
Alvin akui kalau saat ini tubuhnya memang sedang dalam kondisi tak sehat. Ia merasa jauh lebih lemas dari hari biasanya. Berapa kali ia bahkan hampir menabrak pengunjung namun masih bisa dihindari.
Saat ini Alvin sedang mengantar pesanan salah satu pengunjung. Namun ternyata tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Ia sudah tak mampu lagi menahan sakitnya, karena baru saja Alvin mencoba untuk melangkah, tiba-tiba saja tubuhnya limbung ke kiri.
"Hei, hati-hati, Alvin." ujar rekan kerja Alvin yang bernama Rasyit. Pemuda itu langsung membantu menangkap nampan Alvin yang hampir jatuh.
"Terima kasih, Rasyit."
"Kau hampir saja menjatuhkan minuman barusan."
"Ya benar, aku hampir saja mendapat masalah. Untung saja kau datang membantu." ujar Alvin lega.
"Tak masalah. Ayo, aku bantu. Berikan nampannya padaku." ujar Rasyit. Ia menarik perlahan nampan yang masih Alvin pegang.
Tubuh Alvin kembali limbung. Ia buru-buru membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang memegang kedua lututnya.
Melihat itu Alis Rasyit tampak mengerut. Ia bisa melihat wajah Alvin yang tampak begitu pucat.
"Tapi apakah kau baik-baik saja? Maksudku, kau terlihat seperti hampir pingsan barusan."
"Ya, maaf, tadi pandanganku sedikit kabur dan aku tak bisa menahan tubuhku yang goyah."
"Ada apa? Apa kau sedang tidak enak badan hari ini?"
"Aku hanya sedikit pusing saja." Alvin bicara dengan sedikit gemetar. Tubuhnya terasa begitu lemas dan tampak mengeluarkan keringat dingin.
"Ini sepertinya tak bagus." gumam Rasyit menoleh ke area sekitarnya. "Kau sedang sakit. Ayo, berhenti bekerja dulu dan ikut aku ke meja Bar."
"Aku tak bisa berhenti bekerja, aku harus-"
"Kau masih bisa jalan, kan? Ayo cepat!" potong Rasyit lebih dahulu melangkahkan kakinya tanpa mendengar ucapan Alvin lagi.
Alvin memilih pasrah dan mengikuti lelaki itu menuju meja Bar dengan langkah gontai.
Rasyit memanggil pelayan lain, meminta bantuan untuk mengantar nampan minuman milik Alvin antarkan tadi.
"Ayolah, kau duduklah di sini dulu!" perintah Rasyit pada Alvin menepuk kursi yang ada di dekat mereka.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu duduk."
"Berikan segelas air putih." ujar Rasyit pada Bartender yang bertugas seolah tak mendengar ucapan Alvin barusan. Rasyit lalu menunjuk Alvin dengan dagunya. "Alvin tampak tak fokus saat bekerja, sepertinya agak kelelahan."
__ADS_1
Sang bartender mengangguk kemudian dengan cepat memberikan segelas air putih pada Alvin.
"Ini air putihnya." ujar sang bartender meletakkan air putih itu ke atas meja.
"Terima kasih."Alvin tersenyum. "Harusnya tidak perlu repot-repot begini."
"Ck, apa yang kau katakan. Tidak ada yang direpotkan di sini. Dan bisakah kau duduk dulu!"
"Aku tidak apa-apa. Sungguh." tolak Alvin
"Tidak apa-apa bagaimana, jelas-jelas wajahmu itu tampak pucat sekali. Kau ini sedang sakit, Alvin."
"Kita tidak boleh lama-lama bersantai di sini. Lihatlah! Pengunjung sedang ramai dan butuh dilayani." Alvin mengalihkan topik.
"Tenang saja dulu. Masih banyak pelayan yang akan menggantikkan kita. Jadi, cepat duduk!" Rasyit menekan bahu Alvin, memaksa pemuda itu agar duduk di kursi.
Alvin duduk, meskipun itu karena paksaan Rasyit. Ia menoleh kanan dan kiri dengan tatapan canggung.
"Tapi Rasyit, apa kau tidak takut bos akan marah jika melihat kita bersantai disini?"
"Bos justru akan marah jika melihat bawahannya bekerja dalam keadaan sakit."
Alvin menunduk. "Ya, tapi kan-"
"Sekitar jam dua tadi siang."
"Siang? Yang benar saja. Di sini kita akan bekerja sampai subuh, Alvin. Kenapa kau tidak makan dulu tadi?"
"Aku tahu. Perutku tidak enak, jadi aku memutuskan menunda makan."
"Kau mau makan dulu?" tanya Rasyit.
Alvin menggeleng, "Tidak. Tidak perlu."
Rasyit menghela napasnya malas.
"Alvin, kau harus makan dulu. Aku lihat keadanmu tak begitu baik. Berdiri saja gemetaran."
"Ini bahkan belum jam istirahat kita."
"Dan kau akan mati kelaparan jika menunggu jam istirahat kita. Kau lupa? Jam istirahat kita masih beberapa jam lagi."
__ADS_1
"Tidak masalah Rasyit, sekarang aku juga sedang tidak lapar."
"Kau yakin?"
"Ya, aku yakin. Aku baik-baik saja."
"Baiklah jika kau bilang begitu. Tapi kalau merasa sakitmu semakin parah, kau harus langsung istirahat dan makan!"
Alvin menganggukkan kepala. "Kau tenang saja."
Rasyit menatap Alvin selama beberapa detik sebelum kemudian mengangguk.
"Kau minum ini dulu, oke." ujar Rasyit sembari mendorong kembali gelas air putih tadi agar lebih dekat dengan Alvin. "Kalau kondisimu lebih baik, barulah kau bisa lanjut bekerja."
Alvin mengangguk dan meraih gelas itu dengan senyum canggung, "Terima kasih atas bantuannya."
"Ini hanya bantuan biasa. Jangan terbebani. Ya sudah, aku tinggal dulu. Aku harus lanjut bekerja." ujar Rasyit sembari melangkah meninggalkan Alvin.
Alvin yang sedang meminum air putih miliknya menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Rasyit, Alvin hanya duduk diam, termenung di meja bar itu.
Alvin memikirkan tentang dirinya sendiri. Lebih tepatnya, tentang hidupnya yang seolah berada di jalan buntu dalam hal segala hal, terutama tentang percintaan.
Pertama, Alvin menjalin hubungan dengan Karina namun ia justru dikhianati. Dan sekarang ia jatuh cinta pada Evelyn, seseorang yang sempurna namun tak dapat ia miliki.
Alvin meneguk minumannya sembari berpikir, jika dia menjadi orang kaya raya, apakah Karina akan meninggalkannya seperti waktu itu? Selain itu Alvin yakin kalau ia juga tak perlu bekerja siang dan malam seperti ini.
Alvin menghela napasnya lelah, menatap lekat-lekat pada gelas air yang ada di tangannya kemudian meletakkan gelas itu ke atas meja bar.
Ia memejamkan kedua matanya sembari memijit pelipisnya perlahan, mencoba mengurangi rasa pusing di kepalanya.
'Apa yang salah denganku. Kenapa pikiranku melantur begini. Harusnya aku bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.' batin Alvin.
Alvin membuka kembali matanya lalu menoleh ke area sekitarnya. Ia menyadari klub malam itu mulai terasa penuh oleh pengunjung yang berdatangan.
Hal itu membuat Alvin menyadari kalau ia harus segera kembali bekerja.
"Apa kau pelayan di klub ini?" Suara wanita tiba-tiba terdengar dari samping kirinya.
***
__ADS_1
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm