Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
13


__ADS_3

Sebuah sedan berwarna hitam terlihat tengah melaju dengan kecepatan sedang melewati keramaian jalanan perkotaan. Sementara seorang gadis cantik yang tengah duduk di kursi penumpang mobil itu, menatap keluar jendela dengan pandangan sendu.


Evelyn lahir di keluarga konglomerat yang bergelimang harta, membuatnya hidup tanpa kekurangan dan serba mewah.


Evelyn sendiri di kenal sebagai gadis yang suka berbelanja. Selain itu ia juga biasa menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan temannya. Ia tak pernah benar-benar dikenal oleh publik, sehingga membuatnya bisa pergi kemanapun semaunya.


Seperti halnya hari ini Evelyn baru saja pulang dari kampusnya dan langsung pergi berbelanja.


Padahal ia sudah berbelanja saat liburan di Bali beberapa waktu lalu, tapi tampaknya ia tak peduli bahkan terus berbelanja banyak hal. Dan sekarang ia hendak pergi menuju ke salon untuk perawatan tubuhnya.


Namun saat di tengah jalan mobil yang ia tumpangi hampir saja menabrak seorang pengendara motor dan membuat jantungnya hampir copot. Evelyn baru bisa bernafas lega saat mengetahui kalau pengendara motor itu baik-baik saja.


'Ayah bisa menghabisiku kalau sampai dia mendapat laporan aku mencelakai orang lain.' batin Evelyn sambil terkekeh.


Evelyn kini kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya. Ia terus terdiam dengan kepala yang tersandar ke kepala kursi mobilnya dengan mata yang memandang keluar jendela.


"Apa kau yakin kalau pemuda itu baik-baik saja, paman?" tanyanya pada sang supir yang duduk di kursi depan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


Sang supir di depannya melirik sekilas kemudian mengangguk pelan.


"Ya nona, syukur saja mobil kita tidak sampai menabraknya tadi."


"Tapi paman benar-benar yakin?"


"Ya, nona."


"Seratus persen?"


"Saya bisa jamin kalau mobil yang kita naiki tidak menyentuhnya sedikitpun, Nona."


"Apa kita kembali saja untuk mengeceknya, ya?"

__ADS_1


"Apa nona mau kembali?"


"Haruskah kita?" Evelyn berpikir sebentar kemudian merosot pada sandaran kursi mobil. "Sepertinya tidak usah saja."


Sang supir jadi bingung. "Nona mau mencari pemuda itu? Kita bisa kembali kalau anda mau, Nona."


"Sepertinya tidak perlu." Evelyn mengibaskan tangannya. "Lagipula itu juga bukan salah kita, kan?"


"Benar, nona. Dia sendiri juga mengakui kalau itu salahnya. Dia memang sedang melamun tadi."


"Ya sudah, baguslah kalau begitu!" ujar Evelyn mengangguk paham.


Setelah itu keadaan kembali menjadi sepi. Evelyn memilih fokus pada pikirannya sendiri sekarang.


Kalau boleh jujur, sebenarnya dalam lubuk hatinya, Evelyn masih sangat khawatir dengan keadaan pemuda yang hampir tertabrak tadi.


Entah kenapa sedari tadi Evelyn terus menerus teringat tentang pertemuan tak sengajanya dengan pemuda itu. Satu hal bagi Evelyn, entah kenapa tatapan dari pemuda itu bisa sampai membuat fokusnya terus terganggu.


Yah. Evelyn bisa mengakui kalau wajahnya sangatlah tampan, kulitnya juga putih dan bersih, sangat indah untuk dipandang, tak akan membuat Evelyn bosan.


Diam-diam Evelyn tersenyum. Bagaimana bisa, ada pemuda sesempurna itu di dunia ini? Dan bagaimana tak ada yang satupun lelaki yang dekat dengannya memiliki wajah seperti pemuda itu.


Detik berikutnya Evelyn tersadar dari pikirannya sendiri.


Apa ini?


Apa Evelyn tertarik pada pemuda itu? Benarkah begitu? Tapi bagaimana bisa. Evelyn bahkan baru melihatnya sekali seumur hidupnya. Jadi mana mungkin dia bisa tertarik pada pemuda asing itu.


Setelah menyadari pikirannya yang mulai melantur, Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya.


'Apa yang ku pikirkan. Bagaimana bisa aku berpikiran untuk tertarik pada orang asing yang bahkan baru sekali aku temui.' batinnya.

__ADS_1


Evelyn terkekeh sendiri menyadari betapa konyol dirinya saat ini. Ia tak menyangka kalau hatinya juga bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, Evelyn lalu mengalihkan pandangannya pada sang supir.


"Kita langsung pulang saja, paman!" ujarnya


"Loh? Pulang ke rumah, Nona?" tanya supir itu sedikit terkejut.


"Ya."


"Apa kita tidak jadi ke salon, Nona?" tanya sang supir lagi, mencoba untuk memastikan.


"Tidak jadi." ujar Evelyn sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya merasa agak lelah sekarang."


Bagaimana mungkin Evelyn bisa pergi ke salon saat ini untuk bersenang-senang sementara suasana hati Evelyn sudah benar-benar campur aduk sekarang. Ia sudah merasa tak ingin pergi kemanapun saat ini. Penasaran, kasmaran, bingung, dan perasaan lainnya.


"Baiklah, nona." jawab sang supir patuh.


Tak berapa lama setelah itu sedan hitam yang di tumpangi Evelyn tiba di halaman parkir rumahnya.


Evelyn turun dari mobil dan segera berjalan menaiki anak tangga untuk memasuki rumahnya.


"Bawa barang belanjaannya ke kamarku!" perintah Evelyn pada pelayan sambil terus melangkah menuju ke arah kamarnya.


Setibanya di dalam kamar, Evelyn langsung melepas sepatu hak tinggi yang ia kenakan dan melemparkannya dengan asal ke atas lantai kamar.


Setelah itu barulah Evelyn menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidurnya yang empuk.


"Ah, aku merasa lelah sekali," gumam Evelyn sambil merentangkan kedua tangannya ke tempat tidur.


Ia lalu memegang kepalanya yang sedikit berdenyut dan mencoba memberikan pijatan kecil disana.

__ADS_1


Entah kenapa sejak di perjalanan pulang tadi, Evelyn sudah merasakan pusing pada kepalanya.


***


__ADS_2