Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
39


__ADS_3

Sementara itu di ruang tamu, Alvin tampak berdiri dengan agak gelisah, menunggu Ziva.


Alvin menatap area sekitar ruang tamu mewah itu. Ia bertanya-tanya. Bagaimana bisa orang punya uang untuk membangun rumah semewah ini.


Perlu berapa puluh tahun bagi Alvin untuk sekedar membangun area ruang tamu saja. Alvin menggeleng. Untuk membayangkan saja mustahil baginya.


"Permisi, tapi siapa?"


Alvin menoleh untuk melihat siapa yang barusaja mengajaknya berbicara. Dan seorang perempuan paruh baya terlihat berdiri di dekatnya, menatapnya dengan ekspresi bertanya-tanya.


"Oh, maaf bu. Saya datang kesini untuk mengantarkan pemilik rumah ini."


"Mengantar Nona Evelyn? Oh, anda ini teman nona Evelyn, ya?"


"Saya? Bukan, saya ini pelayan klub malam. Saya diminta bantuan untuk mengantar nona Evelyn pulang."


"Oh, begitu. Anda mau minum dulu? Mau minum apa? Saya bisa sediakan." tanya perempuan itu lagi, memanggil pelayan lain, tampaknya dia adalah kepala pelayan di rumah ini.


Alvin menggeleng cepat. "Tidak, terima kasih. Saya juga akan pulang sebentar lagi."


Perempuan itu tersenyum dan mengangguk paham. Ia kemudian berlalu meninggalkan Alvin seorang diri di tempat itu.


Tak menunggu waktu lama, Ziva akhirnya muncul. Ia mendekati Alvin dengan senyum lega di wajahnya.

__ADS_1


"Terima kasih atas bantuannya. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana akhirnya kalau kau tidak muncul tadi. Ah, harusnya aku menahan kekasihku pergi lebih dulu tadi. Aku tidak menyangka kalau dia akan mabuk berat seperti itu. Dia tak pernah begini sebelumnya."


"Tidak masalah, aku hanya membantu." ujar Alvin dengan nada segan. "Sepertinya semua sudah beres." lanjutnya.


Ziva mengangguk setuju "Hm, aku sangat berterima kasih karena kau sudah bersedia membantuku. Oh ya, siapa namamu tadi. Maaf, aku tidak begitu ingat…"


"Namaku Alvin, nona." jawab Alvin sopan. "Kalau begitu aku akan pergi saja sekarang." ujar Alvin berpamitan.


"Baiklah. Tapi kau akan pulang menggunakan apa? Kau kan tadi kemari bersamaku. Ah, apa mau ku antar kembali ke klub malam?" tawar Ziva.


"Tidak perlu, nona." Alvin menggeleng pelan. "Ini sudah hampir subuh. Saya rasa sebaiknya nona jangan pulang subuh-subuh begini, akan sangat berbahaya bagi perempuan jika keluar pada jam segini."


Ziva terkekeh mendengar nasihat itu. Satu fakta yang Alvin tidak tahu kalau sebenarnya ia sudah terbiasa pulang pada jam-jam seperti ini. Namun Ziva tetap memilih untuk menjawabnya dengan anggukan kecil.


"Ya. Sekali lagi terima kasih." ujar Ziva.


Alvin sudah hendak beranjak pergi, namun langkahnya kembali terhenti. Ia berbalik dan menatap Ziva dengan senyuman.


"Oh ia satu lagi." ujar Alvin sambil merogoh kantong celananya. "Ini... ini adalah uang milik nona tadi."


Ziva menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Ini kan uang yang aku berikan padamu tadi. Kenapa malah di kembalikan?"

__ADS_1


Sebelumnya, saat di area parkir klub, Ziva memang sempat memberi Alvin uang sebagai tanda terima kasih atas bantuan.


Alvin tersenyum canggung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Kurasa aku harus mengembalikannya. Ini hanya bantuan kecil. Dan saya sukarela membantu tanpa bayaran."


"Tidak masalah, ambil saja." ujar Ziva. "Anggap saja, itu sebagai ucapan terima kasih dariku untukmu karena sudah membantuku tadi."


"Tapi-"


"Aku bilang ambil saja!" ujar Ziva tegas.


Alvin terpaksa mengangguk. "Baiklah. Terima kasih. Kalau begitu saya pergi dulu, nona..." ujarnya.


Ziva mengangguk lalu memperhatikan Alvin yang saat ini tengah melangkah pergi meninggalkan rumah Evelyn.


Pemuda itu bahkan sempat berpamitan pada satpam yang berjaga di dekat pintu gerbang sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.


Ziva tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Pemuda itu. Sekali lagi, Evelyn sudah membuatnya susah. Ah, aku membuat Evelyn harus berhutang maaf dan ucapan terima kasih padanya." ujar Ziva sambil tertawa kecil lalu masuk kedalam rumah Evelyn.


Dia memutuskan untuk menginap saja malam ini.

__ADS_1


***


__ADS_2