maksudku sebelum malam ini." jelas Evelyn.
"Wow, benarkah itu?" Ziva berujar kaget. "Kapankah itu?"
"Ya, itu beberapa hari lalu saat supirku hampir saja menabraknya."
"Menabraknya?"
"Ya, itu hampir saja."
"Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah dia baik-baik saja? Apa dia terluka?" tanya Ziva terkejut. "Tapi dia terlihat baik-baik saja tadi. Aku tidak melihat satu pun luka di tubuhnya." gumamnya sambil mencoba mengingat-ingat.
Evelyn menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, dia memang tidak terluka. Sudah kukatakan tadi kalau mobilku hanya hampir menabraknya."
Ziva mengangguk mengerti.
"Begitu rupanya."
Evelyn kembali terdiam sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi aku rasa dia sama sekali tidak mengingatku sebagai pemilik mobil yang hampir menabraknya kala itu."
"Oh, bukankah itu bagus jika dia tak mengingatmu? Dia tak akan menuntutmu." ujar Ziva. "Yah, lagipula saat itu kau hanya hampir menabraknya, bukan benar-benar menabraknya. Kau bilang dia juga tak terluka sama sekali, kan?
"Ya."
"Lalu apa lagi masalahnya?"
"Justru itulah masalahnya. Itulah yang membuatku kesal, Ziva. Fakta bahwa dia bisa dengan mudahnya melupakanku. Itulah yang membuatku tak terima." terang Evelyn dengan raut kesal.
Ziva merasa semakin heran saja melihat tingkah Evelyn. "Tapi kenapa itu harus membuatmu kesal."
"Masalah itu..."
Evelyn tersenyum canggung.
Bagaimana dia bisa mengatakan pada Ziva kalau dia sangat kecewa karena pemuda itu tak mengingatnya sama sakali. Bayangkan, di mata orang lain, Evelyn adalah orang penting dan tak mungkin akan dengan mudah dilupakan begitu saja.
Tapi jauh berbeda dengan pemuda ini. Hanya beberapa hari setelah pertemuan mereka dia sudah tak mengenali wajah Evelyn. Entah kenapa, tapi itu membuat Evelyn sedikit... patah hati.
Evelyn merasa begitu kecewa untuk yang pertama kali dalam hidupnya.
Ziva lalu mendekatkan wajahnya pada Evelyn dan berbisik. "Apa kau tertarik padanya?"
Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Evelyn menegang. Ekspresi wajahnya berubah jadi canggung.
"Hah?"
"Bisa jadi kau menyukainya, tapi dia malah melupakanmu dan membuatmu kecewa dan marah, apakah begitu?"
"Itu… tidak mungkin." Evelyn meringis canggung. Jujur saja, ucapan Ziva itu seratus persen benar.
"Apanya yang tidak mungkin."
"Tidak mungkin aku menyukainya!"
__ADS_1
"Kenapa tidak mungkin."
Evelyn terdiam.
Ia lalu menghela napasnya pelan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa di belakangnya sambil mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa, Ziva. Lupakan saja."
Ziva menatap Evelyn bingung tapi memilih untuk menyetujuinya.
"Baiklah." Ziva menggedikkan bahunya santai. Ya, walaupun jawaban Evelyn itu masih menggantung dan membuatnya jadi penasaran, tapi Ziva juga tidak berhak memaksa sahabatnya itu untuk menceritakan kisahnya.
Dan setelah pembicaan kecil itu, Evelyn menenggak minumannya dan kembali menghela nafasnya pelan.
Evelyn bingung.
Bagaimana ucapan Ziva bisa benar. Ia memang menyukai pemuda itu. Tapi bagaimana mengatakan pada sahabatnya itu kalau ia patah hati karena orang yang dia sukai justru tak ingat wajahnya? Harga dirinya terlalu tinggi untuk membiarkan Ziva tahu segalanya dan menertawainya.
Entah bagaimana bisa Evelyn menyukai pelayan itu. Padahal mereka baru dua kali bertemu tapi Evelyn sudah memiliki rasa padanya.
Ziva kembali menatap Evelyn. "Tapi aku sedikit penasaran. Bukankah sebelumnya kau tidak pernah memberi uang tip pada pelayan di klub malam milik ayahmu ini. Namun pemuda itu mendapatkannya. Apa kau melakukannya karena insiden kecelakan itu atau karena hal lain?"
"Bisa dibilang begitu. Walaupun aku tidak menabraknya, tapi rasa bersalahku padanya masih ada." jelas Evelyn sambil menenggak minuman di tangannya.
Evelyn lalu kembali menoleh ke arah pintu, tempat pelayan tampan tadi keluar.
'Sebenarnya masalahnya lainnya adalah... pria itu memang sudah berhasil mencuri perhatianku tapi aku masih ragu dan juga malu untuk benar-benar memberitahumu, Ziva.' ujar Evelyn dalam hati.
Disaat Evelyn masih gelisah dengan pikirannya sendiri, Ziva tiba-tiba saja sambil mengangkat gelas minuman miliknya.
"Oke semuanya! Malam ini adalah saatnya kita bersenang-senang." seru Ziva nyaring.
Semua orang ikut mengangkat gelas sambil tertawa senang. Ziva menoleh pada Evelyn yang belum juga mengangkat gelasnya, masih melamun.
"Hei, apa yang kau tunggu, Evelyn? Ayo cepat angkat gelasmu." ujar Ziva sambil membantu mengangkat tangan Evelyn yang memegang gelas.
Evelyn tersenyum saat Ziva mengangkat tangannya ke atas untuk bersulang.
__ADS_1
"Oke, oke, mari bersulang." ujar Evelyn pada teman-temannya.
***