Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
46


__ADS_3

Evelyn memejamkan matanya. Mencoba untuk menajamkan ingatannya, mencari tahu tentang apa yang terjadi semalam.


Ia semakin mengerutkan dahinya, terus berusaha dengan keras mengingat apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi area parkir itu cukup gelap dan wajah lelaki asing itu tampak samar untuk diingat.


"Siapa? Aku menc!um siapa?" Evelyn berpikir keras.


Sembari memutar tubuhnya, mata Evelyn melihat ke area sekitarnya, tampak mencari seseorang.


Mungkin saja dirinya membawa seseorang ke rumahnya, sama seperti yang sudah ia lakukan saat liburan di Bali waktu itu. Dan untungnya tak ada siapa-siapa di kamar itu.


Setelah menyadari kalau ia sendirian di dalam kamar, Evelyn langsung menghela napasnya lega. "Huft, untunglah kali ini aku tak membawa siapapun ke rumah. Jika aku melakukan itu, ayah pasti akan marah besar padaku."


Evelyn lalu melirik ke bawah, menatap pakaian yang ia kenakan saat ini. Ini jelas masih gaun yang sama dengan yang ia kenakan semalam.


Tapi tunggu dulu! Apa ini? Kenapa dia memakai jaket? Jaket siapa pula yang sedang ia kenakan saat ini?


Evelyn kembali mengernyitkan alisnya. Ia jadi semakin bingung saja sekarang. Evelyn melepas jaket itu lalu menatapnya dengan lekat.

__ADS_1


Bagaimana ia bisa mengenakan pakaian asing ini. Milik siapakah ini? Dan tunggu! Wanginya... ah... Evelyn bisa mencium aroma yang tertinggal di jaket itu.


"Siapa pemilik jaket ini. Kenapa ini wangi sekali. Apa ini wangi tubuh pemiliknya?" gumamnya sembari kembali menghirup wangi dari jaket itu.


Namun di detik selajutnya, Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya saat menyadari hal konyol yang baru saja ia lakukan.


"Apa yang aku lakukan?" gumam Evelyn merasa heran dengan dirinya sendiri. "Harusnya aku tidak melakukan ini. Harusnya aku mencari tahu siapa pemilik jaket ini, bukan malah mengaguminya begini."


Evelyn menatap jaket itu lekat-lekat.


"Siapapun pemilik jaket ini, bisa jadi dia adalah seseorang yang sudah aku cium sembarangan semalam. Aku akan mencari tahu tentang ini." ujar Evelyn lagi sambil melempar jaket itu ke atas ranjang yang ada di sebelahnya.


Evelyn dengan perlahan mencoba bergerak dari posisinya, turun dari tempat tidur, kemudian dengan langkah hati-hati berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Beberapa saat setelah selesai membersihkan dirinya, Evelyn duduk dan mematut dirinya di depan cermin rias-nya. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, Evelyn menatap pantulan dirinya sendiri dengan pandangan heran.


Sejujurnya Evelyn masih merasa penasaran dengan bagaimana caranya dia bisa sampai di rumah? Apakah benar Ziva yang sudah membantunya sampai ke rumah ini? Tapi mana mungkin gadis itu kuat membawanya seorang diri.


"Apakah Ziva dibantu kekasihnya untuk membawaku pulang ke rumah? Kalau memang benar, haruskah aku mengucapkan terima kasih padanya." gumam Evelyn.

__ADS_1


Evelyn menghela napasnya pelan, entah kenapa ia tidak bisa mengingat apapun saat ini. Namun, detik selanjutnya Evelyn menghentikkan kegiatannya mengeringkan rambutnya.


"Haruskah aku menanyakannya sendiri pada Ziva?" gumam Evelyn. Namun ia dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Ini bahkan bukan hal yang penting untuk ditanyakan pada Ziva."


Evelyn lalu memutar kepalanya, menatap kembali pada jaket yang masih berada di atas tempat tidurnya.


Dan tiba-tiba saja Evelyn tersadar kalau itu jelas sekali bukan jaket milik kekasih Ziva. Seingatnya kekasih Ziva bahkan tidak pernah menggunakan model jaket seperti itu. Lalu apakah masih bisa dikatakan kalau itu memang milik kekasih Ziva? Sepertinya bukan.


Lalu, apakah jaket itu milik seseorang yang sudah ia cium dengan sembarangan semalam?


Evelyn menyerah dengan segala rasa penasarannya. Ia lalu mencari tasnya yang ternyata berada di atas nakas. Ia bahkan tak tahu dimana terakhir kali meletakkan ponselnya. Dengan malas ia lalu melangkahkan kaki menuju nakas untuk meraih tas miliknya.


Evelyn lalu membuka tas dan mengambil ponselnya. Dan begitu ia membuka ponselnya, terlihat begitu banyak pesan yang berasal dari teman-teman dari grup sosialitanya yang ingin mengajaknya pergi berbelanja.


"Ah, aku terlalu malas untuk pergi." ujarnya dengan malas lalu melempar ponselnya ke sebelah bantalnya. "Aku tidak akan pergi berbelanja hari ini."


Evelyn memutuskan untuk mengakhiri pemikirannya dan bersiap keluar dari kamarnya menuju ruang olahraga yang berada di dekat taman belakang rumahnya. Ia harus berolahraga agar tubuhnya tidak terasa lemas.


***

__ADS_1


__ADS_2