Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
124


__ADS_3

Alvin mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirnya sendiri begitu Evelyn menghilang dari pandangannya.


Evelyn menciumnya lagi.


Seketika wajah Alvin tampak memerah ketika mengingat ciuman yang Evelyn berikan padanya barusan.


Jika sebelumnya ciuman dilakukan saat gadis itu mabuk, lalu hari ini dia melakukannya lagi tapi dengan keadaan sadar.


Untuk sesaat Alvin menempelkan tangannya ke dada, mencoba mengatur detak jantung yang saat ini tengah berdetak sangat cepat.


Alvin terkekeh pelan. Ia menghembuskan napas panjang. Menepuk-nepuk kedua pipinya pelan sembari menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan dirinya yang sepertinya akan gila jika terus memikirkan hal ini.


"Sepertinya aku sudah gila," gumam Alvin masih terlihat tersipu.


Sementara itu, di sisi kanan Alvin, Karina tampak menaikkan sebelah alisnya menatap Alvin yang saat ini tampak tersipu di posisinya dan mendecih sinis.


Berani sekali Alvin tersenyum malu seperti itu sementara kepadanya Alvin selalu bicara ketus.


Padahal semasa ia dan Alvin masih menjalin kasih, Alvin selalu bersikap lembut padanya tak pernah satu kalipun bicara kasar.


'Dan kenapa juga dia bisa terlihat senang sekali hanya dengan ciuman konyol itu.' batin Karina, tampak kesal.


Karina ingat betul Alvin tak pernah bereaksi seperti itu saat Karina menciumnya.


Sekali lagi Karina melirik Alvin. Pemuda itu masih saja senyum-senyum sendiri di posisinya. Sial, hal itu membuat Karina merasa semakin kesal saja.


"Apa kau sangat menikmati ciuman yang dia berikan padamu tadi?" Karina tak tahan untuk menyindir Alvin.


Sindiran Karina itu berhasil membuat Alvin seketika tersadar. Ia menoleh kembali pada Karina yang berdiri di dekatnya dan sadar kalau Karina belum pergi. Bagaimana dia bisa lupa kalau Karina masih di sini?


"Padahal aku bisa melakukan lebih dari yang bisa dia lakukan." ujar Karina lagi.

__ADS_1


Gadis itu masih berdiri di dekat Alvin, melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah masam.


"Kenapa kau tak pernah meminta padaku saat kita masih menjalin hubungan dulu?" Karina menggedikkan bahunya sebelum dia duduk kembali ke sofa.


Alvin mengerutkan dahinya, "Meminta apa, maksudmu?"


"Ciuman."


"Apa?"


"Kalian berciuman. Dan itu membuatmu terlihat sangat senang." jelas Karina sinis.


Alvin hanya diam. Kedua matanya menatap heran pada Karina yang saat ini duduk santai di hadapannya.


"Saat kita masih menjalin hubungan dulu, kau bahkan tak pernah benar-benar mau melakukan apapun denganku. Meminta ciuman dariku saja tidak. Selalu aku yang melakukan lebih dulu. Tapi kau terlihat sangat menikmati saat dia yang melakukan padamu."


"Apa maksudmu. Kenapa kau bicara seolah aku begitu menginginkan ciuman itu. Kau lihat sendiri tadi, bukan aku yang lebih dulu menciumnya. Dan aku juga tak meminta Evelyn menciumku."


Sekali lagi. Harga diri Karina seolah baru saja di hancurkan karena sikap pilih kasih Alvin. Apa selama mereka pacaran, Alvin tak benar-benar bernafsu padanya?


"Apa dia sangat hebat di atas ranjang?" ujar Karina tajam. "Ck, kau bahkan selalu menolak saat kuajak tidur bersama dulu."


Seketika wajah Alvin mengeras saat mendengar pertanyaan itu. Tuduhan apa lagi yang ditujukan Karina padanya kali ini?


"Karina, jaga bicaramu!" Alvin bicara dengan nada agak tinggi. Ucapan Karina sungguh kurang ajar.


"Aku bicara apa adanya. Apalagi yang bisa membuatmu begitu tergila-gila padanya kalau bukan karena dia hebat di atas ranjang."


"Karina! Jangan katakan kalau aku tak memperingatkan dirimu untuk menjaga mulut!" Alvin menunjuk wajah Karina merasa semakin kesal saja pada gadis ini.


Alvin menghela. Apa gadis ini tak akan hidup kalau tak mengatai dirinya dengaj tuduhan macam-macam.

__ADS_1


Alvin menghela napas untuk mengatur emosinya.


"Dengar! Ini rumahku. Dan kau masih menginjakkan kakimu dirumahku. Aku bahkan bisa mengusirmu dengan kasar sekarang. Tapi aku masih berpikir kalau kau seorang wanita. Jadi belajarlah sedikit sopan santun."


Karina sedikit kaget saat Alvin membentaknya untuk yang kesekian kalinya. Ini dia salah satu perubahan yang Alvin tunjukkan saat mereka berpisah.


Jujur saja. Ia sendiri tidak yakin akan perasaannya. Kenapa ia harus sedih mendapat perlakuan dari Alvin?


Karina hanya bisa mendecih.


"Apa-apaan ini. Kau memintaku belajar sopan santun tapi kau lupa kalau gadis itu juga tak punya sopan santun. Dia menyiram wajahku dengan air. Kalau kau lupa!"


Alvin menghela frustasi.


"Sudah kukatakan sebelumnya. Apapun masalah kalian itu sama sekali bukan urusanku."


"Tentu saja itu urusanmu. Bukankah dia itu kekasihmu." ujar Karina membuat Alvin tersentak.


Alvin memejamkan matanya beberapa detik. Benar, Karina masih berpikir kalau Evelyn adalah kekasihnya.


"Dengar, Alvin. Aku hanya ingin mempertanyakan padamu, kenapa dulu kau-"


"Sampai kapan kau terus membahas masa lalu Karina?!" potong Alvin lelah.


"Sampai aku puas." balas Karina. "Ini karena kau memperlakukan dia dan aku secara berbeda. Dan aku tak suka melihatnya."


"Tapi bukankah kau melakukan hal yang lebih kejam padaku. Aku dan Steve. Kau membandingkan kami waktu itu. Kaya dan miskin. Itu katamu, kan? Lalu kenapa kau bisa memperlakukan aku dengan kejam sementara aku tak bisa?"


Karina terdiam beberapa detik setelah mendengarnya. Sementara Alvin menghela napasnya perlahan, menahan emosinya yang mulai memuncak.


Alvin lalu menggelengkan kepalanya. "Kau bahkan lupa dengan kelakuanmu sendiri, Karina?"

__ADS_1


***


__ADS_2