Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
43


__ADS_3

Alvin berjalan santai menuju gedung perpustakaan kampus. Ini sudah jam mata kuliah kedua tapi dosen yang mengajar tak hadir, alhasil ia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia akan mencari beberapa buku untuk referensi tugas kuliahnya.


Meskipun ini sudah jam mata kuliah kedua dan harusnya mahasiswa sudah masuk kelas namun masih ada sesekali mahasiswa yang lalu lalang.


Sepertinya mereka masih fokus mengerjakan kesibukan mereka sendiri. Beberapa dari mereka juga tampak duduk-duduk santai di koridor kampus.


"Tunggu dulu, Alvin." seru seseorang pada Alvin.


Alvin yang baru saja hendak mendorong pintu masuk perpustakaan sontak berhenti saat mendengar suara yang asing tepat di sebelahnya.


Begitu menoleh, ia melihat seorang gadis tampak berdiri tepat di hadapannya, tersenyum kemudian melambaikan tangan padanya.


Alis Alvin tampak berkerut untuk beberapa detik. Ia sama sekali tak mengenal siapa gadis itu. Bertemu saja baru kali ini. Tapi sepertinya gadis ini mengenal dirinya?


Beberapa detik selanjutnya Alvin mengerjapkan matanya. Ia tersadar dari lamunan kecilnya. Yah, meskipun tak mengenalnya, Alvin tetap memilih untuk membalas senyuman itu.


"Maaf, ada apa?" tanya Alvin masih tersenyum.


"Tunggu sebentar." Gadis cantik berambut panjang itu dengan cepat melangkah mendekati Alvin. "Aku mau bicara sesuatu."


Alvin mengangguk, "Apa ada yang dibutuhkan?"


"Tidak."


"Hah?"


Gadis itu tersenyum. "Tidak ada yang aku butuhkan."

__ADS_1


"Tidak ada?" Alvin menatap bingung. Kalau gadis ini tak butuh apapun dari dirinya, lantas kenapa memanggilnya tadi.


"Benar, tidak ada. Itu karena aku datang untuk memberikan sesuatu padamu."


"Memberikan sesuatu?"


Untuk beberapa detik Alvin melihat wajah Dave dan kembali menatap gadis itu dengan bingung.


"Hm, aku ingin memberikan bingkisan ini untukmu, Alvin." Gadis itu lalu mengangkat tangannya, menyodorkan paperbag yang sejak tadi ia bawa dengan kedua tangannya.


Alvin mengerjapkan kedua matanya. Untuk sejenak ia merasa bingung, menatap bingkisan di tangan gadis itu kemudian menunjuk dirinya sendiri.


"Ini untukku?"


"Benar."


"Tapi untuk apa?"


"Hadiah untukku? Tapi aku sedang tidak berulang tahun."


"Ini hadiah sebagai ucapan terima kasih."


"Memangnya aku melakukan apa?"


Gadis itu tersenyum malu. "Kau putus dengan Karina. Itu yang kau lakukan? Aku berterima kasih atas itu."


"Kau berterima kasih karena aku berpisah dengan Karina?" Alvin seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Maaf, aku tak bermaksud untuk tak sopan." gadis itu tersenyum canggung. "Tapi aku senang kau putus dengannya. Dia sama sekali tak cocok untukmu. Kau terlalu baik untuk wanita seperti Karina."


Alvin diam. Memilih tak bersuara. Bagaimana bisa ada orang yang tak kau kenal datang tiba-tiba dan mengatakan ia senang kau putus dengan kekasihmu.


"Apa kau tidak mau hadiahnya?" gadis itu bertanya dengan nada sedih karena Alvin tak kunjung menerima pemberiannya.


Alvin tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah gadis itu lalu tersenyum tipis. Tangannya terulur untuk meraih paperbag itu.


"Aku berterima kasih atas hadiahnya.."


"Sama-sama. Dan satu lagi. Bisakah aku mengatakan sesuatu padamu?"


Alvin mengangguk.


"Bisa."


Gadis itu menelan ludahnya kasar. "Aku hanya ingin bilang kalau aku-"


"Hei, Alvin."


Ucapan gadis itu terhenti saat seseorang berseru.


Alvin menoleh dan melihat Dave tengah melangkah mendekat padanya. Sementara senyum gadis itu memudar saat melihat kedatangan Dave. Ia perlahan mundur dari posisinya dan tersenyum canggung pada Dave.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


"Tapi kau bilang ingin mengatakan sesuatu tadi."

__ADS_1


"Lain kali saja. Dan juga, terima kasih karena sudah menerima hadiah pemberianku." ujar gadis itu buru-buru pamit pada Alvin dan berlalu pergi.


***


__ADS_2