Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
97


__ADS_3

"Sejak tadi aku menyuruhmu mendekat. Tapi kau tidak mau mendekat juga. Jadi biarkan aku yangmendekatimu."


Monika tersenyum nakal lalu bergerak maju, mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat pada Alvin.


Sementara Alvin yang ditatap dengan jarak sedekat itu merasa terkejut bukan main. Ia buru-buru memundurkan wajahnya karena merasa risih.


Alvin tampak menggeser duduknya agak menjauh dari Monika namun gadis itu malah ikut bergeser, mencoba untuk lebih mendekat lagi pada Alvin.


"Nona."


"Hm?"


"Maaf, tapi bukankah jarak ini terlalu dekat?"


"Lupakan tentang jarak duduk kita." ujar Monika, matanya masih tetap menatap Alvin lekat-lekat.


"Nona, tapi anda-"


"Barusan aku bertanya padamu tentang ciuman. Bukankah kau bilang kau belum pernah berciuman. Lalu, apa kau mau coba denganku?" bisik Monika menatap Alvin tanpa rasa malu sedikitpun.


Seketika saja Alvin langsung membulat, menatap gadis itu dengan raut tak percaya.


Bagaimana tidak, gadis itu baru saja mengajaknya berc!uman dengan cara yang terlampau santai.


"Aku akan membantumu mencobanya." ujar Monika lagi semakin mendekatkan wajahnya pada Alvin.


"Nona, apa yang anda lakukan?" Alvin berujar sembari memundurkan wajahnya, merasa gugup karena Monika mendekatkan wajahnya pada dirinya.


"Apa yang kulakukan? Ck, ayolah Alvin, aku hanya mencoba mengajakmu bersenang-senang."


"Tidak harus begini caranya, nona."


"Lantas? Menurutmu, hal seperti apa yang akan lebih menyenangkan daripada ini? Ayolah Alvin, dengan cara ini, kau bisa menyenangkan aku dan aku bisa menyenangkanmu. Banyak pria menginginkanku dan aku yakin kau juga menginginkanku."


Alvin menggelengkan kepalanya. Tak menyangka hal semacam ini bisa terjadi.


Monika awalnya hanya menawari dirinya untuk mengobrol, tapi kenapa berakhir dengan hal tak sononoh begini. Ini jelas hal gila dan tidak seharusnya Alvin ada di sini sejak awal.


"Nona, sepertinya saya harus pergi sekarang."

__ADS_1


Belum juga Alvin mencoba bangkit, Monika sudah menarik bahu dan meraih pergelangan tangannya.


"Kau mau kemana?! Tetaplah di sini!" perintah Monika.


"Tidak nona, saya rasa lebih baik saya pergi saja dari sini sekarang." Alvin melepaskan pegangan Monika pada pergelangan tangannya.


Alvin bisa melakukannya dengan lebih kasar. Tapi Alvin ingat kalau Monika adalah pelanggan penting. Ia tak mau membuat nama klub tempatnya bekerja jadi buruk.


Dengan cepat Alvin bangkit dari duduknya hendak pergi. Monika tampak tak terima, ia menggertakkan giginya dan ikut bangkit dari duduknya.


"Aku bilang tetap disini!" ujar Monika dengan nada kesal, menahan lengan Alvin.


Dan tiba-tiba saja gadis itu mendorong tubuh Alvin dengan kasar hingga kembali terduduk di sofa panjang. Hal itu membuat Alvin tampak meringis kesakitan sambil memegangi bahunya yang terasa nyeri karena menghantam sandaran sofa.


Monika menindih tubuh Alvin, mencoba untuk menjepit tubuh pemuda itu ke sandaran sofa.


"Bersikap baiklah dan menurut padaku!" ujar Monika, berbisik di dekat telinga Alvin.


Alvin kini bisa melihat tatapan di mata gadis itu sudah berbeda dari sebelumnya, seperti dipenuhi tatapan nafsu.


'Ada apa dengan gadis ini' pikir Alvin. Ia menatap gadis itu dengan pandangan gugup.


"Bagaimana? Kau mau menyenangkan aku?" tanya Monika dengan senyum sinisnya.


Tunggu dulu, apakah sejak tadi Monika berpikir kalau Alvin ini adalah seorang gigólo yang akan setuju untuk melayaninya.


"Nona, anda salah paham. Saya ini bukanlah seperti yang anda pikirkan."


"Benarkah?" bisik Monika lagi, membuat Alvin merinding ngeri.


"Bukannya anda tadi mengatakan kalau anda ingin mengobrol, jadi-"


Alvin tak mendapat kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba saja Monika menarik tengkuk dan mencium bibirnya.


Untuk beberapa detik, Alvin seolah tak bisa memproses apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat. Entah Monika yang terlalu gesit atau Alvin yang terlalu bodoh untuk bertindak cepat.


Kedua mata Alvin membulat saat ia menyadari apa yang terjadi. Ia hendak mendorong Monika mundur, tapi gadis itu malah semakin menekan tengkuknya.


"Ugh!" Alvin meringis saat Monika menggigit bibirnya.

__ADS_1


Alvin dengan cepat mendorong bahu Monika sampai c!uman mereka terlepas. Dengan cepat Alvin mengatur napas karena c!uman ganas Monika membuatnya kehabisan napas.


"Apa yang anda lakukan?" ucap Alvin begitu c!uman mereka terlepas. Alvin mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan menatap Monika tajam.


"Bibirmu manis," ujar Monika lembut, namun terdengar licik. "Aku ingin lagi."


Monika sudah hampir menarik tengkuk Alvin lagi sampai Alvin bangkit dari duduknya dan menjauh.


"Nona, ini keterlaluan." pekik Alvin.


Monika hanya diam menatap Alvin sebelum kemudian mendecih sinis.


"Ada apa? Kupikir kau akan menyukainya."


"Apa?"


"Ayolah Alvin, kau tidak perlu munafik. Aku tau kau menyukai cîumannya, kan? Akui saja."


Alvin menggelengkan kepalanya. Menatap tak percaya pada Monika.


"Maaf nona, saya rasa anda salah paham. Saya di sini untuk bekerja sebagai pelayan. Pekerjaan utama saya adalah mengantar pesanan minuman untuk pengunjung. Bukan melayani hal yang lain, seperti saat ini."


Alvin kemudian berbalik menuju pintu. Saat ini ia merasa kurang nyaman dengan situasi yang terjadi dan memutuskan untuk pergi saja.


Melihat Alvin yang melangkah pergi membuat Monika merasa kesal.


"Kau mau kemana, hah?"


Alvin menghentikan langkahnya tapi tak berbalik untuk menatap Monika. "Sepertinya banyak pesanan yang belum di antar. Jadi, saya harus pergi. Permisi."


"Tunggu dulu. Kau pikir kau siapa sehingga bisa menolakku."


Alvin mendengar seruan itu. Tapi seolah tak peduli, ia mempercepat langkahnya, meninggalkan gadis itu.


***


Note :


Bab 92-102, saya revisi. Trm

__ADS_1


__ADS_2