
"Apa kau pelayan di klub ini?"
Alvin yang sudah hendak berdiri tampak sedikit terkejut saat mendengar suara itu. Hal itu mengakibatkan tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas air putih miliknya yang berada di atas meja.
"Ya ampun, pakaian kerjaku." ujar Alvin buru-buru membersihkan pakaian kerjanya yang basah karena terkena tumpahan air.
Wanita itu tampak ikut terkejut. Ia buru-buru mendekati Alvin untuk membantu mengembalikan gelas itu ke posisinya yang semula.
"Aku membuatmu kaget, ya? Maafkan aku. Aku tak sengaja." ujar wanita itu.
"Tidak masalah. Saya yang ceroboh." ujar Alvin yang saat ini masih tampak menunduk, fokus mengeringkan sisa tumpahan air di pakaiannya.
"Sekali lagi aku minta maaf, oke. Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu terkejut seperti barusan. Kau tidak apa-apa, kan?" ujar gadis itu ikut membantu membersihkan pakaian kerja Alvin dari basah dengan tissu yang ia ambil dari tasnya.
Alvin menyadari kalau nada bicara gadis itu penuh dengan rasa bersalah. Ia terlihat begitu peduli pada Alvin, terbukti dengan sikapnya yang buru-buru membantu membersihkan pakaian Alvin yang basah.
"Sini biar aku membantumu membersihkan pakaianmu, ya." ujar wanita itu.
"Ah, tidak perlu nona." tolak Alvin.
"Ini juga kesalahanku. Aku bantu, ya." ujar wanita itu.
Wanita itu tampak sibuk membersihkan pakaian Alvin. Dan itu tampaknya cukup berhasil membuat Alvin merasa tak enak.
"Saya yang ceroboh dengan menyenggol gelasnya. Biar saya saja." tolak Alvin.
Tentu saja Alvin menolak bantuan dari gadis itu. Dia adalah pelayan sementara gadis itu merupakan pengunjung. Jadi mana mungkin Alvin bersedia menerima bantuan dari pengunjung yang harusnya ia layani.
__ADS_1
"Kau yakin tidak apa-apa, kan? Aku jadi tak enak." ujar gadis itu akhirnya berhenti membantu Alvin.
"Ya, saya baik-baik saja." sahut Alvin.
Alvin akhirnya mendongak untuk benar-benar menatap wajah gadis itu. Dan saat itu juga pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata milik gadis cantik yang juga tengah menatapnya itu.
"Oh ya, aku tadi bertanya padamu, apa kau pelayan di klub ini?" tanya gadis itu lagi.
Alvin mengerutkan dahinya. Sejujurnya, ia merasa heran dengan pertanyaan itu. Apakah pakaian yang ia kenakan saat ini belum cukup menunjukkan siapa dirinya?
"Hai, kau mendengarku, kan?" Gadis itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Alvin.
Alvin masih tampak terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengerjapkan kedua matanya.
"Benar, nona. Saya pelayan di klub ini." jawab Alvin menganggukkan kepala.
Alvin lalu berdiri tegak untuk menghadap lurus pada gadis itu. "Apa ada sesuatu yang anda butuhkan?" tawarnya.
"Kalau begitu saya permisi." ujar Alvin.
Baru saja Alvin melangkahkan kakinya, gadis itu kembali bicara.
"Sebenarnya ada sesuatu yang kubutuhkan."
Alvin berbalik, "Anda butuh bantuan apa, Nona?"
"Aku ini tamu VIP disini." ujar gadis itu namun perkataannya malah membuat Alvin merasa bingung.
__ADS_1
Alvin tersenyum canggung. Sama sekali tak mengerti maksud gadis itu tapi ia tetap menanggapi.
"Oh, kalau begitu anda pasti sedang mencari ruangan VIP-nya, ya? Ruangan VIP berada di lantai atas. Anda mau saya antar?"
Gadis itu menatap Alvin selama beberapa detik, lantas terkekeh.
"Biar aku tebak, kau ini pasti pelayan baru di sini, ya kan?"
"Benar nona, sebenarnya saya baru beberapa hari bekerja di sini." Alvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ternyata dugaanku benar." gadis itu manggut-manggut. "Pantas saja aku tak pernah melihatmu sebelumnya."
"Jadi, apakah benar tak ada yang anda butuhkan? Minuman?"
Gadis itu tersenyum.
"Tidak, aku akan memasannya nanti." Gadis itu kemudian mendekatkan wajahnya pada Alvin untuk berbisik, "Aku akan memanggilmu saat aku ingin sesuatu darimu."
Alvin melebarkan kedua matanya, tapi buru-buru mengontrol dirinya dan melangkah mundur.
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi." Alvin berujar gugup karena wanita itu bicara terlalu dekat padanya.
Gadis itu menatap kepergian Alvin dan tersenyum.
"Dia boleh juga." gumamnya.
***
__ADS_1
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm