Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
130


__ADS_3

Dengan gerakan kasar Evelyn menarik mangkuk bubur ayam ke hadapannya sementara matanya menatap tajam pada Daniel yang tengah mengedarkan pandangannya, menatap orang-orang yang tengah menikmati makanan mereka di kedai bubur ayam itu.


"Kau serius, makan siang di sini?" bisik Daniel tampak tak percaya. Ia terus menatap sekeliling ketika mereka sampai dan duduk di kedai bubur ayam.


Alvin sendiri saat ini sedang pergi ke samping kedai untuk menerima telepon dari teman kuliahnya.


"Memangnya kau pikir kami akan makan dimana?" ujar Evelyn melirik sinis.


Daniel tak menjawab. Pemuda itu masih menatap area sekitar kedai dengan heran kemudian menatap mangkuk bubur ayam di hadapannya.


"Kau makan makanan ini, Eve." tanya Daniel lagi menunjuk mangkuk itu dengan matanya lalu beralih menatap Evelyn.


"Tentu saja aku makan." ujar Evelyn.


"Kau serius?"


"Kenapa kau bertanya?"


Daniel menatap tak percaya pada sahabatnya itu. "Sejak kapan kau makan makanan seperti ini?"


"Sejak beberapa waktu belakangan."

__ADS_1


"Bagaimana bisa, Eve? Jangankan untuk makan, datang ke tempat begini saja kau tak pernah."


Evelyn mendecih. "Kenapa kau harus banyak bertanya, sih? Apa kau tak suka makanannya? Kalau kau tak suka kau bisa pergi saja." ujar Evelyn dingin.


Saat ini Evelyn masih merasa amat kesal pada Daniel karena pemuda itu memaksa untuk ikut dengannya dan mengganggu acara makan siangnya dengan Alvin.


Evelyn menghela napasnya malas. Mengingat hal itu membuat hatinya jadi terasa semakin kesal saja. Karena Daniel, ia dan Alvin jadi gagal makan berduaan hari ini.


Jujur saja, saat ini Evelyn sudah tak lagi merasa antusias seperti saat mengajak Alvin di kampus tadi. Kehadiran Daniel di sini sama sekali bukan sesuatu yang bisa di rayakan. Dia malah mengganggu.


"Tak ada yang memintamu ikut denganku tadi, kan? Kau sendiri yang mau. Jadi, pergi saja kalau kau tak mau makan makanan ini."


"Hanya saja… apa?"


"Yah, awalnya kupikir kalian akan makan… di restoran tadi." Daniel menjelaskan dengan malas.


Evelyn mendecih sinis, "Kalau kau mau makan di restoran, kau bisa pergi saja dan makan disana."


"Kau mengusirku?"


Evelyn mengangguk. "Ya!"

__ADS_1


Kali ini Daniel menatap Evelyn sinis. "Kenapa sejak tadi kau terus mengusirku, sih?"


"Yah, karena kau mengganggu makan siangku dan Alvin, kau tau? Kau bisa pergi saja kalau tak suka jadi tak ada lagi yang bisa mengganggu kami berdua"


Daniel menggedikkan bahunya santai.


"Bukannya aku tak suka disni. Hanya saja aku agak asing. Memangnya kau tidak asing saat pertama kali kemari?"


Evelyn sontak terdiam. Sejujurnya, ia juga merasa asing saat pertama kali kemari. Ia bahkan merasa aneh saat bubur ayam ini masuk ke mulutnya untuk pertama kali. Tapi ia lebih memilih merahasiakannya saja.


Daniel kemudian menggedikkan bahu. "Ya, ini agak mengejutkan untukku, tapi sebenarnya ini lumayan seru juga."


"Apa?"


"Haruskah aku mengabarinya Ziva juga? Dia pasti akan terkejut melihatmu datang ke tempat seperti ini." gumam Daniel mengeluarkan ponselnya dan membuat Evelyn langsung mendelik.


Melihat Daniel yang tengah mengetikkan sesuatu di ponselnya Evelyn buru-buru menarik ponsel Daniel menjauh. "Berhenti mengerjaiku, Daniel. Aku tau kau sedang menggodaku."


Daniel terkekeh, "Bukan menggodamu, aku hanya merasa untuk sesekali kesenangan seperti ini harusnya di bagi, Eve."


***

__ADS_1


__ADS_2